//
you're reading...
Cerita

IMPIAN EMAK

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya bukanlah orang penting seperti para pejabat dan artis terkenal yang sering muncul di televisi. Saya hanyalah seorang wanita tua yang tinggal di sebuah desa terpencil. Kegiatan saya yang utama hanya dua: rumah dan sawah. Dua pekerjaan ini sudah biasa dilakukan oleh para wanita desa. Penampilan saya sudah sedikit tua dari usia yang sebenarnya. Bahkan jika dibandingkan dengan kakak saya, Uwak Haji, dia jauh lebih muda. Badan saya kurus, sedangkan badan dia gemuk. Dia sudah hidup enak karena anak-anaknya sudah menyenangkan hidupnya. Sekarang saya sedang sibuk di dapur. Nasi sudah matang. Lauk pauk nanti saya mau beli yang sudah jadi saja di Pasar Selasa setelah memandikan Bapak. Sudah sebulan lebih Bapak mandi denggan air hangat. Semenjak terjatuh di sungai, dia belum bisa kemana-mana. Makan dan mengenakan pakaian harus dibantu. Seluruh badannya masih kaku dan lemas. Saya menuangkan air hangat dari seeng ke ember. Lalu saya menyimpannya di belakang rumah. Saya bimbing bapak ke belakang rumah. Ini saya lakukan sendiri. Jika si bungsu atau si pangais bungsu pulang, salah satunya biasanya suka membantu memandikan. Tapi mereka tidak bisa tinggal lama-lama di kampung karena sibuk dengan urusan kuliahnya. Saya buka pakaian bapak. Saya sabuni badannya dan rambutnya dicuci dengan memakai shampo. Selama sebulan lebih, dia sedikit terlihat gemuk. Kulitnya pun terlihat putih karena tidak pernah berpanas-panasan di sawah. “Mak, saya malu padamu. Saya terus-terusan merepotkanmu,” ucap bapak. Saya diam saja. Saya tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan. “Kalau saja musibah ini menimpa padamu, saya tidak akan sanggup mengurusmu setelaten ini. Bapak lihat, emak tidak pernah ada istirahatnya. Pulang dari sawah, di rumah tidak pernah diam. Bapak tidak tega melihatmu bekerja sendirian. Domba-domba lebih baik dijual saja. Nanti kalau Bapak sudah sehat, kita bisa beli lagi.” Saya membilas tubuh dan rambutnya. Dia protes dan mengomel karena matanya perih terkena busa shampo. Saya cepat-cepat membersihkan matanya. Begitulah sifatnya. Diberi musibah oleh Gusti Allah, dia selalu mengomel. “Tidak usah, Pak. Saya masih sanggup melakukan semuanya. Kalau dijual pun harganya tidak seberapa karena masih kecil-kecil. Lebih baik capek Pak, asal ada simpanan jika sewaktu-waktu si bungsu dan pangais bungsu pulang membutuhkan biaya. Kalau dijual uangnya akan cepat habis.” “Ya terserah Emak saja. Bapak mah teu walakaya . Apa pun yang Emak lakukan, saya percaya itu adalah untuk kebaikan keluarga.” “Saya mohon bapak jangan terlalu sering bilang minta maaf. Saya tidak suka mendengar itu. Ini adalah musibah. Ini cobaan dari Gusti Allah. Kita tidak pernah menginginkan kemalangan menimpa kita, tapi jika Allah sudah memutuskan kita tidak akan pernah mampu menolaknya. Ini musibah dari gusti Allah. Kata Pak Kiyai sewaktu Emak ikut pengajian Jum’atan, orang yang ditimpa sakit kemudian dia bersabar, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya.” Bapak mengenakan handuk. Lalu berwudhu meskipun belum sempurna. Saya Bantu menyempurnakan bagian-bagian anggota wudhu yang tidak terbasuh olehnya seperti pada bagian sikut dan mata kaki. Aku membimbingnya melangkah ke rumah. Dia berjalan masih bungkuk. Punggungnya memang adalah bagian tubuh yang paling parah setelah kepala. Dia jatuh ke sungai dengan posisi kepala terlebih dahulu menimpa batu-batu sungai. Lalu punggungnya menghantam bebatuan. “Pak, musibah ini adalah ladang amal bagi saya untuk berbakti kepada suami. Mudah-mudahan saya ikhlas melakukan segalanya untuk bapak.” “Terima kasih, Mak. Engkau memang istri yang paling baik. Ini bukan musibah pertama kali. Dari dulu hingga sekarang, baktimu pada suami tidak pernah berubah.” *** Saya menyimpan perbekalan di