//
you're reading...
Cerita

KERUDUNG MERAH HATI

Hidup itu selalu berjalan ke depan dan tidak satu detik pun diam, meskipun pikiran ini tetap berada di belakang, di antara bayang-bayang masa silam. Hidup dan kehidupan ini berjalan dan takkan barang sedetik pun waktu itu kembali.
Aku berdiri di samping kuburanmu yang masih merah dan dingin. Ada rintik hujan yang tulus menemani. Hanya aku sendiri karena yang lain sudah pulang ke tempat tujuan masing-masing. Lantunan doa dari orang-orang terdekatmu kenalanmu tulus bergemuruh mengelilingi jasadmu yang terkubur tanah merah yang dingin ini.
Aku menangis. Aku benar-benar menangis semenjak kau menghembuskan nafas penghabisanmu. Aku merindukanmu. Aku benar-benar ingin berada di sampingmu. Tapi mengapa waktu sangat kilat? Aku berdiri lama bersama rintik hujan yang tulus menemani. Suasana sekeliling berkabut. Payung hitam melindungiku dari dinginnya air hujan.
Apakah cinta ini terlambat datang? Mengapa perasaan ini muncul terlalu senja, saat dirimu tidak lagi bisa berada di sampingku. Aku merasa lelah terlalu lama berdiri. Tetapi aku merasa enggan meninggalkanmu di sini. Di bawah tanah sana kamu kedinginan bersama tanah merah yang dijatuhi rintik hujan.
Kini aku berada di sampingmu dengan posisi yang jongkok. Aku meraba-raba tanah dingin yang ditaburi bunga-bunga yang menebarkan wangi ke sekelilingnya. Jasadmu pun sewangi itu. Aku yakin kamu akan hidup bahagia di sana. Aku pernah mendengar beberapa orang ulama mengatakan bahwa di surga sana ada para bidadari jelita yang tiada rupa tandingannya. Kamu berhak mendapatkan itu, Gun. Sungguh di dunia ini kamu bernasib malang, mendapatkan istri yang tidak berguna sepertiku ini. Istri yang hanya bisa membantah dan tak pernah membahagiakan dirimu. Maafkan aku, Gun.
Cairan hangat membasahi pipiku. Aku menyusutnya dengan punggung jari-jari tanganku. Aku menyusutnya berkali-kali, tetapi cairan itu mengalir makin deras saja. Sekali lagi, maafkan aku, suamiku. Jika aku layak disebut sebagai jandamu, izinkan aku mengatakannya padamu di depan nisanmu: aku mencintaimu.
“Ros, sudah senja. Ayo kita pulang, hujan makin tambah deras,” ucap mama seraya menepuk bahuku.
“Enggak, Ma. Aku masih betah di sini. Mama duluan saja. Aku masih ingin menemani Mas Gun.”
“Jangan begitu, Ros. Nanti kamu malah sakit.”
Aku tidak memedulikan perkataan mama. Setelah itu mama tidak berkata apa-apa lagi. Beliau memang sudah memahami karakterku. Aku memang keras kepala dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengobati keras kepalaku, termasuk kamu, Gun.
Aku asyik menemanimu meski senja telah menjelma. Senja yang muram. Aku iri padamu. Alam pun ikut berduka cita karena kepergianmu. Kau memang orang yang baik, Gun. Banyak orang yang menghadiri pemakamanmu. Kau suami terbaik, Gun. Namun sayang, mengapa aku baru menyadarinya hari ini, ketika kau sudah tiada.
Maukah kau tahu, sejak kapan aku mencintaimu, Gun? Aku mulai mencintaimu sejak kau bawel melebihi bawelnya mama. Jika mama bawel dalam urusan-urusan perempuan karena aku memang tomboy dan mama tidak suka jika anaknya berpenampilan seperti lelaki. Beda dengan Kau, Gun. Kau bawel menyuruhku shalat dan juga menyuruhku ikut pengajian seperti istri teman-temanmu. Aku bingung mengapa kebawelanmu membuatku jatuh hati, di kemudian hari aku menemukan jawabannya sendiri. Kamu bawel karena memang menyayangiku. Kamu memperhatikanku dan tidak mau jika istrinya celaka di dunia dan akhirat.
Aku ingat di awal pernikahan aku denganmu. Mama mengenalkanmu. Aku sama sekali tidak menyukaimu waktu itu. Papa memaksaku menikah denganmu, padahal waktu itu aku sudah menentukan pilihanku dan aku sudah berhubungan serius dengan lelaki pilihanku, Pram.
