//
you're reading...
Cerita

DEMI DUA PERMATA


Tini mengukur badan seorang perempuan muda. Dia menuliskan ukuran-ukuran itu pada buku catatannya. Usai diukur kedua perempuan itu duduk berhadapan.

”Ya mungkin itu aja Teh? Kira-kira bisa diambil kapan ya?”

Tini tersenyum. Dia mengarahkan pandangannya ke langit-langit. Pikirannya menghitung kapan pakaian yang akan dibuatnya itu selesai.

”Paling cepat satu minggu. Itu jika tidak ada pelanggan lain yang minta dibuatkan. Paling telat Neng bisa mengambilnya ke sini dua minggu lagi.”

”O gitu ya Teh. Ya baiklah kalau gitu saya permisi dulu.”

Perempuan muda berkerudung warna merah jambu itu berdiri, lalu pulang setelah mengucapkan salam.

Tini melanjutkan pekerjaannya di depan mesin jahit. Matanya awas pada ujung kain yang sudah menjadi baju setengah jadi. Sementara kaki-kakinya berada di bawah mesin begerak mengikuti gerakan mesin jahit. Bunyi mesin itu terdengar dengan irama yang cepat secepat gerakan kakinya yang mengayuh mesin. Hari itu dia menargetkan untuk menyelesaikan tiga setel baju. Dia harus memanfaatkan waktu, mumpung pesanan untuk dibuatkan pakaian masih sedikit. Biasanya pesanan menjelang Ramadhan suka membludak. Karenanya dia tidak boleh bermalas-malasan. Dia harus mengusir jauh-jauh rasa malas itu supaya para pelanggannya merasa puas. Pekerjaannya itu harus selesai sebelum Asar.

Setelah shalat Asar dia ada pekerjaan lain. Dia harus pergi ke warung-warung untuk mengambil uang telur asin sekaligus mengisinya lagi. Jika terlalu sibuk atau capek, biasanya dia suka menyuruh anak perempuannya si Eka. Namun dia tidak bisa terlalu diandalkan. Maklum anak ABG. Menginjak SMP, anak perempuannya mulai malu jika di suruh ke warung. Dia hanya mau melakukan pekerjaan rumah saja seperti mengepel dan memasak. Dia mengatakan malu oleh teman-teman dan gurunya jika kelihatan sedang menjajakkan telur asin ke warung-warung. Tini tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berusaha memahami perkembangan anaknya karena dia juga dulu pernah muda.

***

Tini melipat mukena dan sajadahnya, lalu menyimpannya di lantai samping ranjang. Dia segera ke dapur. Di mengangkat sebuah wadah besar yang berisi telur-telur bebek. Dia duduk dilantai dan mulai membersihkan telur-telur itu dengan hamplas dengan cari digosok-gosok sampai permukaan telur itu halus dan terasa rata. Telur itu berjumlah kurang lebih seratus butir. Ketika adzan isya berkumandang pekerjaannya itu belum usai. Eka langsung membantu ibunya saat dia baru pulang dari mengaji di masjid samping rumahnya.

”Mak, besok aku mau minta uang buat bayaran SPP,” ucap Eka sambil mengosok-gosok permukaan telur. Telur yang belum di gosok sekitar dua puluh butiran  lagi.

”Oya iya, Nak. Emak lupa. Kamu sudah berapa bulan nunggak?”

”Tiga  bulan, Mak. Sudah ada, Mak?”

”Sudah. Besok bisa kamu bawa. Alhamdulillah kemarin Emak dapat uang dari menjahit.”

Eka tersenyum. Dia yakin besok dia akan bisa berangkat sekolah dengan percaya diri karena tidak malu dengan tunggakan SPP. Tapi sesaat kemudian dia terlihat menahan senyumnya.

”Mak, A Danu bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lama dia tidak pulang. Aku sangat kangen padanya.”

Tiba-tiba Tini teringat sms dari anaknya tiga hari yang lalu. Sms itu isinya:

Mak, aku sudah dua semester tidak bisa bayaran uang kuliah. Pihak kampus mencatat statusku sedang cuti. Saya  tidak melanjutkan jualan nasi goreng karena terlalu menyita waktu. Selain itu, Boss nasi goreng itu mengancamku akan menyiksa jika terlihat shalat di waktu kerja. Dia juga melarang saya tinggal di pesantren. Mohon doanya, Mak. Saya sedang mencari pekerjaan lain yang tidak membuat ibadah saya jadi terganggu. Saya sedang mencari pekerjaan yang tidak mengganggu kegiatan saya di Pesantren.

