//
you're reading...
Cerita

JULEHA

Pukul dua  belas malam. Pintu digedor berulang kali. Makin ke sini makin keras. Juleha tertidur pulas. Maman berpikir bagaimana supaya istrinya bangun. Dia akhirnya menggedor-gedor jendela kamar. Tadinya dia ingin pulang ke rumah Titi, namun rumah Titi jauh berada di desa lain. Jika ingin ke sana harus menempuh jarak dua kilometer jalan dengan menggunakan ojeg. Sementara sudah tidak ada ojeg karena ojeg hanya sampai jam sepuluh atau sebelasan.

“Juleha, bangun! Cepat bangun!”

Kalimat itu diulang sampai tak terhitung jumlahnya. Juleha bangun juga. Dia bangkit dari tempat tidur ke ruang tengah untuk membukakan pintu. Setelah pintu dibuka, Maman menyerobot dengan cepat sambil menggerutu.

“Uuch … lama amat. Aku kedinginan dari tadi di luar tahu!” maman melempar kantongnya dan membanting tubuhnya ke kasur.

Kunaha akang teu nyaur arek uih teh?[1]

Naha kudu make ngomong sagala. Kumaha uing we rek balik rek teu balik oge.[2]

Maman tertidur lelap. Sementara Juleha duduk di kursi ruang tengah. Kepalanya selalu tiba-tiba pusing jika suaminya datang dari Jakarta.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Matahari bersinar dan menerobos kaca jendela kamar. Sejak shubuh Juleha memang sudah membuka gorden kamar. Maman merasa silau saat membuka mata. Dia menggerutu sambil menutup kembali gorden kamar.

“Heeuh … masih pagi, Juleha kenapa gorden sudah dibuka. Aku masih ngantuk!”

Maman membanting kembali tubuhnya ke kasur. Juleha yang sedang sibuk di dapur mendengar teriakan suaminya, segera mencuci tangannya dan meninggalkan cucian piring yang belum beres. Setengah berlari dia menuju kamarnya.  Ketika sampai di kamar dia tidak kuat menahan amarahnya. Dia sudah membangunkan suaminya lima kali sejak shubuh tadi. Dia menyuruh suaminya untuk shalat shubuh. Dalam hati dia berkata, yaa Allah apalagi yang harus kulakukan untuk menyadarkan suamiku. Dengan cara lemah lembut, tidak sama sekali berubah. Apakah harus dengan cara yang keras dan tegas. Wajahnya terasa panas dan amarah pun siap meledak.

Astagfirullah … Akang! Mesti berapa kali saya bangunkan Akang. Waktu shubuh sudah habis. Cukup! Ayo bangun … bangun,” ucap Juleha sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya dengan keras.

Usahanya tidak mempan. Akhirnya dia menarik bantal yang ditiduri Maman dengan paksa. Maman terbangun dan marah. Dia meminta lagi bantalnya sambil membentak. Juleha tidak memberikan bantal itu.

“Ini bukan waktunya tidur, Kang! Ini waktunya untuk kerja.”

“Kembalikan! Kamu itu mengganggu kesenangan orang! Aku capek baru saja pulang. Kamu tidak pernah pengertian.”

“Saya sudah cukup pengertian, Kang. Akang sudah melampaui batas. Usaha Akang di Jakarta tidak ada pengaruhnya bagi keluarga ini. Pulang dari Jakarta Akang tidak pernah memberi nafkah untuk keluarga ini. Apa yang Akang lakukan di Jakarta? Akang hanya jadi tukang judi yang selalu kalah. Pulang kampung bukannnya bawa duit, tapi malah bawa utang yang harus aku bayar. Cukup Kang, saya tidak mau melunasi lagi hutang akang untuk perbuatan haram itu. Mulai hari ini aku tidak sudi lagi menerima uang sepeser pun dari Akang, saya tidak mau anak-anak badannya terkotori oleh harta yang haram.”

Juleha menatap Maman dengan mata menyala karena tersulut amarah. Giginya bergemeretak menahan amarah.

