//
you're reading...
Cerita

TENTANG LELAKI

Siapakah yang mampu memaknai cinta?

Apakah ada cinta suci di dunia berpolusi ini?

Apakah ada ikatan abadi yang terbawa sampai mati?

Apakah cinta Adam-Hawa akan sampai ke Surga?

 

Cinta. Satu kata mistik yang menggodakku untuk mempermainkannya. Aku sadar cinta membutuhkan sebuah komitmen yang kuat diantara lelaki dan perempuan. Andai saja komitmen itu tidak ada sungguh betapa sulitnya manusia mempertahankan cintanya. Aku baru menyadari hal itu setelah melalui berbagai petualangan cintaku yang kotor.

Petualangan itu bagiku memang sangat menyenangkan, namun aku yakin perempuan yang kujadikan mangsa merasa sangat kecewa karena telah dikhianati. Aku sering menceritakan kisahku ini bersama teman senasibku di masjid. Dia bernama Zae. Usianya selisih lima tahunan denganku. Aku sering memanggilnya bapak. Entah kenapa aku merasa nyaman memanggilnya bapak. Barangkali dia sudah terlalu dekat dan karakternya ada kemiripan dengan almarhum bapak yang meninggal setahun yang lalu.

Kami menempati kamar kosong di masjid. Ada tiga orang yang menempati kamar masjid. Satu orang lagi bernama Broto. Dia berasal dari daerah Indramayu. Menurutku, dia lelaki polos yang belum pernah merasakan asyiknya berpacaran. Dia tipe lelaki  kuno yang pantang berpacaran dengan dalih menjauhi zina. Suatu pemikiran yang menurutku sudah tidak zamannya, lagi. Kuno, kolot, kaku, dan terlalu terikat pada aturan agama yang menurutku sangat mengekang naluri manusia.

Bagiku pacaran sangat penting, bahkan wajib. Aku tidak setuju jika ada orang yang baru kenal beberapa hari saja sudah berani-beraninya memutuskan menikah. Mereka seperti membeli kucing dalam karung. Mereka bilang lebih baik ta’aruf[2], karena itulah yang diperintahkan agama. Sekali lagi, terus saja bawa-bawa nama agama. Apakah agama harus di bawa ke pasar, bank, panggung politik, pendidikan, sampai pergaulan? Aku tidak setuju. Ini namanya pengekangan kehendak manusia.

***

“Hendra, pernikahanmu tepatnya tanggal berapa? Bapak harus tahu secara pasti supaya bisa mengagendakan.”

“Tanggal 6 Agustus, Pak. Pokoknya Bapak wajib hadir dan menjadi wakil keluarga dalam upacara serah terima.”

Bapak menganggukkan kepala.

“Pak, saya ingin mengungkapkan pengakuan kepada Bapak.”

Bapak memperhatikanku dengan serius.

“Pak, pernikahan saya tinggal sebulan lagi. Tapi saya tidak mengerti kenapa hati ini masih belum mantap. Di Sukabumi, ada tiga orang perempuan yang saya cintai. Satu orang sudah berumah tangga. Satu orang masih lajang. Yang satunya lagi sudah tunangan.”

“Bapak tidak mengerti, bagaimana kamu masih bisa berbagi hati, sementara pernikahanmu dengan Lia sebentar lagi. Dra, bapak yakin ini adalah ujian bagimu yang mau menikah. Kamu harus segera memutuskan apa yang sebaiknya kamu lakukan. Coba pikir bagaimana seandainya Lia tahu ada banyak wanita yang saat ini sedang berhubungan denganmu.”

“Tidak apa-apa, Pak. Tenang saja, Lia itu sangat mencintaiku. Aku sudah berulang kali putus dengannya, tapi nyambung lagi-nyambung lagi. Cinta kami sudah teruji. Di antara sekian banyak perempuan, dialah perempuan yang paling setia. Itu sebabnya mengapa aku memilih menikah dengannya.”

“Apa kamu tahu persis bagaimana hati dia? Apakah kamu tahu hatinya jika dia mengetahui cintanya kamu khianati? Perempuan mana yang rela cintanya dibagi-bagi?”

“Dialah Lia, perempuan itu ha… ha …”

“Aku tidak yakin dia begitu. Aku juga menyayangkan kamu setega itu. Apa kamu tidak lelah melalui petualangan-petualangan seperti ini dari dulu.”

“Pak, ini kan cuma iseng. Suatu saat saya juga akan meninggalkan perbuatan ini, tapi entah kapan. Aku belum  kenyang, Pak.”

