//
you're reading...
Cerita

RAHASIA KEHIDUPAN

Perhatikanlah apa yang ada pada diri kita dan segala hal yang ada di sekelilingmu. Jika engkau melihat lebih dalam dan tidak hanya sebatas permukaan, tentu saja engkau akan mendapatkan pelajaran berharga dari segala sesuatu yang ada di sekelilingmu, dari kejadian yang menimpamu dan segala hal yang tidak luput dari penglihatanmu.

Pernahkah engkau berpikir mengapakah kau ada di dunia ini? Tidak ada siapa pun yang bisa menawar pada Tuhan apakah dia ingin dilahirkan ke dunia ataukah tidak mau lahir ke dunia. Semuanya berjalan secara alami dan tidak bisa dipungkiri. Semuanya berjalan atas Takdir Tuhan, Allah Ta’ala. Kehidupan terlihat di sekeliling kita takkan bisa kita nikmati jika kita tidak diberi kesempatan untuk hidup, merasakan, mencicipi dan menikmati keindahan hidup ini. Jadi hidup dan kehidupan ini merupakan sebuah anugerah.

Namun tidak semua orang meyakini bahwa hidup ini adalah anugerah sekaligus amanah. Ada kelompok orang yang menyesali mengapa dia dilahirkan ke dunia ini. Mereka menyesal berada di dunia karena terlalu banyak penderitaan yang mereka rasakan. Mereka menganggap ujian sebagai siksaan yang makin menguatkan mereka untuk tidak mau melanjutkan hidup. Ada lagi diantara manusia yang merasa hidupnya tidak bermakna. Karena ketidakbermaknaan itulah akhirnya mereka mengakhiri hidup ini dengan mati mati konyol dengan melakukan bunuh diri. Kemudian ada juga orang yang menganggap bahwa hidup ini harus dinikmati sepuas-puasnya tanpa memperhatikan segala hal di kanan-kirinya. Mereka berprinsip yang penting gue happy. Barangkali mereka tidak menyadari bahwa kesenangan yang mereka rasakan hanya pada detik itu, selanjutnya mereka tidak memikirkan apakah kesenangan itu akan abadi. Inilah kelompok orang yang memiliki pikiran pendek dan sempit alias tidak mempunyai visi yang jelas dalam menjalani hidup.

Sahabat, bagi kita sebagai seorang muslim, pemahaman akan hidup mesti merujuk kepada ajaran yang kita yakini, yakni Al-Islam. Islam merupakan akar dari keyakinan kita. Pemahaman akan segala hal harus kita kaitan dengan Islam yang menjadi landasan kita dalam berucap, berpikir dan bertindak. Begitupun dengan konsep hidup manusia, seperti apakah Islam memandang hidup manusia.

Akidah Islam mengajarkan pada kita bahwa hidup manusia merupakan suatu rahasia Allah SWT. Tidak ada siapa pun yang mengetahui kecuali Dia akan batas umur manusia. Uniknya batas hidup manusia tidak mengenal tua-muda, laki-laki-wanita, atau miskin dan kaya. Semua mahkluk bernyawa pasti akan mengalami kematian yang sudah ditentukan oleh-Nya tanpa sepengetahuan makhluk itu sendiri. Eksistensi alam semesta pun tidak ada yang mengetahui batasan umurnya kecuali Dia. Bukankah Allah sudah jelas dalam beberapa ayatnya menyebutkan bahwa jika ajal (kematian) itu datang, maka ajal tersebut tidak bisa diawalkan atau diakhirkan, artinya mutlak tidak dapat digugat untuk dibuat lebih cepat atau ditangguhkan.

Hidup merupakan modal yang Allah berikan pada manusia untuk mengabdi pada-Nya dengan karya-karya nyata spektakuler, yang mampu mengubah arah dunia ini ke arah yang lebih baik. Bagi seorang muslim berkarya merupakan bagian dari ibadah dan salah satu bentuk bersyukur akan anugerah hidup yang dirasakannnya. Seorang muslim tentu menyadari bahwa tugasnya dilahirkan ke dunia adalah untuk beribadah dan syukur merupakan perintah yang mesti dia lakukan agar Sang Khalik memberikan anugerah yang lebih dari yang telah ia dapatkan.