“Cukup! Aku panas mendengar ceramahmu yang tak berguna itu. Aku tidak peduli kata-katamu karena aku tidak pernah sedikit pun memintamu untuk melunasi hutang-hutangku.”

“Oh ya … tapi kamu tidak pernah mau membayar hutang-hutang itu. Semua orang datang menagih padaku. Akang, rumah tangga kita sudah berjalan sepuluh tahun, apakah kita akan terus begini? Apakah Akang tidak akan pernah berubah? Aku sudah capek, Kang! Capek!”

“Kamu tidak pernah menghargai usahaku … ”

Juleha memotong perkataan suaminya, “Usaha apa? Judi? Jelas aku sama sekali tidak menghargai usahamu karena itu perbuatan sia-sia yang dilarang agama.”

“Tapi aku melakukannya untuk memperbaiki eknomi keluarga ini …”

“Omong kosong,” Juleha memotong perkataan suaminya lagi, “mimpi di siang bolong jika kamu ingin memperbaiki keluarga ini dengan judi. Bohong! Mana buktinya. Kang, aku tidak ingin hidup mewah. Buat apa kaya, kalau didapatkan dengan jalan yang tidak halal. Aku ingin akang taat agama dan melakukan pekerjaan yang halal. Biar pun penghasilan tidak seberapa tidak masalah, asal akang ulet dan kita menjalani kehidupan penuh ketaatan pada Allah. Hanya itu tuntutanku, Kang. Tidak banyak. Biarlah aku tidak memakai cincin, kalung, gelang, dan kemewahan-kemewahan hidup lainnya, asal Akang mau mendengarkan saran dariku. Kalau terus-terusan seperti ini, aku sudah tidak tahan, Kang. Lebih baik aku …”

“O …  jadi kamu mau pulang? Ayo pulang … pulang saja sana ke rumah orang tuamu yang hampir roboh itu …”

“Kang! Dengar dulu … kamu jangan salah paham …”

“Sudah … sudah. Aku tidak butuh penjelasanmu lagi. Pulang saja. Aku tidak akan menahanmu.”

Juleha menunduk. Dia berusaha menguatkan diri untuk tidak menangis di hadapan Maman. Dia berpikir kalau menangis di hadapan Maman,  maka dirinya telah kalah.

“Baik jika itu keinginanmu,” ucap Juleha sambil meninggalkan suaminya. Dia segera pergi ke kamar sebelah karena bayinya menangis. Dia memangku bayinya yang menangis. Anak pertamanya mendengarkan pertengkaran mereka sejak tadi di kamar sebelah. Dia menangis saat  melihat ibunya.

“Dewi, mengapa kamu menangis? Jangan menangis, Nak. Ayo cepat berangkat sekolah nanti kesiangan.”

“Iya, Ma, tapi mama jangan ribut lagi dengan bapak.”

“Iya. Nanti pulang sekolah tidak usah ke rumah. Langsung saja pulangnya ke rumah nenek,” ucap Juleha sambil menyusut air mata anaknya. Dia sendiri tidak kuat menahan air matanya.

***

Juleha menidurkan anaknya yang bayi di samping Dewi yang sudah lelap sejak Isya. Jam-jam berlalu, tetapi dia sama sekali tidak mengantuk. Keluar kamar dan duduk di teras rumah. Dia melamun tentang perjalanan hidupnya selama ini.

Dua minggu berada di rumah orang tua dia merasa tidak betah. Dia harus membetah-betahkan diri meskipun bapaknya tidak senang padanya. Bapaknya sering menyindirnya karena keberadaannya akan menambah beban ekonomi bapaknya. Adiknya sebanyak enam orang masih bersekolah. Dia menyadari hal itu dan berusaha mencari kerja supaya bisa membantu membeli beras dan kebutuhan lainnya. Dia berpikir minimalnya keberadaannya tidak hanya untuk menumpang, tapi dapat menyumbang keluarganya yang hidup susah. Dia pun akhirnya bekerja sebagai pembungkus kerupuk di rumah tetangga yang memiliki industri rumah.