“Kamu itu … nggak pernah ada sedikut pun rasa menyesal …”

“Ha … haa … nyesal sih nyesal, Pak. Aku suka kasihan jika perempuan itu tahu kalau cinta mereka dibagi-bagi. Tapi susah sih, Pak, menahannya. Lagi pula aku tidak pernah membohongi mereka. Sewaktu pacaran, aku tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa merekalah satu-satunya yang kucintai. Aku tidak pernah berkata seperti itu. Kalau hubungan Bapak sama si Teteh gimana?”

Bapak agak kikuk. Dia dia beberapa saat. Aku tahu dia masih bermasalah dengan si Teteh yang statusnya masih jadi istri orang.

“Ya masih biasa seperti dulu. Aku tahu ini salah. Aku sudah sadar bahwa ini menentang badai. Kuharap kau tidak sepertiku. Umurmu masih sangat muda, masih banyak waktu untuk memperbaiki semuanya,” ucap Bapak sambil menunduk. Dia sepertinya enggan menatapku.

“Ha … ha … baguslah kalau gitu. Aku suka pada orang-orang yang melawan arus dan melawan badai.”

“Bulan kemarin, sewaktu kamu kerja di Sukabumi, aku juga pulang ke Garut. Suami perempuan itu mencari-cari aku. Untung saja aku sudah mengganti nomor. Aku berada di Garut selama tiga minggu dan kembali ke sini setelah situasi sudah agak tenang.”

“Si Teteh masih suka ngirim makanan ke sini?”

“Tidak pernah ketinggalan. Dia selalu mengirim ikan goreng, ayam goreng, rending, dan makanan enak lainnya.”

“Tempat janjiannya masih di warung yang dulu?”

“Ya. Tapi sekarang aku sendiri yang mengambil ke sana. Sejak kamu ke Sukabumi, Broto tidak pernah mau lagi. Dia tidak ingin ikutan-ikutan. Dia bilang tidak mau bekerjasama dalam kemungkaran. Jika dikasih makanan, kalau dia tahu itu dari si Teteh, dia tidak pernah mau makan, malah dia biarkan sampai basi dan dibuang ke tong sampah. Broto bilang makanan itu belum tentu halal karena si Teteh pasti tidak meminta izin pada suaminya. Si Teteh pasti sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan pasti suaminya akan marah. Dia bilang melawan badai sama dengan menunggu datangnya hukuman Tuhan. Memang aku sadar, itu salah, tapi mungkin dia tidak mengerti posisiku. Aku memang terpepet. Kesulitan hidup yang menderaku memaksaku untuk menerima semua pemberiannya.”

“Kenapa bapak lebih memilih dia. Padahal perempuan lain pun masih banyak yang tertarik pada bapak. Mereka mengejar-ngejar bapak. Mereka menurut saya lebih baik, karena sudah tidak punya ikatan dengan laki-laki lain.”

“Aku tidak tahu, Dra. Aku tidak punya perasaan tertarik pada perempuan lain. Aku hanya mencintai perempuan itu.”

“Gimana kalau bapak minta Teteh bercerai saja dengan suaminya.”

“Sudah, Dra. Itu sudah dilakukan. Tapi lelaki itu tidak  mau menceraikan.”

“Meskipun suaminya sudah tahu hubungan Teteh dengan Bapak?”

Bapak menganggukkan kepala. Cinta yang sungguh rumit, sama rumitnya dengan petualangan cintaku.

***

Untuk  menghilangkan kejenuhan dalam bekerja aku berlibur ke pantai di daerah Sukabumi. Aku bekerja sebagai seorang penyuluh masyarakat di daerah-daerah terpencil.

Bermain ke pantai aku membawa serta tiga orang perempuan. Dua orang mau dan aku mengaturnya jangan sampai mereka tahu bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan mereka kedua-duanya. Sedangkan satu orang lagi tidak mau diajak bermain. Dia memang seorang akhwat[3].  Perempuan itu masih menjaga diri. Dia tidak pernah mau diajak pergi berdua-duaan. Tapi aku yakin bahwa dia mencintaiku. Aku bisa melihatnya dari cara dia berbicara dan cara dia menatap. Aku tidak akan pernah bisa dibohongi.

Lia mengirimkan pesan padaku.

Assalamu alaikum. Kang, aku merindukanmu. Kapan akan pulang ke Bandung. Akang tidak lupa kan, pernikahan kita seminggu lagi?

“Sms dari siapa?” kata perempuan pertama.

“Ini … dari teman di Bandung,” kataku dengan tenang.

“Laki-laki atau perempuan?” tanya perempuan yang sudah  bersuami.