saung . Saya melangkah dengan membawa karung dan sabit. Rumput hijau liar di pematang sawah di sekitar saung saya sabit dan sedikit demi sedikit saya masukkan ke karung. Sambil menyabit, pikiran saya menerawang ke sana kemari memikirkan perjalanan hidup tujuh orang anak. Anak cikal. Si cikal sudah tiga kali menikah dan dikaruniai dua orang anak. Namun pernikahannya tidak kunjung bahagia. Pernikahan pertama dengan seorang lelaki Jawa. Setelah cerai, lelaki itu tidak pernah memberikan nafkah pada anaknya. Pernikahan kedua dengan lelaki dari kota yang sudah beristri. Lelaki itu tidak menafkahi bertahun-tahun meskipun sudah terikat dengan satu anak, si Nur. Dia lebih memilih istri tuanya. Untuk bisa menghidupi kedua anaknya di berangkat ke Malaysia. Dia merasa terhina jika terus-terus menjadi pembantu. Akhirnya dia menikah dengan duda di kampung ini. Duda itu banyak anaknya. Lalu si Nur tidak mau diajak pindah dan tidak pernah menerima keberadaannya sebagai ayah baru. Pernikahannya terkatung-katung. Si cikal minta cerai, tetapi suaminya tetap tidak akan menceraikan. Anak kedua, dia beranak tiga. Pada awalnya usaha suaminya ke kota maju. Tapi ke sininya usahanya bangkrut di saat sudah beranak tiga. Ketiga anaknya kini serba kekurangan. Anak pertama hanya bisa sekolah sampai SMP. Pekerjaan suaminya yang menjadi buruh bangunan tidak tetap tidak cukup memenuhi kebutuhan mereka. Anak ketiga. Dia menikah dua kali. pernikahan pertama gagal karena istrinya menuduhnya selingkuh saat dia berada di Malaysia. Pulang ke Indonesia mengalami depresi berat. Istrinya meminta cerai meskipun anak ketiga masih mencintainya. Lalu dia menikah lagi dengan seorang janda. Sayang, istrinya ini agak tuli sehingga komunikasi sedikit terhambat. Usahanya cukup maju, tapi dia tidak bisa hidup hemat. Anak keempat, anak lelaki ini berada jauh di seberang, daerah Bangka Belitung. Dia ikut ke kampung halaman istrinya. Katanya dia bekerja sebagai tukang lelang ikan di pantai. Waktu bapak sakit, dia tidak bisa pulang. Dia malah mentransfer uangnya untuk keperluan pengobatan bapak. Sudah dua lebaran dia tidak pulang. Anak kelima. Dia menikah dengan lelaki sekampung. Sudah punya dua anak. Sayang suaminya tidak bisa diajak hidup berumah tangga dengan baik. Suaminya bekerja dikota, tetapi sering disibukkan dengan urusan judi. Jika di rumah suaminya suka malas-malasan di saat istri sibuk berbisnis jual-beli padi dengan Bandar. Pangais bungsu. Putraku ini ingin jadi seorang yang ahli agama. Dia kuliah di Bandung. Dia dikasih bekal serba kurang dan dia tidak pernah protes. Dia pernah bilang ingin jadi tukang dongeng. Saya tidak mengerti apa jadi tukang dongeng itu banyak uangnya. Ah saya percaya saja sama dia dan mendoakan semoga apa yang dia inginkan segera terlaksana. Saya sangat paham dia ingin merubah keadaan keluarga yang serba susah ini. Si bungsu. dia kuliah di Majalengka. Dia juga dikasih bekal serba kurang. Tapi dia tidak pernah menuntut. Malah dia memohon doa agar bisa menikah secepatnya supaya bisa meringankan beban keluarga. Lelaki yang dicintainya masih guru honorer. Lelaki itu belum juga datang ke rumah untuk melamar si bungsu. Si bungsu sudah terlalu lama menunggu, sampai suatu saat dia pernah berkata kalau saja ada yang mengajaknya menikah dia akan segera mengiyakan. Dia ingin membahagiakan orang tua. Srekk! Srekk! “Auww! Innalillahi … Astaghfirullah …” Berulang kali saya sering mengalami hal ini. Beginilah akibatnya jika bekerja sambil melamun. Saya segera memetik daun babadotan untuk menahan agar darah tidak terus-terusan keluar. Karung ternyata belum penuh. Sementara adzan sudah berkumandang. Saya melangkah ke sebelah barat saung untuk memenuhi karung dengan rumput gagajahan . Saya segera simpan karung yang sudah penuh di samping kandang domba. Sambil istirahat saya buka perbekalan. Kemudian saya shalat dzuhur.