Juleha sekolah hanya sampai SD. Setelah itu dia berangkat ke Jakarta untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga. Banyak pengalaman pahit ketika menjadi seorang pembantu rumah tangga. Ada majikan yang  baik dan ada juga majikan yang jahat. Dia pernah mendapatkan majikan muslim dan sudah menjadi haji. Tetapi ketika Juleha memakai kerudung saat bekerja, majikannya melarangnya berkerudung.

“Di rumah nggak usah pakai kerudung, Juleha. Kalau mau keluar atau ke pengajian barulah berkerundung,” kata Bu Haji, “Kalau pakai kerudung, kerjaan membersihkan lantai, memasak, dan mencuci jadi terhambat. Kalau pakai kaos dan celana saja ’kan kamu kelihatan cekatan kerjanya, nggak ribet,” lanjut Bu Haji.

Juleha menurut saja karena percaya pada majikannya yang haji. Juleha berpikir ilmu agama majikannya lebih bagus daripadanya karena dia sudah bergelar haji. Sementara majikannya yang laki-laki yang sering dipanggil Pak Haji sering menyuruhnya memijit saat Bu Haji tidak ada. Lama-kelamaan Pak Haji jadi mulai berani kurang ajar. Juleha melaporkannya pada Bu Haji. Tetapi Bu Haji tidak percaya, bahkan dia malah balik menuduh telah menggoda suaminya. Juleha pun akhirnya dipecat.

Selanjutnya Juleha pindah majikan. Dia mendapatkan majikan beragama Kristen. Walaupun berbeda keyakinan, tetapi majikannya yang baru itu sangat baik, baik majikan perempuan maupun laki-laki. Majikan itu memperbolehkan Juleha memakai kerudung. Majikannya itu adalah keluarga Kristen yang taat. Setiap hari Minggu mereka selalu pergi ke gereja.

Suatu ketika majikannya pindah kerja. Mereka harus pindah ke Bali. Juleha pun di bawa serta karena pekerjaannya mengurus rumah sangat terpakai. Kabar mengenai Juleha pindah ke Bali sampai ke kampung, tetapi dengan berbagai versi. Berita-berita negatif mengenainya sempat menggegerkan kampung. Entah siapa yang menyebarkan kabar miring itu. Beredar kabar di kampungnya bahwa dia telah dijual oleh orangtuanya. Beredar kabar pula bahwa dirinya telah menjadi seorang pelacur di Pulau Dewata. Selama di Bali, setiap bulan dia selalu berkirim surat kepada Emak dan Bapaknya di kampung. Orang tuanya juga selalu membalas surat-surat itu. Dari surat itulah dia tahu pemberitaan negatif di kampung mengenainya.

Selama di Bali, dia sering dibawa oleh majikannya ke gereja. Juleha selalu menunggu di luar gereja. Dia sering mendengar nyanyian-nyanyian yang sering dilantunkan  di gereja. Dia menyukai lagu-lagu itu. Diam-diam dia sering membaca kitab Injil di rumah majikannya. Dia sempat berpikiran bahwa Agama Kristen juga sama benarnya dengan Islam. Dari pengalamannya ketika mendapatkan majikan, ternyata orang Islam juga tidak semuanya baik seperti majikannya yang bergelar haji itu. Malahan lebih baik majikannya yang  beragama Kristen. Akhirnya Juleha berkesimpulan bahwa agama itu sama saja, bergantung pada pribadi para penganutnya. Dia pernah berpikiran untuk berpindah agama seperti agama majikannya. Dia mengutarakan hal itu kepada majikannya. Tentu saja majikannya sangat gembira. Tetapi dia urung karena masih ragu-ragu apakah keputusannya untuk berpindah agama itu adalah keputusan yang tepat. Juleha meminta waktu kepadanya majikannya untuk berpikir ulang supaya bisa memutuskan dengan tanpa penyesalan. Majikannya itu memberikan kebebasan.

Juleha berada di Bali selama tiga tahun. Dia tidak pernah pulang. Dia hanya mengirimkan gajinya sebagai pembantu melalui wesel. Dia sebetulnya ingin pulang, tetapi belum siap menghadapi masyarakat di kampung yang telah menuduhnya menjadi pelacur. Setiap malam, dia selalu menangis. Dia merindukan emak, bapak, dan adik-adiknya. Dia banyak melamun, sehingga tubuhnya pun menjadi kurus. Dia pun jadi sering batuk-batuk. Majikannya dengan murah hati mengantarnya ke dokter. Dokter mendiagnosa bahwa Juleha mengidap penyakit TBC.