Tini tidak sadar air matanya tumpah. Eka menyaksikannya merasa keheranan.

”Mak, apa yang terjadi dengan A Danu?”

Tini segera menyusut sudut matanya yang basah dengan punggung jemari tangannya.

”Kakakmu sudah satu tahun berhenti kuliahnya. Emak belum bisa membantunya. Emak sedih sekali.”

”Jangan sedih, Mak. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kita.”

Tini mengamininya dalam hati. Telur-telur itu kemudian dimasukkan kedalam sebuah wadah berlumpur yang sudah ditaburi garam. Telur-telur tersebut dibiarkan selama tiga hari. Tiga hari kemudian telur-telur itu direbus. Sebelum dijajakan telur-telur tersebut diberi label ’Telur Asin Dua Permata’ dengan tinta warna ungu.

***

Di sepertiga malam yang dingin. Udara dingin menusuk sampai ke sumsum. Tini bangkit melawan nafsunya yang terus menggoda untuk bersembunyi di balik selimut. Dia mengambil air wudhu untuk mengadu pada Tuhan. Dia ingin mengadu atas kesulitan-kesulitan dan perjuangan hidup yang pahit yang telah ia hadapi. Dia memohon untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian dalam setiap fase kehidupannya. Dia utarakan semua isi hatinya kepada Kekasih Sejatinya. Dia lantukan istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tahmid dalam setiap helaan nafasnya.

Dalam setiap doa-doa yang dia lantunkan, dalam pikirannya diputar rekaman mengenai perjalanan hidupnya seperti dalam sebuah media audiovisual. Alur-alur demi alur dilalui dan begitu akrab dengan dirinya.

Tini hanyalah lulusan SD. Keluar dari SD dia pernah masuk pesantren dan hanya bisa bertahan sebulan. Orang tuanya tidak cukup biaya untuk membiayainya di pesantren. Di keluarga dia adalah anak yang paling besar dari tujuh bersaudara. Dia merasa mempunyai tanggung jawab terhadap adik-adiknya.

Dia pun berangkat ke Bandung. Dia bekerja di sebuah pabrik kaos kaki. Di kota Kembang itu, dia hanya bertahan kurang lebih enam bulan. Lalu dia pindah ke ibu kota. Di ibu kota dia menjadi serang pembantu rumah tangga. Dia bekerja di Jakarta selama dua tahun. Selama di Jakarta dia bertemu dengan seorang pemuda asal Cilacap bernama Tamami. Pemuda itu sama-sama sedang mengadu nasib. Dia adalah seorang penjual es keliling. Tini akhirnya memutuskan untuk menerima lamarannya dan setelah menikah dia tidak pernah bekerja lagi ke kota. Buah dari pernikahan itu, Tini melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama Danu.

Tini dan Tamami bercerai karena mereka merasa tidak bisa saling memahami kekurangan satu sama lain. Keinginan bercerai makin kuat saat orangtuanya merasa Tamami tidak bisa memberikan nafkah sesuai dengan tuntutan agama. Suaminya belum bisa mencukupi kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal sebagaimana seharusnya seorang suami. Mereka bercerai ketika Danu masih dalam kondisi menyusui. Tini tidak mau kehilangan anaknya. Dia akan berusaha apa pun agar bisa menghidupi anaknya. Dia akhirnya berangkat ke kota lagi agar tidak membebani hidup dirinya dan juga anaknya kepada orangtuanya. Dia menitipkan Danu kepada  ibunya yang mana ibunya saat juga sedang menyusui adiknya yang perempuan. Jadi waktu dia berangkat lagi ke Jakarta, dia sungguh merasa berdosa karena telah membebani orangtuanya untuk mengurus sekaligus menyusui anaknya, padahal  dia sendiri punya anak yang harus diasuh dan disusui.

Tini berada di Jakarta selama dua tahun. Dia pulang karena tidak kuasa menahan kerinduannya kepada anaknya. Tetapi sayang, kerinduannya itu tidak terobati karena saat dia sampai di kampung, Danu tidak ada. Dia dibawa pulang oleh Tamami ke kampung halamannya di pedalaman Cilacap. Hal ini menyebabkan Tini jatuh sakit. Selama lebih dari seminggu dia mengigo dan memanggil-manggil anaknya.