***

Langit terlihat mendung. Masih ada yang harus saya lakukan. Sudah seminggu, saya tidak melihat-lihat kebun cabe rawit. Saat ini harganya sedang melambung. Mudah-mudahan saya dapat memetik sekitar satu kiloan, lumayan buat ditukarkan ke lauk pauk. Sekalian juga saya akan mengambil daun pisang. Ada tukang warung yang memesan. Biasanya daun pisang itu suka ditukar dengan baso, gehu, atau bala-bala. Saya harus cepat-cepat sebelum hujan turun. Saya dahulukan mengambil daun pisang. Setelah dianggap cukup saya baru mulai memetik cabe. Ketika wadah plastik yang dipakai untuk menyimpan hasil petikan baru setengahnya, mendung di langit makin hitam. Saya makin cepat menggerakkan tangan saat memetik cabe. Gelegarrr! Dar!! Saya terkejut. Hari sudah gelap. Hujan turun dengan deras. Daripada basah kuyup, saya segera pulang ke saung. Ternyata menunggu hujan reda, hujan malah makin deras. Saya yakin waktu ashar sudah tiba, saya pun shalat di saung. Biasanya saya shalat di rumah setelah membersihkan badan. Tapi sepertinya hal ini tidak mungkin dilakukan sekarang, kuatir malah waktu asar habis. Menunggu benar-benar membosankan. Suasana malah bertambah gelap. Saya tidak mungkin diam saja di tempat ini. Di rumah tidak ada yang masak. Kasihan bapak belum makan. Saya pun akhirnya memaksakan diri menerobos hujan yang deras. Saya susuri pematang yang berundak dan licin. Berjalan pun harus hati-hati. Saya menginjak pematang yang erosi. Hampir saja akan terjatuh. Alhamdulillah, saya masih bisa menyeimbangkan badan sehingga tidak terjatuh. “Mak … Mak!” Suara itu terdengar dari sawah di bagian atas. Kedengarannya seperti suara Nur. Anak itu mungkin membawa payung. “Innalillahi …” Kaki saya terpeleset waktu menyeberangi selokan. Tanahnya memang licin. Air selokan yang deras menghanyutkan badan saya beberapa meter. Saya berusaha keras melawan arus air dan berusaha naik ke tepi selokan. Tapi cukup kesulitan karena kaki dan tangan yang sakit. Hujan masih deras dan halilintar menggelegar beberapa kali. Saya lihat Nur dari kejauhan mengenakan payung. Dia juga memegang satu payung lagi yang masih tertutup. Saya melambai-lambaikan tangan padanya sambil berteriak, “Nur, bantu emak cepatan!” Nur berlari menghampiri saya. Dia segera menarik lengan saya untuk bisa sampai ke tepi selokan. Alhmadulillah, jika saja tidak ada Nur, tak ada satu orang pun yang membantu saya. Rupanya Gusti Allah masih menunjukkan Maha Rahman dan Rahim-Nya. *** Udara dingin dini hari menusuk tulang. Adzan awal berkumandang dari masjid. Saya sangat malas untuk bangun. Tidur saya tidak nyenyak karena batuk kering. Batuk ini membuat perut terasa sangat sakit. Badan terasa sangat sakit akibat terpeleset kemarin. Saya lihat Bapak terbangun. “Mak, saya ingin belajar shalat tahajjud …” Kata-kata itu terdengar sangat baru. Saya memuji Gusti Allah berulang kali. Allah telah memberikan hidayah pada bapak. Walau pun saya masih sangat mengantuk, saya lawan rasa kantuk itu. Saya membantunya berwudhu. Kami sama-sama melaksanakan shalat tahajjud dan shalat witir sebanyak sebelas rakaat. Saya lantunkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Saya adukan semua kesulitan hidup yang dihadapi keluarga ini. Gusti Allah dengan Asma-Mu yang agung, kabulkanlah doa –doa yang kami panjatkan. Mudahkanlah urusan keluarga ini. Tunjukkanlah jalan dari setiap permasalahan yang Engkau berikan pada kami. Kami tidak menguasai diri kami. Nafas ini, pendengaran, penglihatan, dan semua yang ada pada kami adalah milik-Mu. Permasalahan yang kami hadapi hakikatnya bukan kami yang memiliki. Semuanya berasal dari-Mu dan akan kembali pada-Mu. Gusti Allah Yaa Rabbul Izzati, kabulkanlah permohonan kami. Kabulkanlah permohonan kami. Kabulkanlah permohonan kami. Amin …