Akhirnya Juleha memutuskan untuk pulang kampung. Keinginan untuk pulang kampung diperkuat dengan surat dari orang tuanya yang ditulis oleh adik laki-lakinya yang paling besar bahwa jika dirinya ingin membuktikan tidak pernah dijual dan tidak pernah menjadi seorang pelacur dia harus pulang. Majikannya  membelikannya tiket pulang. Majikannya masih membuka pintu, jika suatu nanti Juleha ingin kembali. Mereka masih membuka kesempatan itu karena Juleha adalah pembantu yang tidak perlu disuruh-suruh dan hasil pekerjaanya selalu sempurna.

Sampai di kampung dia pandang sinis oleh orang-orang kampung. Setiap dia keluar rumah, dia selalu dimata-matai. Dia berusaha menyelidiki siapa sebetulnya yang telah menyebarkan gossip yang berisi fitnah tidak berdasarkan fakta itu. Setelah beberapa bulan, akhirnya dia mengetahui aktor yang telah menyebarkan fitnah itu. Orang menyebarkan fitnah itu adalah Mustopa, tetangganya sendiri yang dulu pernah berangkat bersama sewaktu pertama kali ke Jakarta.

Selanjutnya dia menikah dengan seorang pemuda di kampungnya. Pemuda itu mau menikahi dirinya karena dia tahu betul bahwa sebetulnya tidak seperti yang diceritakan orang-orang kampung.  Lelaki itu bernama Maman. Seperti pemuda kebanyakan pemuda di kampungnya, lelaki itu berwirausaha di Jakarta sebagai penjual siomay. Setelah menikah Juleha sering ikut mengaji di majlis ta’alim ibu-ibu. Dia ingin menghilangkan keragu-raguannya pada agama Islam. Dia rajin bertanya kepada ulama di kampungnya jika mengalami suatu masalah. Dia mulai mempelajari Islam agar merasa tentram dalam menjalani kehidupan ini.

Juleha mengenal Maman adalah seorang lelaki baik-baik yang berasal dari keluarga baik-baik. Maman juga begitu mencintai Juleha sehingga dia selalu mencukupi kebutuhannya, lahir dan batin. Tetapi kenyataan yang ia hadapi di kemudian hari ternyata suaminya itu banyak menutupi jati dirinya. Dia sering mendengar pemberitaan orang-orang kampung bahwa suaminya suka judi selama di Jakarta.

Dia menyusul ke Jakarta tanpa sepengetahuan Maman untuk mengecek apakah benar suaminya seperti itu. Alangkah terkejutnya dia ketika sampai di kontrakan suaminya. Ternyata kontrakan Maman dijadikan markas untuk berjudi bersama teman-temannya. Juleha marah besar. Dia tidak berbicara dengan suaminya selama tiga hari. Setelah itu dia memaksa suaminya pulang. Dia mengancam suaminya jika tidak mau pulang dia akan pulang ke rumah orang tuanya dan tidak akan pernah mau lagi pulang ke rumah suaminya. Akhirnya Maman mau.

Sampai di kampung Juleha meminta suaminya untuk tidak berangkat lagi ke Jakarta. Dia menyarankan untuk mencari pekerjaan di kampung saja. Baik orang tuanya sendiri maupun mertuanya telah menawarkan sebidang sawah untuk digarap. Kalau saja Maman menerimanya, dia tidak perlu berangkat ke Jakarta lagi. Sawahnya akan mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga meskipun secukupnya. Sayang Maman tidak mau menerima tawaran itu. Bukannya dia tidak bisa mencangkul dan mengolah sawah, melainkan dia orangnya pemalas. Selama ini, sepulang dari Jakarta dia tidak pernah membantu orang tuanya maupun mertuanya ketika sibuk musim molah[3]. Kalau lagi di kampung, jika tidak tidur seharian biasanya dia suka keluyuran bermain bersama teman-teman lamanya. Sepertinya dia masih belum bisa menghilangkan kebiasaan lamanya sewaktu masih pemuda meskipun sudah punya anak dua. Tentu saja ini membuat jengkel Juleha. Juleha merasa sangat malu pada orang tua, juga mertuanya.

