//
you're reading...
Cerita

ISLAM MENENTANG TERORISME

 Siapakah Teroris yang sebenarnya?

Apakah sebetulnya terorisme itu? Pengertian terorisme tidak memiliki  batasan yang jelas. Menurut Noam Chomsky, isu terorisme hanya merupakan bagian dari newspeak (wacana) sepihak Amerika. Definisi terorisme menurut resolusi Dewan Keamanan PBB NO. 1378/2001 maupun perppu No. 1 dan No. 2/2002  di Indonesia,  tidak merumuskan dan memberikan batasan-batasan yang jelas tentang pengertian terorisme.

Dari 44 organisasi di seluruh dunia yang didaftar sebagai teroris versi Amerika kebanyakan adalah kelompok Islam yang memusuhi Amerika dan Israel, seperti HAMAS, Jihad Islam, Al-Aqsha Martyrs Brigade di Israel, Kelompok Abu Sayyaf di Filipina, Islamic Movement of Uzbekistan (IMU), Lashkar-e Tayyiba (LT), Jaish-e Mohammed (JEM), dan Harakat ul-Mujahidin. Padahal berdasarkan data FBI periode 1982-1992, operasi terror yang terjadi di Amerika Serikat dilakukan oleh orang atau golongan non-muslim, seperti: 72 teror oleh orang Puorto Rico, 23 oleh golongan kiri, 16 serangan oleh kelompok yahudi, 12 serangan oleh orang-orang Cuba anti-Castro. Kemudian serangan bersenjata anti-Amerika di luar negeri umumnya di luar negeri Islam. Misalnya selama 1994 sebanyak 44 serangan terjadi di Amerika Latin, 5 kali di Asia, 5 kali di Eropa Barat, 4 kali di Afrika, dan 8 kali di Timur Tengah.[1]

Jika dikaitkan dengan isu terorisme di tanah air ini, sudah lebih dari cukup peritiwa pengeboman dilakukan di negeri ini. Dari semua peristiwa terror bom tesebut menyisakan tuduhan menyakitkan terhadap kita, selaku muslim. Islam dan kaum muslim menjadi objek yang dicurigai. Apakah hal itu memang sengaja dilakukan?

Salah satu yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidakadilan global dunia. Padahal ketidakadilan global menjadi salah satu pemicu serangan terhadap Barat atau objek-objek yang dianggap berhubungan dengan Barat. Penjajahan yang dilakuan Barat di dunia Islam, pembunuhan masyarakat sipil di Irak dan Afghanistan, penghinaan terhadap Islam, termasuk dukungan membabi buta Barat terhadap penjajahan Zionis di Palestina, merupakan cerminan dari ketidakadilan itu. Kalau terbunuhnya 9 orang akibat pengeboman di JW Marriot dan Ritz-Carlton dikecam, sikap yang sama seharusnya muncul ketika ratusan ribu umat Islam terbunuh pasca invasi AS di Irak. Jurnal Lancet, melaporkan lebih dari 650 ribu warga sipil Irak tewas sejak invasi AS pada tahun 2003 dan jumlah tersebut terus bertambah hingga kini.[2] Bukankah tindakan tersebut adalah tindakan terorisme yang lebih berbahaya dan sadis yang dilakukan oleh sebuah negara  yang mengaku polisi dunia?

Uraian di atas barulah salah satu kasus keganasan Amerika. Masih banyak lagi kejahatan yang mereka lakukan yang menyebabkan penduduk dunia, terutama kaum muslimin menjadi resah dan menderita. Jadi, jelas the real terrorist adalah Amerika, Israel dan sekutunya yang mengusung ideologi kapitalis. Bahkan, Menurut Amin Rais, kedua Negara ini (Amerika dan Israel) telah menjalankan terorisme negara (state-terorrisme).[3]

 

Stigmatisasi terhadap Islam

Dalam bingakai ajaran Islam, aksi terorisme merupakan termasuk tindakan kriminal (jarimah) yang harus ditindak secara hokum baik pelaku maupun otak atau actor intelektualnya. Aksi teroris yang dituduhkan kepada Islam dan kaum muslimin seperti yang dipropagandakan media massa sangatlah keliru karena menurut Harits Abu Ulya ada empat landasan yang mendasarinya:[4]

Pertama, secara qath’i, Islam mengharamkan pembunuhan terhadap manusia, baik muslim maupun non-muslim, yang tidak bersalah.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain (yang tidak bersalah), atau karena bukan membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Kedua, merusak dan menghancurkan harta benda milik pribadi maupun umum dengan tegas diharamkan oelh Allah.