***

Bapak terlihat sudah tertidur lelap. Syukurlah. Baru kali ini saya mendengar dengkurannya. Selama sakit dia tidak pernah tidur nyenyak. Tidurnya selalu berubah-berubah posisi ke kanan dan ke kiri antara satu jam atau setengah jam. Saya menggelar kasur di lantai papan di samping bapak. Meskipun belum terlalu malam, saya sudah mengantuk karena terlalu capek. Malam ini saya tidak nonton televisi karena sudah menjadi kebiasaan kalau menonton televisi pasti mengantuk. Anak dan cucu suka menertawakan. “Mak, nonton teh sok nundutan. Jangan maksain atuh! ” si Nur, cucu kedua dari anak pertama sering protes seperti itu jika dia melihat aku menonton sambil mengantuk. Pikiran saya berada antara sadar dan tidak sadar. Saya baringkan tubuh sambil berdoa, membaca surat Al-Fatihah, falaq-binnas, al-Ikhlas, dan ayat kursi. Saya terperanjat dan langsung membuka mata, saat pintu digedor-gedor dengan keras. “Mak … Mak … cepat buka pintunya, Mak!” Si Nur berteriak dengan suara keras. Cepat-cepat aku membukakan pintu yang dikunci. “Shuuut!!! Jangan keras-keras Bapak lagi istirahat, Nur.” Si Nur tidak mempedulikan kata-kata saya. Dia malah seperti disuruh, mengatakan dengan keras ada acara seru di televisi. Dia memaksaku untuk menonton. “Waalaikum salam … kamu ini, datang-datang harusnya ucapkan dulu salam, eh malah nyerocos saja.” “Iya … iya … Mak. Assalamu alaikum! Sudah sekarang Emak ikut saya. Ada acara seru. Emak harus nonton.” Saya tidak sempat lagi bicara. Nur menarik-narik tangan saya. Dia berjalan sangat cepat. Dua menit kemudian, kami sampai di rumah anak yang ke-3. anak dan cucu tumplek di sana. Mereka menonton sangat khusyu. Saya duduk dan mulai memperhatikan kotak bergambar itu. “Siapakah yang menginspirasi Anda untuk menulis novel berjudul ‘Nyanyian Ibu’ ini?” “Inspirasinya adalah ibu saya sendiri. Saya begitu mengaguminya karena beliau adalah perempuan yang kuat, tegar, dan sangat menyayangi anak-anak.’ “Berarti tokoh utama dalam novel ini yang bernama Mak Sumi adalah ibu anda sendiri.” Lelaki muda yang saya kenal itu menganggukkan kepala. Saya takjub melihat Asep, anak pangais bungsuku bisa tampil di televisi. Dia terlihat sungguh tampan. “Seberapa dekatkah Anda dengan sang Ibu?” “Wah sangat dekat sekali. Beliaulah yang banyak mengajari saya banyak hal dalam kehidupan ini. Pokoknya beliau satu-satunya perempuan yang paling berpengaruh dalam hidup saya saat ini.” “Luar bisa. Kita berikan tepuk tangan untuk sastrawan muda ini.” Pemirsa di studio memberikan tepuk tangan dengan meriah. Anak dan cucu di samping saya juga ikut tepuk tangan dengan wajah-wajah yang ceria. “Pemirsa sekalian. Novelis muda ini ternyata masih kuliah. Dia sekarang sedang semester akhir. Bagaimanakah dia bisa memanaj kuliah dan berkarir dalam bidang sastra. Tetap ikuti acara ini setelah pariwara berikut ini.” Biasanya anak-anak memindahkan ke stasiun televisi yang lain jika sedang