“Laki-laki. Dia tahu bahwa aku sedang liburan di pantai. Dia nanya bagaimana suasana pantainya.”

“Ooo …” kedua perempuan itu menatapku.

Aku berharap mereka tidak tahu bahwa aku telah berbohong. Aku mengetik pesan singkat.

Waalaikum salam. Siapa yang tidak merindukanmu. Bukanlah seorang pecinta yang tidak selalu mengingat-ingat kekasihnya. Aku akan pulang dua hari lagi. Tunggu aku …

Perempuan yang sudah bersuami yang sekarang ikut berlibur denganku sungguh telah menyihirku. Penampilannya tidak seberapa. Tetapi aku sangat mengagumi kemandiriannya. Dia adalah tipe pekerja keras. Usaha apa pun dia jalani, meskipun sebaliknya suaminya adalah pengangguran yang suka memoroti harta istri.

Kami bertiga bermain di pantai sampai sore hari. Setiap moment kami ambil dengan jepretan kamera digital. Siluet senja yang sangat memesona tidak kami biarkan. Kami berfoto dengan berbagai fose agar moment indah itu tidak pernah kami lupakan.

***

“Broto, tadi ada perempuan ke sini yang menanyakanku?”

“Ada … ada … perempuan tadi itu Teh Lia ‘kan?”

“Dia nanyain apa saja?”

“Tadi dia tanyain Kang Hendra. Aku bilang ‘kan  sudah berangkat ke Antapani. Setelah aku jelaskan bla … bla … dia ngaku bukan Teh Lia. Dia akhirnya minta nomor Akang yang baru. Jadi dia sebetulnya Teh Lia atau bukan sih, Kang?”

“Broto, Broto, celaku aku. Kamu ini kok polos banget sih. Perempuan itu adalah simpananku yang di Bandung.”

Masya Allah … kok akang banyak-banyak amat koleksinya.”

“Pantesan tadi perempuan itu cemberut waktu ketemuan sama aku?”

“Terus gimana dong sekarang?”

“Ha … ha … tenang dia sudah kutangani. Dengan sedikit kata-kata saja dia sudah langsung percaya.”

“Jadi akang berbohong padanya?”

“Ya bohong untuk kebaikan diperbolehkan agama bukan? ”

“Kebaikan yang akang maksud itu yang mana?”

“Ya itu … perempuan itu tidak marah lagi dan hubungan kami jadi baikan lagi.”

Hapeku berbunyi. Pesan singkat masuk. Aku segera membukanya. Rupanya pesan dari akhwat di Sukabumi.

Aku tahu kamu lagi di Bandung. Aku beberapa kali ke kontrakanmu, tapi kamu tidak pernah ada. Apakah kamu menghindar dariku? Aku tidak bisa melupakanmu, meskipun tiga jam lagi aku akan menjadi seorang istri.

Hatiku bergeletar. Ada yang terasa tercerabut dari hati ini. Ada rasa kehilangan yang mendera. Tapi aku tidak mempedulikannya. Besok pun, aku akan menjadi seorang suami.

Sebuah panggilan masuk dari perempuan yang sudah bersuami. Aku menjawab salam dari perempuan itu. Dari seberang sana, perempuan itu  sepertinya sedang menangis.

“Kang, tolonglah aku. Aku ingin kabur denganmu. Aku sudah tidak tahan tinggal bersama dia yang terus menyiksa dan memerasku.”

“Iya … aku tahu penderitaanmu. Tapi apa yang bisa aku bantu?”

“Aku ingin ikut kamu ke Bandung. Aku akan kabur.”

“Jangan! Jangan! Jika itu kamu lakukan itu hanya akan menambah rumit masalah.”

“Terus apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak tahan, Kang. Dia terus menganiyayaku. Apakah aku harus pasrah?”

“Bertahanlah dulu. Aku akan pikirkan cara bagaimana menyelesaikan masalahmu.”

“Tapi kamu jangan bohong. Aku tunggu kabar darimu secepatnya.”

“Iya, pasti … pasti.”

Lima menit kemudian, seorang perempuan menelponku lagi. Perempuan itu masih dari Sukabumi.

“Hallo sayang, ada apa? Kamu kangen ya sama aku?”ucapku.

“Kenapa kamu pulang nggak bilang-bilang. Aku curiga ada sesuatu yang kamu sembunyika dariku. Kamu jangan bohongi aku!”

“Enggak … kapan aku bohong sama kamu. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu.”

“Kapan kamu ke Sukabumi lagi. Orangtuaku minta agar kamu ke datang ke rumah untuk menindaklanjuti bagaimana hubungan kita ke depan.”

“Hah… secepat itukah?”