Maman kemudian berangkat lagi ke Jakarta. Tidak ada yang bisa mencegahnya meskipun Juleha sudah meminta bantuan kepada mertuanya. Dia meminta kepada mertuanya untuk mencegah Maman setelah dia menjelaskan apa yang dilakukan Maman sebenarnya di Jakarta. Namun rupanya Maman sudah tidak takut lagi kepada bapak dan ibunya. Dia tidak takut dengan ancaman orangtuanya.

Juleha tidak bisa menahan keberangkatan suaminya. Dia hanya berpesan kepada suaminya agar tidak mengontrak di tempat semula. Maman di minta untuk mencari tempat yang lebih baik yang bisa mempengaruhinya minimalnya tidak membuat dia terjerumus lagi ke dunia perjudian.

”Tenang saja, Juleha. Aku akan cari tempat baru. Aku akan bekerja yang halal seperti yang kamu inginkan. Doakan saja aku.”

Hatur nuhun[4], Kang. Saya pegang omongan Akang. Saya percaya pada Akang.”

Juleha merasa sedikit lega. Sementara Maman juga lega karena ternyata istrinya begitu saja percaya pada dirinya. Padahal di hatinya dia sudah berniat untuk berjudi lagi. Dia sudah tidak sabar untuk mengundi nasib dengan kartu-kartu bersama teman seperjuangannya di Jakarta. Kebohonganya tidak terungkap selama lebih dari tiga bulan. Meskipun setiap pulang dia tidak pernah memberi nafkah, Juleha bersabar karena dia memahami usaha suaminya, bahwa berdagang ada kala sepinya. Dia berusaha membantu meringankan beban suaminya dengan berusaha buburuh[5] di sawah. Itu dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dia bekerja dari pagi sampai dzuhur dengan mendapat upah sepuluh ribu rupiah. Jika malam datang, tubuhnya akan terasa pega-pegal karena dia belum terbiasa melakukannya.

Suatu ketika tersiar lagi kabar bahwa suaminya ternyata masih melakukan judi meskipun sudah pindah tempat. Juleha sangat kecewa karena telah dibohongi. Dia marah lagi kepada suaminya. Sejak saat itu dia tidak pernah mempercayai lagi suaminya. Dia mulai hidup mandiri. Mencari  uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya. Juleha merasa bahwa apa yang dia lakukan di kampung masih kurang mencukupi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Sementara dia tidak pernah menerima nafkah lagi dari suaminya. Juleha sudah berjanji pada dirinya sendiri dia tidak sudi  menerima uang pemberian suaminya yang tidak jelas kehalalannya.

Juleha akhirnya terpaksa berangkat ke Malaysia jadi seorang TKW. Dia memutuskan hal itu karena tidak mau membebani keluarganya yang kehidupannya sangat sulit. Jika dia berangkat ke Malaysia, dia berpikir akan dapat sekaligus membantu orangtuanya. Dia titipkan kedua anaknya kepada ibunya. Dia berangkat ke Malaysia untuk jangka waktu dua tahun.

Selama di Malaysia  dia termasuk orang yang tidak cukup beruntung. Meskipun dia tidak mengalami penyiksaan fisik seperti yang dialami TKW lain yang sering diberitakan di media, tetapi selama di Malaysia dia mendapatkan seorang majikan yang kikir. Majikannya, baik yang perempuan maupun laki-laki sering memarahinya dan berkata-kata yang kasar. Mereka sering marah tanpa alasan yang jelas. Majikannya itu sering mengatakan padanya bahwa orang Indon[6] itu bodoh seperti dirinya. Sering majikannya itu menggelarinya dengan sebutan tolol dan bego. Sungguh Juleha tidak bisa menerima hal itu. Batinnya berteriak-teriak ingin memberontak. Tetapi dia tidak berdaya untuk melawan. Dia pasrah dan menunggu waktu segera bergerak secepat kilat supaya penderitaanya di negeri orang bisa segera berakhir.  Setiap malam dia sering menangis merindukan kedua anaknya dan orang tuanya. Dia juga merindukan suaminya karena bagaimana pun buruknya perilaku Maman, dia tetap suaminya dan dia masih mencintainya.