Dalam sebuah ayat-Nya Allah memfirmankan bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Nya. Dalam Allah juga berfirman bahwa sesungguhnya jika manusia bersyukur, maka sungguh  Dia akan menambahnya. Akan tetapi jika manusia mengingkari nikmat Allah, maka sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih.

Berbagai sudut pandang orang akan hidup tergantung pada keyakinan (akidah) yang diyakini dan informasi yang membentuk pemahaman-pemahamannya akan hidup. Pada akhirnya keyakinan dan pemahamannya ini akan termanifestasikan dalam aktivitasnya sehari-hari. Keabsahan akan keyakinan dan pemahamannya itu akan teruji manakala dia merasakan keseimbangan dan kenyamanan dalam hidupnya. Tentu saja keseimbangan dan kenyamanan hidup ini tidak dipandang dari aspek materi/fisik seperti kekayaan dan harta benda, meskipun yang satu ini menjadi salah salah satu indikator. Kenyamanan dan keseimbangan ini bisa terlihat dalam aspek psikologis, ruhiyah/transendetal, sosial, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Apabila dia tidak merasakan keseimbangan, konflik, kegoncangan, dan kejanggalan berarti dia harus kembali merevisi ulang keyakinan dan pemahamannya. Jika dianalogikan pada laptop atau komputer, dia harus meng-up grade program-program, artinya dia harus mencari, menimbang ulang, memahami dengan jernih mengup-grade, dan menginstall lagi keyakinan-keyakinan dan pemahaman yang jitu ke dalam untuk mendapatkan keseimbangan dalam hidupnya.

Setelah kita telah mendapatkan pemahaman yang shahih mengenai hidup sesuai dengan akidah yang kita yakini, tahapan yang berikutnya adalah kita realisasikan dalam kehidupan yang sebenarnya. Hidup kita tidak akan terlepas dari kehidupan orang lain dan lingkungan di sekitar kita, baik itu lingkungan yang kasat mata maupun yang tidak terlihat oleh mata telanjang kita.

Secara global, interaksi kita dengan segala hal yang berada di luar diri kita adalah dua macam, yakni interaksi manusia dengan Sang Pencipta (hablumminallah) yang sifatnya vertikal, dan interaksi manusia dengan sesama (hablumminannaas) yang sifatnya horizontal, termasuk dengan sesama makhluk Allah yang lain. Jika kita ingin mendapatkan keseimbangan dan ketenangan dalam hidup maka perbaikilah kedua macam relasi dan interaksi itu. Boleh jadi Allah  memberikan ujian berupa berbagai macam kesulitan dalam hidup karena ada salah satu dari dua macam relasi atau barang dua-duanya yang bermasalah, sehingga Allah bermaksud memberikan ujian pada kita agar kita memperbaiki kedua relasi itu.

Dalam sebuah ayat Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada Tali Allah (Wa’tashimuu bihablillah), artinya kita menjalin relasi yang erat melalui sebuah ketaatan dan penghambaan yang dilakukan karena-Nya. Kemudian kalimat berikutnya adalah kita diperintahkan untuk menjalin relasi yang harmonis dengan sesama manusia, jangan berpecah belah dan bermusuhan (walaa tafaraquu). Sungguh betapa penting kedua jalinan relasi. Bahkan, ada yang lebih menakjubkan selain kedua hal itu. Terlebih terhadap sesama, terhadap makhluk yang derajatnya berada di bawah manusia seperti hewan dan tumbuhan, ajaran Islam memberikan tuntunan yang demikian agung.

Karena itu, siapa pun anda, jika Anda ingin mendapatkan keseimbangan dan  ketenangan hidup maka, perbaikilah relasi dengan Allah (vertikal transendental) dan relasi dengan sesama manusia (horizontal sosial). Untuk bisa mencapai itu kita harus belajar mengembangkan dan mengasah kecerdasan spiritual dan emosional.


About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930