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ketiga, Islam mengharamkan terror dan intimidasi terhadap orang Islam. Hal ini sudah jelas dalam hadis-hadis Nabi.

Keempat, orang-orang non-muslim yang masuk dalam wilayah Islam, dan mendapatkan isti’man (visa masuk dari negara Islam), meskipun ia berasal dari Negara kafir musuh (dar al-harb fi’lan), jika dia hendak belajar Islam, maka dia wajib dilindungi.

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” (QS. At-Taubah: 6)

Bagaimana Islam menghapuskan terorisme

Islam telah memberikan batasan kepada pemeluknya untuk tidak melakukan aksi terror. Tindakan tersebut terkategori haram. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:

Tidak halal bagi seorang muslim meneror muslim yang lain.”[5]

Imam as-Syaukani berpendapat, “Ini menjadi dalil bahwa tidak boleh (haram) meneror orang muslim, meskipun hanya sekadar gurauan.”[6]

Selain itu, Imam as-Sarakhshi dari manzhab Hanafi, dalam kitab al-Mabsuth, menyatakan bahwa menteror orang dengan ancaman dan intimidasi hukumnya haram. Dia mengatakan: “Saya tegaskan, seseorang menghunus pedang di depan orang lain; dia hendak membunuhnya, meski tidak dia lakukan; menghunus pisau atau tongkat, namun sama sekali tidak menyerangnya dengan senjata tersebut, apakah dia harus dikenai takzir? Ia menjawab: Ya, sebab dia telah melakukan sesuatu yang tidak dihalalkan, yaitu meneror orang muslim dengan tujuan untuk membunuhnya.”[7]

Oleh karena itu, jika menakut-nakuti orang dengan ancaman dan intimidasi saja haram, maka menimbulkan ketakutan kepada orang lain dengan bom atau merusak hak pribadi dan milik umum, hukumnya jelas diharamkan di dalam Islam. Terlebih lagi, jika semuanya itu dilakukan  bukan di medan perang.

 

Dakwah Tanpa Kekerasan

Apapun alasannya, Islam tidak membenarkan tindak terorisme atau pengeboman. Manfaat apa yang akan kaum muslimin dapatakan dari tindakan pengeboman? Bukankah malah stigmatisasi dan cap jelek terhadap ajaran Islam meskipun sitgmatisasi itu sangatlah tidak tepat? Keagungan ajaran Islam hanya akan terlihat oleh seluruh  manusia jika di dakwahkan. Dakwah yang dilakukan kita selaku musliam tentu pula akan membawa kepada sebuah perubahan di lingkungan masyrakat sekitar kita.

Mengubah masyarakat bukanlah menghancurkan masyarakat, melainkan mengubah isinya, yakni mengubah kepribadian anggota masyarakat, pemikiran, perasaan, serta sistem yang mengatur berbagai interaksi social, politk, ekonomi, dan budaya masyarakat.[8] Dengan begitu akan berubahlah masyarakat yang tadinya jahiliyah menjadi masyarakat Islami seperti yang pernah terjadi pada masa  Rasulullah dahulu. Oleh karena itu, dakwah yang dilakukan adalah dakwah tanpa kekerasan fisik seperti pengeboman.


[1] Media Ummat, edisi 18 hal 7.

[2] Farid Wajdi, Teorisme dan Ketidakadilan Global, Media Ummat edisi 19 hal. 3.

[3] Media Ummat, edisi 18 hal 7

[4] Meida Ummat, edisi 19 hal. 7

[5] Al-Baihaqi Sunan Al-Kubra, Juz X, hal.249

[6] As-Syaukani, Nailul Authar, Juz VI hal 63.

[7] Juz XXIV, hal 37.

[8] Media Ummat, edisi 18 hal 6.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930