Berakhirlah penderitaan itu. Dia pulang ke Indonesia. Namun kebahagiaan itu hanya sementara. Sampai di kampungnya, dia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya telah menikah lagi. Jadi uang kirimannya selama ini yang ia kirimkan kepada suaminya itu telah disalahgunakan. Hatinya sungguh hancur dan kali ini Juleha tidak akan pernah memaafkan suaminya. Dia sudah terlalu sering disakiti.

***

Dia merindukan rumahnya, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. Setiap kali dia merindukan suaminya dia mengalihkan perasaannya itu dengan menciumi dan membelai anak-anaknya. Wajah kedua anaknya memang mirip dengan suaminya. Setiap kali kerinduan itu datang, dia menangis dan menghibur hati dengan membaca ayat-ayat Al-Quran.  Tidak lupa dia juga sempatkan shalat dhuha, tahajud, dan shalat sunnat lainnya. Dalam doa-doanya dia memohon rahmat dan berkah untuk keluarganya.   

Juleha berpikir jika dia benar-benar sudah tidak ada harapan lagi dengan Maman, dia akan berusaha mencarikan bapak untuk kedua anaknya. Dia kuatir perkembangan anaknya akan mengalami hambatan jika tidak didampingi oleh seorang bapak.

Suatu kali dia bercermin memandangi dirinya. Wajahnya yang hitam karena memang terbakar matahari saat di sawah. Tangan-tangannya yang kasar tak terawat karena selalu memegang benih padi yang ditanam di lahan. Dia berpikir apakah masih akan ada orang yang tertarik padanya. Dia membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu. Dia yakin urusan jodoh adalah urusan Tuhan.

***

Enam bulan kemudian …

Maman duduk di kursi reyot di ruang tengah. Sementara Juleha masih mondar-mandir di kamar. Maman menunggu sudah lebih dari satu jam. Juleha masih ragu apakah tetap diam di kamar ataukah menemui suaminya. Emak dan bapaknya sudah mengobrol dari tadi dengan Maman. Maman mengatakan kepada mertuanya bahwa kedatangannnya adalah untuk menjemput istrinya. Emak dan bapak Juleha merasa sangat bahagia mendengarnya. Mereka berulang kali meminta Juleha keluar untuk menemui suaminya.

Juleha masih mondar-mandir. Tiba-tiba dari balik gorden pintu kamar bapaknya menyembul.

”Juleha, kamu kenapa belum juga keluar. Kasihan Maman. Dia sudah dari tadi menunggu. Dia ingin berbicara padamu.”

”Pak, saya malas menemuinya.”

”Eh … jangan begitu. Tidak baik. Ayo temui.”

Juleha menundukkan wajahnya. Dia memandangi lantai papan. Sementara bapaknya keluar. Kemudian Juleha memandangi wajah kedua anaknya secara bergiliran. Dia merasa kasihan pada anaknya karena mereka kurang bimbingan dan  kasih sayang dari bapaknya. Seandainya dirinya bercerai bagaimanakah nasib anak-anaknya. Dia bergidik membayangkan hal itu terjadi.

Tiba-tiba muncul keberanian dalam dirinya untuk mantap menemui suaminya. Apa pun yang terjadi dia serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Dia berharap dengan menemui suaminya itu bisa menyelesaikan segala permasalahan rumah tangganya.

Ketika dia keluar, dia terus menunduk. Dia tidak berani wajah suaminya. Ada rasa malu, benci, sekaligus rindu yang menyatu. Entahlah dia tidak mampu membayangkan bagai mimik wajah Maman saat dia menunduk. Sementara Maman juga sedikit gugup. Dia pun menunduk sambil memainkan bagian ujung bajunya. Suasana beku. Dengan keberanian yang masih sedikit tersisa Maman mengawali pembicaraan.