Suatu malam, kamu menghampiriku dan menuntut hakmu sebagai suami. Aku masih menutup diri. Aku masih menganggapmu orang asing yang tidak berhak berada dalam zona pribadiku. Aku menolakmu malam itu. Maafkan kelancanganku, Gun. Aku memang wanita bodoh yang tidak tahu masalah agama. Belakangan aku paham bahwa wanita yang menolak keinginan suaminya, kemudian suaminya murka, maka malaikat pun ikut murka terhadapnya.
Selama dua tahun rumah tangga berjalan tanpa kasih sayang dan hubungan yang terjalin tidak begitu harmonis. Itu bukan karena kesalahanmu, Gun. Tetapi kesalahanku yang tidak bisa memahami cintamu yang tulus.
“Ros, apa selamanya kita akan terus-terusan seperti ini, jika kamu belum mampu menerimaku sebagai istri. Setidaknya terimalah aku sementara waktu sebagai sahabatmu,” katamu.
Apa, sahabat? Aku tak sudi bersahabat denganmu. Kamu tetap orang asing meski pun sudah tinggal serumah denganku. Kamu adalah lelaki asing yang hanya kenal dekat dengan papa dan mama. Aku tidak mau sedikit pun bersahabat denganmu.
Kamu mengharapkan jawaban dariku. Kamu meraih tanganku dan berusaha mau memelukku, tetapi aku meronta dan menjauh darimu. Aku tinggalkan kamu di ruang tengah menuju ke kamar. Aku tidur dan mengunci kamar dari dalam. Aku tidak peduli kamu tidur di mana.
Langit masih menangis dan sudut mataku masih mengeluarkan cairan hangat yang membelah pipiku. Tanganku memegangi nisanmu dan menatap namamu yang tertera di nisan itu.
Ketika pagi aku dapati dirimu sudah tidak ada. Mungkin kamu sedang berolahraga di halaman rumah. Aku melihatmu dari kejauhan sedang mengangkat barbel. Kamu tersenyum padaku dan sedikit pun aku tak berusaha membalas senyumanmu yang tulus.
Aku menyiapkan sarapan sebelum kamu berangkat kerja. Aku menyiapkannya karena masih merasa punya tanggungjawab untuk hal ini. Sebelum berangkat kerja kamu sudah berpenampilan rapi, kemeja biru langit dengan dasi warna biru dongker, sepatu dan celana warna hitam. Kamu terlihat menarik dan aku tidak berani memandangimu waktu itu.
“Mengapa kamu menunduk, Ros?”
Aku diam. Aku masih menunduk dan tidak berusaha melihatmu lagi. Jujur aku akui waktu itu kamu memang terlihat menarik. Tiba-tiba saja terbersit suatu rasa yang tak pernah kuinginkan. Aku membayangkan bagaimana interaksi kamu di tempat kerja. Sekretarismu mungkin berusaha menggodamu. Apakah kamu tidak tergoda? Aku cemburu waktu itu. Kamu adalah direktur sebuah perusahaan yang cukup ternama. Kamu adalah seorang eksekutif muda yang yang terbilang sukses, dan perempuan mana yang tidak tertarik olehmu.
Kamu pun berangkat. Hanya mengucapkan salam. Aku menjawab salammu dengan nada minor. Hari ini aku tidak mendapatkan pertanyaan yang sering dia ajukan tiap hari. Mengapa pertanyaan itu tidak muncul hari ini? Mengapa ia tidak bertanya: mau berangkat bareng? Ah peduli apa aku dengan pertanyaan sekaligus ajakan itu. Toh aku tidak pernah sama sekali berangkat kerja bersama dengannya. Aku lebih memilih naik taksi untuk sampai ke kantor.
Aku enyahkan pikiran-pikiran itu. Aku segera ke kamar untuk mengganti baju. Hari ini aku memilih jas dan blazer warna ungu dipadu dengan putih. Rambut kubiarkan tergerai sebahu. Kukenakan sepatu hak tinggi. Aku pun berangkat ke kantor redaksi naik taksi .
Satu jam kemudian aku sudah sampai. Aku mulai menyelesaikan tugas-tugasku sebelum rapat redaksi. Aku sudah menyiapkan naskah cerpen, puisi, dan essei yang masuk ke e-mail redaksi yang kupikir layak terbit dan akan kuperjuangkan di rapat redaksi. Tema utama majalah pada bulan mendatang adalah mengenai kesetiaan pasangan.