Akhirnya, Tini menyusul Danu ke Jawa Tengah bersama ibunya. Apa pun akan dia lakukan demi anaknya. Seandainya mantan suaminya itu tidak memberikan izin Danu untuk dibawa pulang, dia memohon dan berlulut di depan mantan suaminya itu. Keinginanannya itu terpenuhi. Tamami menyerahkan Danu, tetapi terakhir lelaki itu berkata sambil marah.

”Silakan kamu bawa Danu. Aku serahkan semuanya padamu. Tadinya aku ingin membesarkan anak ini di sini. Aku ingin mendidiknya, tapi kamu  malah memintanya. Aku berikan dan aku sama sekali tidak akan pernah membantumu untuk memenuhi segala kebutuhannya.”

Tini tidak gentar dengan ancaman itu. Dia merasa bisa menghidupi anaknya tanpa bantuan lelaki itu. Dan benarlah, walau pun terkadang Tini sedih, Danu dibesarkan hingga sekarang sudah dewasa tanpa bantuan dan nafkah dari bapaknya. Dia berangkat ke kota lagi. Setiap bulan dia selalu mengirimkan gajinya kepada ibunya. Ibunyalah yang merawat Danu.

Seorang laki-laki yang seumuran dengan bapaknya tertarik padanya. Lelaki itu kelihatan masih muda karena tidak sengsara seperti bapaknya yang kulitnya gosong karena tiap hari bekerja di bawah panas terik  matahari. Lelaki itu bernama Edi. Dia seorang satpam di Pertamina. Tini memang menyukainya, tetapi dia menjadi dilema karena Edi ternyata sudah beristri dan memiliki lima orang anak. Malah anaknya yang paling besar seusia dengannya.

Edi terus membujuk Tini sehingga perempuan itu luluh. Entah bagaiman Tini bisa mau diajak menikah meskipun pernikahan dilangsungkan tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Setelah menikah Tini tidak berangkat ke Jakarta. Dia tinggal di kampung. Edi selalu pulang kampungg sebulan sekali. Di kampung, di atas tanah milik bapaknya, Edi membangunkan rumah untuknya. Meskipun  rumahnya tidak terlalu mewah dan pembangunannya tersendat-sendat Tini tetap bersyukur dan  berbahagia. Pernikahannya dengan Edi dikaruniai satu anak perempuan. Dialah Eka.

Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya menyimpan ikan asin, lama-lama baunya akan tercium juga. Ketika Eka berusia tiga tahun, istri pertamanya mengetahui pernikahan mereka. Istrinya itu benar-benar murka. Istrinya pertamanya itu meminta dukun untuk mencelakakan Tini. Mukanya sempat rusak seperti terbakar setelah digerayangi oleh seekor cecunguk. Istri pertamanya itu entah bagaimana caranya mampu membuat Edi lupa pada istri dan anaknya. Selama dua tahun Tini dan anaknya tidak mendapatkan kabar mengenai Edi juga tidak mendapatkan nafkah. Setiap kali dihubungi ke nomor rumah, selalu yang mengangkatnya adalah perempuan. Perempuan di telpon itu selalu mengatakan Pak Edi sedang tidak ada, sedang di luar kota, atau berbagai macam alasan lainnya.

Tini sudah pasrah. Dia tidak memiliki harapan lagi kepada Edi. Untuk menghidupi kedua anaknya yang dianggapnya sebagai permata yang tak ternilai harganya, dia memutuskan untuk bekerja sebagai TKW di Malaysia. Lagi-lagi dia harus melakukan pekerjaan yang menurutnya merasa membuat dirinya seperti orang yang terjajah. Tetapi dia tidak kuasa untuk memilih pekerjaan lain karena tuntutan hidup. Dia bertekad dengan berangkat ke Malaysia akan menyekolahkan kedua anaknya setinggi-tingginya supaya mereka tidak bodoh seperti dirinya. Dia juga bertekad akan menyelesaikan pembangunan rumah yang selalu tersendat-sendat.

Tini berada di Malaysia selama dua tahun. Dia mendapat majikan yang cukup baik. Setelah kembali ke kampung dia tidak mau berangkat lagi karena tetap berpendirian tidak mau dijajah oleh orang lain. Dia berpikir untuk memiliki suami lagi. Tetapi siapakah yang mau padanya? Kali dia menginginkan suami yang taat agama dan menyayangi kedua anaknya.