iklan. Tapi kali ini mereka tidak memindahkannya. “Mengapa Anda memilih berkarir di dunia menulis meskipun sekarang belum selesai kuliah,” ucap pembawa acara lima menit kemudian. “Pertama, karena terdesak kebutuhan. Saya berasal dari keluarga besar yang serba kekurangan. Saya tidak ingin terus-terusan membebani ibu saya. Maka saya pun mulai menggeluti hobi saya sejak SMA, yaitu menulis. Saya tekuni hobi itu meskipun setiap kali mengirimkan karya, tidak ada satu pun yang terbit. Barulah di semester delapan, tulisan saya dilirik sebuah penerbit. Alhamdulillah respon pembaca sangat bagus. Tiap bulan, buku ini cetak ulang.” Pemirsa memberikan tepuk tangan. Saya benar-beanr terharu. Pengakuannya sangat jujur. Dia memang jarang pulang meminta bekal dan jika diberikan lima puluh ribu pun saat pulang tidak pernah protes. Bahkan ketika pulang, dia malah membagi-bagi uang jajan kepada tujuh orang keponakannya. Saya yakin uang lima puluh ribu rupiah tidak akan cukup untuk sebulan. Tetapi saya tidak habis pikir dia sangat pandai mengatur keuangan. Saya baru tahu, inilah usaha yang sering dia ceritakan pada saya sewaktu pulang. “Barangkali keluarga Anda, ibu dan bapak anda saat ini sedang menyaksikan acara ini. Ada sesuatu yang ingi anda sampaikan?” Saya melihat Asep memejamkan mata. Apakah gerangan yang ingin dia sampaikan? “Untuk emak tercinta saya ingin menyampaikan sebait puisi, Jika belum pernah Kau dengar ucapan terima kasihku Ketahuilah doaku ini Moga Tuhan menyayangimu Seperti mana kau mengasihiku Dari dulu hingga kini untuk selama-lamanya ” Tepuk tangan pemirsa sangat meriah. Sebagian pemirsa perempuan menyeka sudut matanya dengan tissue. “Untuk bapak saya. Maafkan saya, Pak. Saya belum bisa menemanimu dalam kondisi-kondisi yang sulit. Saya yakin Engkau akan sehat seperti dulu lagi karena bapak adalah sosok ayah yang kuat dan lebih mementingkan kebahagiaan anak-anaknya.” “Luar biasa! Anda begitu menyayangi keluarga. Ini tergambar dari ucapan dan kata-kata yang tertuang dalam novel ini. Pemirsa, jika anda belum membaca novel ini, sungguh sayang sekali. Makanya buruan beli di took-toko buku terdekat di kota Anda. He … he … saya jadi mempromosikan. Wah nanti dapat komisi nih!” Pemirsa di studio tertawa. Begitupun saya lihat di pangais bungsu tertawa lepas. Dia berkata, “Ini promosi nasional. Makasih banyak atas promosinya.” “Pemirsa, di penghujung acara ini, kita akan dengarkan suara merdu dari novelis kita ini. Anda tentu tidak percaya jika tidak menyaksikan sendiri bahwa ternyata dia juga punya suara yang cukup bagus. Marilah kita saksikan penampilannya.” Putraku berdiri dan melangkah ke tengah pentas. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan kepada pemirsa. “Saya persembahkan lagu dari sang maestro ini untuk Emak tercinta, keluarga, pemirsa semuanya, dan seluruh kaum ibu yang menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Inilah lagu ‘ibu’.” Tepuk tangan sungguh meriah. Musik mengalun dan menyentuh perasaan. Saya sangat bahagia dan tak kuat menahan air mata. Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintangan untuk aku anakmu Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah Seperti udara kasih yang engkau berikan Tak sanggup kumembalas Ibu … ibu

Sadawangi, 6 Juli 2010

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930