Rapat berjalan cukup menegangkan, aku harus berjuang cukup keras dan beradu argumen dengan teman-teman. Ya seperti itulah setiap kali rapat. Untuk bisa meloloskan sebuah naskah harus melalui mekanisme yang panjang dengan banyak pertimbangan. Tetapi akhirnya rapat selesai juga. Beberapa naskah yang kuajukan memang diterima dalam rapat kali ini. Sebagian kecil dipertimbangkan untuk edisi mendatang.
Usai rapat itu, di sela-sela istirahat aku ingin keluar. Aku menginginkan suasana baru yang lebih tenang. Aku menyoren tasku menuju mulut pintu.
“Ros mau kemana?” sapa Ardi, direktur perusahaan raksasa penerbitan di negeri ini. Beberapa pekan ini aku merasa dia terlalu ramah. Aku merasa diistimewakan olehnya. Aku merasa sangat senang dibuatnya.
“Hmm … aku … aku ingin mencari suasana baru, Mas. Aku merasa sedikit bosan.”
“Oh, kebetulan. Saya juga ingin keluar. Bagaimana kalau kita jalan-jalan bareng?”
Aku tidak mengiyakan juga tidak menolak. Aku tidak menjawab. Aku memandangi dia sekilas. Penampilannya menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa yang mapan. Dia mengenakan kemeja putih bergaris-garis, dasi hitam, celana hitam, dan sepatu hitam. Dia juga mengenakan arloji yang lux. Arlojinya berkilatan ditempa sinar matahari yang hampir mendekati puncak langit. Semua yang dikenakannya adalah produk-produk bermerk dari luar negeri. Ardi tersenyum dia meraih tanganku dan menuntunku menuju mobilnya. Kali ini dia membawa Avanza. Tiap hari dia mengendari mobil yang berbeda. Entah dia punya berapa.
Avanza meluncur menyusuri kawasan Ahmad Yani. Aku duduk di samping Ardi. Dia memulai percakapan.
“Ros, waktu tadi rapat, aku acungkan jempol karena kamu bisa mempertahankan pendapatmu. Aku lupa, sudah berapa lama kamu bekerja?”
“Thanks, Mas. Aku bekerja sudah hampir dua tahun,” jawabku sambil sedikit tertawa.
“Aku lihat karirmu cukup bagus. Aku janji akan mempromosikanmu menduduki jabatan lebih tinggi. Kamu sudah layak menjadi pimpinan redaksi.”
“Yang benar saja, Mas. Jangan berlebihan, Mas. Aku merasa tidak enak sama teman-teman. Nanti disangka nepotisme lagi.”
“Jangan kuatir. Aku berencana mengembangkan lagi perusahaan dengan menerbitkan lagi majalah baru. Segmentasinya adalah remaja …”
Aku hanya mengangguk memperhatikan penjelasan Ardi berikutnya.
Tiba-tiba dia meraih tanganku, dia meremas-remas tanganku. Perasaanku campur aduk, antara membiarkan dan menghempaskannya. Aku jadi berkeringat. Aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku membiarkannya. Aku merasakan tangannya yang lembut dan hangat.
“Ros, kamu terlihat sangat berbeda hari ini.”
“Mengapa Mas berbicara seperti itu?”
“Karena kamu sangat istimewa.”
Kami berhenti di kawasan BIP. Kami menikmati makan siang dengan suasana yang begitu mengasyikkan. Sambil makan, Ardi banyak berbicara dan mengeluarkan lelucon-lelucon yang membuatku terpingkal-pingkal. Kami tidak memedulikan orang-orang di sekitar yang memandangi kami.
Kami keluar dari restoran itu. Ardi makin mendekat padaku saat kami berjalan. Dia meletakkan tangannya di pinggangku dan aku tidak menolak. Entahlah, aku merasa nyaman berada di sisinya. Kami melangkah agak cepat. Tanpa sengaja aku menabrak seorang lelaki yang berada di depan kami. Sebuah kotak besar berbentuk cantik dan sangat menarik hati jatuh dari tangan lelaki itu. Aku merasa sangat bersalah. Kemudian aku secepatnya berjongkok mengambil kotak itu. Aku berdiri menyerahkan kotak cantik itu kepada pemiliknya.
“Ini, Pak. Maaf saya tidak sengaja,” ungkapku saat menyerahkan benda itu.