Akhirnya dia menikah dengan seorang duda di kampungnya. Duda itu bernama Misbah. Misbah memang termasuk tokoh yang cukup di kenal di desanya. Dia juga seorang yang ahli agama. Duda itu beranak enam. Perjalanan rumah tangga dengannya berlangsung satu tahun lebih. Kebahagiaan itu ternyata belum juga berpihak kepada Tini. Meskipun Misbah adalah seorang ahli agama, tetapi ternyata Misbah tidak mampu mendidik anaknya dengan baik. Anak-anaknya dibiarkan meskipun terlihat tidak shalat dan tidak menghormati ibu barunya. Dia pun memiliki banyak hutang yang hutang yang entah sampai kapan benar-benar lunas. Misbah berlaku tidak adil. Tini berharap kedua anak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan nafkah yang sama, tetapi hal itu tidak dilakukannya. Misbah banyak berjanji tetapi tidak pernah ditepatinya.

Tini benar-benar menyesal mengapa terlalu cepat memutuskan menikah dengannya. Padahal sebelum pernikahan itu dilangsungkan, anak perempuannya, Eka sudah tidak menyetujui. Eka mengatakan tidak setuju sampai kapan pun kalau ibunya menikah dengan Misbah. Jika dengan lelaki lain, putrinya itu setuju. Karena ketidaksetujuaannya itulah, Eka tidak mau diajak pindah. Dia malah tinggal bersama neneknya. Sejak saat itu Eka sangat  membenci ibunya. Setiap kali ibunya datang menengok, dia selalu saja mengajak bertengkar ibunya. Eka sering mengatakan ibunya tidak menyayanginya, ibunya pilih kasih, atau kata-kata lain yang membuat hati Tini sangat sakit.

Suatu ketika Tini jatuh sakit. Dia kesurupan seperti orang gila. Itu terjadi karena dia terlalu banyak pikiran. Dia memikirkan pernikahannya yang ternyata tidak  menjadi solusi bagi kebahagiaan kedua anaknya. Dia sedih melihat Danu kuliahnya terhambat lantaran dia kewalahan menyediakan biaya.

Tini tidak sadarkan diri selama lebih dari sebulan. Dia bertingkah laku seperti orang yang tak berakal. Berpakaian, makan, dan buang hajat pun harus dibantu oleh keluarganya. Jika keluarganya sedikit saja lengah saat menjaganya, dia sudah pasti berlari keluar dengan tanpa pakaian. Setiap kali ada orang yang menjenguk, dia selalu menghina, meludahi, dan menyebut-nyebut aib orang itu. Dia akhirnya diobati kepada seorang kiyai.

Tini terus beristighfar memohon ampunan Tuhan atas dosa-dosa di masa lalunya. Dia memohon kepada Allah agar cahaya kebahagiaan itu segera menghampirinya. Dia berjanji akan memetik hikmah dari semua peristiwa yang telah dialaminya. Ke depan dia akan lebih berhati-hati dan berusaha lebih baik. Dia berjanji akan berusaha mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam menghadapi kehidupan ini apapun resikonya.

***

Tini menerima sms saat dia berada di kamar dan segera membukanya. Dugaannya ternyata benar. Sms itu dari Misbah. Ketika pintu rumah diketuk berulang kali dan  suara  lelaki mengucapkan salam, dia berusaha seolah-olah tidak mendengarnya. Dia menutup telinga dengan bantal. Di kamar lain, Eka pun tidak bisa tidur. Dia mendengar suara salam dan pintu yang diketuk berkali-kali. Dia sebetulnya ingin membukakan meskipun dia tidak menyukai ayah tirinya itu, tetapi dia sudah berjanji pada ibunya dan akan menuruti permintaan ibunya untuk tidak membukakan pintu.

“Tin, tolong buka. Beri kesempatan padaku sekali ini saja.”

Tini membaca sms itu. Sms itu dikirimkan Misbah sampai sepuluh kali. Pendirian Tini tidak sedikit pun berubah. Dia tidak akan pernah berhubungan lagi dengan lelaki itu, kecuali jika lelaki itu sudah memberikan keputusan dengan jelas. Dia baru akan menjumpai lelaki itu jika lelaki itu membawa surat cerai yang harus dia tandatangani. Jika itu tidak juga dilakukan lelaki itu dia akan tetap bertahan pada pendiriannya, meskipun statusnya masih jadi seorang istri secara hukum. Tetapi dalam ajaran agamanya, suaminya yang tidak menafkahi lebih dari setahun itu sudah menggugurkan ikatan pernikahan. Dia tidak pernah menerima pemberian Misbah sejak perempuan itu pulang. Seandainya Misbah  memberinya pun dia tidak akan pernah menerimanya lagi karena dia sudah bulat pada keputusannya.

Bandung, 30 Juli 2010

 

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930