”Juleha, aku datang ke sini untuk minta maaf. Dan jika kamu berkenan aku ingin memperbaiki semuanya. Aku sadar akan kesalahanku. Aku sudah bercerai dengan si Titi. Jika aku bertahan dengannya aku tak yakin apakah aku akan bisa bertahan untuk memprbaiki diri. Jika terus hidup dengan dia aku akan selamanya menjadi manusia bebal. Makanya aku menceraikannya.”

”Syukurlah jika kamu sudah mulai berubah. Aku bahagia mendengarnya.”

”Ya terima kasih. Aku sudah bosan hidup seperti ini. Aku ingin hidup lebih baik. Aku berpikir hidup lebih baik itu akan sempurna hanya denganmu. Aku kira aku tidak berlebihan. Aku pernah bermimpi hampir jatuh ke jurang, dalam mimpi itu aku berteriak-teriak minta tolong tetapi tidak ada satu orang pun yang mau mengulurkan tangannya meskipun di sekitar jurang itu banyak orang lalu lalang. Aku sudah putus asa dan suaraku sudah habis. Tiba-tiba kamu muncul dan mengulurkan tangan hingga akhirnya aku selamat.”

”Juleha, aku ingin mengajakmu untuk rujuk lagi. Apakah … kamu bersedia? Sungguh merupakan anugerah yang tiada bandingannya jika kamu mau hidup bersamaku lagi.”

Air mata tiba-tiba meleleh di pipi Juleha yang semu merah. Dia segera menyusutnya dengan ujung kerudung birunya. Dia tidak kuasa menahan rasa harunya. Maman sendiri tidak sabar apa yang akan diucapkan oleh istrinya.

”Bagaimana? Bersediakah, Juleha?”

Sambil menangis Juleha berkata, ”Aku bersedia, tapi ada syaratnya?”

Wajah Maman tersenyum mengembang. Dia berteriak-teriak dalam hati mengatakan : Yes! Yes! Yes! ”Iya … apa syaratnya?”

”Aku tidak mau hatimu mendua lagi untuk selamanya dan kamu selamanya tidak boleh berjudi. Jika kamu tidak bisa memenuhi syarat itu, lebih baik kamu pulang sekarang juga!”

Dengan girang Maman berkata, ”Aku siap dengan segala syaratmu. Kalau begitu sekarang juga kita pulang.”

Juleha tersenyum sambil memukul pundak suaminya, ”Tidak sekarang, Kang. lagi pula anak-anak sudah tidur. Aku akan pulang setelah kita memperbaiki akad kita. Malam besok akang harus mengucapkan ijab qabul di depan bapak.”

”Kenapa tidak malam ini saja. Aku sudah tak sabar.”

”Harus nyari saksi dulu. Tidak mungkin ini sudah terlalu malam.”

”Baiklah, kalau begitu aku pulang dan malam besok aku ke sini lagi. Aku sudah tak sabar karena kita akan seperti jadi pengantin baru lagi.”

”Sudahlah … jangan menggoda terus. Sana cepat pulang!”

Juleha mendorong suaminya hingga suaminya keluar rumah. Setelah menutup pintu dia diam sambil menyungging senyum. Dia mengintip suaminya dari kaca jendela. Dari dalam dia menyaksikan tubuh bagian belakang suaminya yang  makin mengecil dan kemudian hilang.

Bandung, 24 juli 2010,

Di sudut kamar Al-Muhajirin yang lembab dan pengap


[1] Kenapa Akang nggak bilang kalau mau pulang?

[2] Kenapa harus bilang dulu. Gimana aku aja, mau pulang atau nggak pulang juga.

[3] Musim tanam padi

[4] Terima kasih

[5] Menjadi buruh menanam dan menyiangi sawah

[6] Sebutan penghinaan

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

3 thoughts on “JULEHA

  1. aku terharu skli membca Tautan dri Antum.ada peljrn tata cara menyikpi berumh tangga di dlmnya.Pokoknya Best dech..”

    Posted by ahkam Kusuma | 22 November 2011, 12:44 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930