Lelaki itu tidak menjawab. Dan aku sangat terkejut ketika melihat wajahnya. Dia memandangiku sangat tajam, seakan menembus hati dan jantungku. Detak jantungku memacu sangat cepat. Aku tak menyangka bahwa itu kamu, Gun.
“Maaf, Pak. Kami tidak sengaja. Maafkan atas kesalahan kekasih saya.”
Kamu menatapku tajam, lalu menatap Ardi. Ardi melirik ke arahku. Tak lama kemudian, kamu berlalu tanpa sepatah kata pun.
Sampai di rumah aku benar-benar merasa sangat bersalah. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan bersujud di kakimu dan apa pun akan kulakukan asal kamu memaafkanku. Aku menuju kamar, barangkali kamu sudah pulang. Ternyata tidak ada. Ke sudut-sudut rumah yang lain pun tidak ada. Aku menunggumu dan tidak bisa tidur. Aku menunggumu sampai tengah malam, tapi kamu tak jua datang. Suara bel hanyalah halusinasi yang menghantui telingaku.
Keesokan harinya kamu datang dengan wajah kusut dan pakaian yang tidak tertata rapi.
“Kamu tidur di mana semalam, Mas?”
Urat-urat di dahimu terlihat tegang. Wajah dan matamu memerah. Aku sadar kamu sangat murka.
“Oh, jadi rupanya kamu masih peduli padaku.”
Aku tertunduk. Mataku siap berkaca-kaca, tapi dengan sekuatnya aku membendungnya agar pertahanan itu tidak jebol. Aku berusaha membimbingmu karena kamu terlihat sangat lelah. Namun kamu menghempaskan tanganku. Kamu berjalan agak limbung. Mungkin kamu tidak makan seharian.
“Mas, kamu belum makan dari kemarin.”
“Tidak usah memedulikanku lagi.”
Kamu berlalu menuju kamar. Sepuluh menit kemudian kamu membawa beberapa potong pakaian dan menuju kamar yang lain.
“Mas, maafkan aku. Aku memang bukan istri yang setia,” kataku saat menghampirimu di kamar.
“Sudahlah. Tidak usah dibahas-bahas lagi. Aku memang tidak bisa membahagiakanmu,” katamu tanpa menatapku.
“Mas …”
“Memang benar kan? Buktinya kamu sangat bahagia dengan lelaki itu.”
Aku diam dan sangat menyesali kesalahanku.
“Boleh tahu, sudah sejauh mana hubungan kalian?”
Aku merasa sangat risih mendengarnya. Mungkin kamu berpikir terlalu jauh. Aku masih istrimu, Mas. Aku masih suci.
“Mengapa diam? Aku benci pada orang yang mengkhianati kepercayaanku.”
Aku tak kuat mendengar itu semua. Pertahananku akhirnya jebol. Butiran-butiran bening berjatuhan membelah pipiku. Aku berlari menghampirimu. Aku memelukmu sekuat-kuatnya.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak seburuk yang kamu bayangkan.”
Aku mendengar desahanmu. Degup jantungmu yang memacu cepat. Aku memelukmu erat-erat. Aku memejamkan mata. Aku mendengar kamu juga menangis. Kurasakan air matamu menjatuhi rambutku tepat diubun-ubunku. Kamu akhirnya memelukku dengan ragu-ragu. Kamu pun mengusap dan membelai rambutku.
***
Kamu berdandan rapi. Aku membantumu mengenakan dasi. Kamu tiba-tiba jadi pendiam, tidak semanis dulu. Tiba-tiba aku merindukan senyumanmu.
“Aku akan pergi. Untuk sementara waktu. Mungkin selama sepekan.”
“Kamu tidak mau memaafkanku, Mas.”
Kamu menundukkan wajah. Tak lama kemudian kamu berkata, “Aku butuh waktu, tetapi aku tidak mampu menentukan batas waktu itu.”
“Aku tetap akan menunggumu. Apa pun akan aku lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini.”
“Aku pergi bukan karena masalah ini. Aku pergi karena untuk urusan bisnis. Aku ada kontrak kerjasama dengan sebuah perusahaan di Malaysia.”
“Aku tidak bisa melarangmu karena itu bukan hakku. Aku hanya berpesan jaga dirimu baik-baik hingga sampai ke sini. Sampai … di sisiku lagi.”
Sebelum berangkat, kamu menyerahkan sesuatu. Sebuah kotak yang pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah kotak yang pernah aku jatuhkan dahulu.