“Iya. Kenapa mesti lama-lama. Aku sudah bosan pacaran dan ingin cepat-cepat menikah. Kenapa kok kamu ngomongnya gitu? Kamu nggak cinta ya sama aku?”

“Enggak … sumpah  aku cinta sama kamu. Aku sayang kamu.”

“Aku nggak butuh kata-katamu. Besok aku tunggu kedatanganmu. Kalau kamu benar-benar cinta samau aku, orang tuaku menunggumu besok.”

Kampret! Perempuan itu menuntutku. Dia memutus telephon itu tanpa berkata apa-apa lagi.

***

Lia adalah pilihanku. Aku menyatakan akad pernikahan di sebuah masjid. Dia berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya seorang pimpinan pesantren di Kota Bandung. Perjalanan menuju rumah Lia dimulai dari Ujungberung, di rumah kakakku. Keluargaku sudah datang sehari sebelum akad nikah.  Saat akad berlangsung, aku lihat ibu sangat terharu. Begitu pun Lia. Binar kebahagiaan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.

Bapak yang menjadi wakil keluarga, menyampaikan sambutan dan upacara seserahan dengan begitu meyakinkan. Dia memang fasih berbahasa Sunda. Dia menyampaikan dengan bahasa Sunda yang begitu halus dan sastrawi. Dia datang bersama Teteh. Teteh membawa serta anaknya yang berusia empat tahun. Hari pernikahanku adalah hari pertemuan terakhir dengan Bapak. Dia pulang kampung dan tidak akan kembali lagi ke Bandung. Di Garut dia bilang akan memperbaiki semuanya. Dia mengatakan inilah pertemuan dia terakhir dengan Teteh.

***

Pagi yang dingin. Aku malas bangun. Lia bangun lebih dahulu. Dia memaksaku bangun untuk shalat shubuh berjamaah di masjid. Dia mengatakan malu pada bapaknya kalau tidak shalat di masjid. Aku berusaha membahagiakannya. Aku menuruti keinginannya.

Sepulang dari masjid, Lia menyambutku dengan wajah masam.

Aku  mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Kulingkarkan kedua tanganku ke tubuhnya. Lia tidak bereaksi. Wajahnya menunduk dan terlihat semu merah.

Aku menciumnya. Dia pun masih diam saja. Aku bertanya padanya mengapa diam saja. Sekali lagi aku memeluknya dengan erat, namun dia menghempaskan tanganku. Dia mendorong tubuhku hingga aku terjengkang. Aku jatuh ke kasur setelah berusaha keras agar tidak terjauh ke lantai. Belum sempat aku bangun dari kasur, Lia memberondongku dengan serentetan pertanyaan.

“Aku kira kamu sudah berubah. Kamu tahu kenapa aku mau menikah denganmu? Karena aku kamu sudah berubah total. Aku baru tahu sekarang ternyata kamu adalah pembohong sejati. Aku sudah tahu semuanya. Aku baca pesan-pesan yang baru datang dan pesan-pesan sebelumnya. Aku juga buka kata-kata gombalmu. Kamu sangat tega, Kang. Lalu kenapa kamu nikahi aku?”

Aku diam. Aku merutuki diriku sendiri. Mengapa pesan-pesan itu lupa kuhapus. Aku tidak tahu bagaimana cara menenangkan Lia. Dia benar-benar marah. Belum pernah aku melihat dia marah separah ini.

“Kang, aku akan memberikanmu kesempatan terakhir kali untuk memperbaiki semua ini. Jika kamu tidak mampu memperbaiki keadaan ini. Tolong lebih baik ceraikan saja aku.”

Deggg!

Hatiku remuk redam. Apakah aku bisa memperbaiki semua ini? Lia meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar dengan keras. Aku terlentang di atas kasur dengan tubuh yang tak bertenaga. Ya Tuhan, pantaskah aku mendapatkan ni semua?

Telephon terus berbunyi. Perempuan bersuami itu memanggilku sampai puluhan kali. Aku  tidak berselera untuk mengangkatnya. Sepuluh pesan singkat masuk. Aku mencoba membuka satu pesan.

Pengkhianat. Kamu tidak menghargai permintaan keluargaku. Kami seharian menunggu kedatanganmu. Orang tuaku sangat kecewa. Aku juga sangat kecewa. Aku benci kamu, pengkhianat!

***

Sadawangi, 7 Juli 2010


[2] Saling mengenal antara laki-laki dan perempuan yang jika ada kecocokan akan dilangsungkan ke jenjang pernikahan.

[3] Perempuan berkerudung lebar, aktivis pergerakan Islam.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930