“Ini adalah hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke-2. Barangkali kamu lupa. Pernikahan kita sudah seusia itu.”
Aku menerima kotak itu. Aku tidak tertarik karena pikiranku mengkhawatirkanmu. Aku masih ingin bersamamu. Walaupun kamu bilang hanya pergi seminggu, tapi tetap saja hatiku tidak tenang.
Kamu berlalu. Aku melihat punggungmu yang tegap makin menjauh. Kamu memesan sebuah taksi. Aku berusaha mengejarmu sambil berteriak, “Mas …!”
Kamu menoleh. Aku semakin mendekat.
“Mas, boleh aku mengantarmu ke bandara?”
“Tidak usah, Ros. Kamu tidak berangkat kerja?”
Aku menggeleng. Taksi mulai melaju. Perlahan-lahan mengecil dalam pandangan dan kamu pun menghilang bersama taksi warna biru muda itu.
Matahari bersinar dengan malu-malu. Siang yang mendung. Hujan turun dengan deras. Hatiku masih saja tidak tenang sejak kepergianmu, Mas.
Telephon rumah berdering. Aku mengangkatnya.
“Iya, selamat siang.”
“Iya, betul.”
Aku mendengarkan uraian seorang lelaki dari seberang. Apa aku tidak salah dengar. Aku tak kuat mendengarkan penjelasannya. Aku kehilangan kesadaran. Bumi seakan runtuh. Lututku tiba-tiba lemas. Gagang telephon jatuh, bergerak-gerak menggantung.
“Tidak mungkin!!!” teriakanku menggaung memenuhi ruangan.
Aku lemas tak bertenaga. Suara-suara kecil dari telephon tak lagi kupedulikan. Aku masih tidak percaya, bahwa kamu meninggalkanku secepat itu. Kamu jatuh dalam sebuah kecelakaan pesawat. Kondisi penerbangan hari itu terganggu karena cuaca yang buruk.
Hujan semakin deras. Kerudung hitam di bagian punggungku basah karena arah hujan yang condong. Mama melambai-lambaikan tangan dari dalam kijang. Selamat tinggal, Gun. Aku pulang dulu. Suatu saat aku akan ke sini lagi, untuk menemanimu. Jika pun kau tak kutemani, para bidadari suci itu dengan tulus menemani orang sebaik dirimu.
Sampai di mobil aku memegang kotak cantik pemberianmu sebelum kamu pergi. Ya, sebelum kamu pergi untuk selama-lamanya. Aku membuka kotak itu. Aku temukan di dalamnya sebuah kerudung berwarna merah hati. Warna itu adalah warna kesukaanku. Tahu dari mana kamu tentang warna favoritku, Mas? Kerudung itu berbahan spandek. Terasa menyejukkan di kulit. Bagian depan kerudung itu dihiasi asesories yang memikat
Jika kukenakan kerudung itu, mungkin aku merasa menjadi seorang ratu cleopatra. Aku mengalihkan perhatianku pada secarik kertas putih yang terlipat. Aku penasaran dan segera membukanya.
Rossku sayang…
Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan di hari istimewa ini. Aku tidak peduli apakah hari ini istimewa juga bagimu. Aku tak bisa menyatakan kedalaman cintaku padamu. Aku tak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Perasaan memang sulit dipaksakan bukan? Aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan cintamu.
Aku pun tidak bisa memaksakan hakku sebagai suamimu. Aku akan tetap bersabar hingga kamu rela dan merasa tidak terpaksa. Ros, izinkan aku meski hanya dalam lembaran ini untuk berkata: Sayang. Sejak pernikahan kita, aku tak pernah memanggilmu demikian karena kamu yang merasa tidak suka.
Rossku Sayang …
Pakailah kerudung itu andai kamu suka. Jika tidak suka simpanlah di lemari, barangkali suatu saat kamu akan menyukainya. Tentu aku merasa sangat bahagia andai aku bisa menyaksikan kamu memakainya. Kamu memakainya dengan anggun saat mendampingiku dalam berbagai acara di kantor. Rekan-rekan bisnisku barangkali akan iri melihatnya. Aku akan sangat bangga memiliki istri sepertimu.
Aku akan menunggumu, sayang, hingga kamu merelakan cintamu. Cintaku padamu tanpa batas, cintaku padamu tak bersyarat. Bahkan, jika kamu tak mencintaiku aku tetap mencintaimu.

Bundaran Cibiru, 5 Januari 2009

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930