//
you're reading...
Cerita

EMAKKU SUPERWOMAN

 

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan

Tak sanggup kumembalas

Ibu … ibu[1]

 

Keluargaku termasuk kategori keluarga besar. Aku mempunyai lima orang kakak—tiga orang kakak perempuan dan dua orang kakak laki-laki—dan satu adik perempuan. Sebetulnya keluarga kami—dihitung lengkap dengan Emak dan Bapak—lebih satu dari kesebelasan sepak bola. Namun tiga orang saudaraku meninggal ketika masih bayi.

Keluargaku termasuk keluarga yang tidak kaya, dan tidak juga miskin-miskin amat. Keluargaku dihidupi dari mata pencaharian Bapak sebagai petani. Saudara-saudaraku menamatkan sekolahnya hanya sampai SD. Mereka semua telah berkeluarga dan masing-masing sudah mempunyai anak. Diantara mereka belum ada satu pun yang sukses dalam hal finansial, sehingga aku dan adikku tidak bisa berharap atau bergantung meminta bantuan kepada saudara-saudaraku yang sudah berumah tangga untuk membantu membiayai sekolah kami. Hanya aku dan adikku yang bisa meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Aku dan adikku pun dibiayai kuliah dari hasil  bertani. Itu kami lakukan dengan modal nekad karena dari hasil pertanian yang diolah bapak itu cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Mirisnya jika musim paceklik datang, keluarga kami yang hidup dari bertani pun harus membeli beras.

Aku ingin ibuku tersenyum atas segala peluh dan darah yang selama ini ia kerahkan untuk kebahagiaan anak-anaknya. Aku ingin ibuku tersenyum setelah sekian lama ia dedikasikan hidupnya hanya untuk kebahagian kami sekeluarga. Ibuku adalah seorang yang memiliki jiwa altruistik yang tinggi. Ketulusan dan kasih sayangnya tidak diragukan lagi. Dia rela mengorbankan kepentingan dirinya demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibuku selalu menjadi tempat bergantung saudara-saudaraku yang sudah berkeluarga. Jika mereka ditimpa masalah, mereka selalu mengadu pada Ibu.  Meskipun di rumah tidak selalu banyak makanan, tetapi rumah selalu ramai oleha cucu-cucunya.

Aktivitas yang Emak lakukan lebih padat dibandingkan aktivitas yang dilakukan Bapak. Bapak bekerja di sawah dari pukul enam sampai jam lima sore. Pulang ke rumah beliau istirahat. Dan malam belaiu tidur dengan nyenyak. Belaiu bangun ketika adzan shubuh berkumandang.

Sementara Emak tidaklah demikian. Emak bangun jam dua atau tiga dini hari. Beliau habiskan sepertiga malam dengan shalat tahajjud dan tilawah al-Quran. Sebelum berangkat ke sawah. Kemudian kadang-kadang beliau tidur lagi, tetapi kebanyak tidak karena belaiu terbiasa menanak nasi pagi-pagi, sehingga pukul setengah enam pun sarapan sudah tersedia. Belaiu berangkat ke sawah lebih siang daripada Bapak dan pulangnya pun lebih cepat. Namun, belaiu tidak sempat istirahat lama sepulang dari sawah karena harus memasak lagi untuk makan malam. Saking karena lelahnya, sampai-sampai beliau sering terlihat terkantuk-kantuk saat menonton TV. Cucu-cucunya sering menertawakannya, bahkan sebagian kakakku pun ada yang menertawakan. Aku tidak suka hal itu. Mereka benar-benar tidak merasakan bagaimana capainya Emak. Jika mereka menertawakannya di hadapanku aku suka memarahinya.

Ketika aku masih SMA, aku tinggal di kostan dan pulang dua minggu sekali. Ketika Bapak pulang, belaiu menceritakan musibah yang menimpa ibuku. Seandainya Bapak tidak menceritakannya, sampai saat ini baragnkali aku tidak akan pernah mengetahuinya.

Bapak kurang lebih bertutur seperti berikut ini,

“Seperti biasa, Emak bangun jam dua malam. Dia keluar untuk mengambil air wudhu. Usai mengambil air wudhu tiba-tiba tubuhnya lemas dan jatuh. Emak tidak mampu berjalan. Bapak menuntunnya sampai bisa masuk ke rumah dan duduk di kursi. Dia memaksakan diri untuk shalat malam. Karena tidak bisa berdiri, dia shalat dengan posisi duduk.

Usai shalat lemas yang menimpa emakmu belum juga hilang, malah emakmu mengatakan terasa makin parah. Tangan dan kakinya terasa sangat dingin. Bapak bingung harus berbuat apa-apa. Kemudian emak berbaring. Dia ingin mengatakan sesuatu pada bapak, tapi kesulitan. Suaranya pun kecil. Bapak ingin meminta bantuan ke tetangga, tapi emakmu melarangnya. Dia mengatakan takut ditinggal sendirian. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Bapak merinding bulu kuduk dan Bapak benar-benar tidak siap.

Emakmu ingat mati. Bapak tidak siap jika Emak meninggal lebih dahulu. Bapak tidak bisa mengurus kalian. Jika bisa memilih, lebih baik Bapak meninggal lebih dahulu. Bapak tidak tahu apa yang harus Bapak perbuat jika emak meninggal lebih dahulu. Bapak tidak tahu nasib pendidikan kalian akan sepeti apa.

Ibumu membisikkan sesuatu ke telinga Bapak. Dia mengatakan, ‘tolong jaga anak-anak. Jangan sampai pendidikan mereka putus di tengah jalan. Lanjutkan pendidikan Jajang dan Onih sampai kuliah.’ Bapak tidak bisa menghadapi ini sendiri. Bapak menangis dan berlari meminta bantuan ke beberapa orang tetangga. Mereka pun berdatangan ke rumah. Emak diperiksa oleh tetanggaku yang ahli pijat. Bapak mengikuti saran-saran pengobatan dari setiap orang yang menjenguk. Dalam beberapa hari, alhamdulillah Emak sehat seperti semula.”

Aku takjub mendengar penuturan Bapak. Dalam kondisi demikian genting, bukan diri emak sendiri yang beliau khawatirkan melainkan nasib anak-anaknya. Ya, faktanya memang demikian. Tubuh beliau benar-benar kurus karena tenaganya habis membantu Bapak di sawah. Beliau tidak memperhatikan tubuhnya lagi karena dia sibuk berusaha bagaimana caranya agar kami bisa lulus kuliah. Beliau tidak memikirkan baju-baju baru seperti kaum ibu lain, karena yang dipikirkan adalah masa depan dan kesuksesan kami. Bahkan, belaiu tidak memedulikan penyakit maagnya yang kronis. Jika sakit, beliau tidak terlihat sedih. Selama mampu, walau pun sakit beliau tetap ke sawah. Sebaliknya, beliau sangat sedih jika aku dan adikku sakit. Beliau akan berusaha melakukan apa pun supaya sakit kami tidak menghambat sekolah kami.

 

Suatu ketika aku pulang kampung. Tak dinyana adikku juga pulang. Dia pulang karena sebentar lagi akan UTS. Dia pulang untuk menyampaikan surat pemberitahuan dari pihak universitas yang isinya harus melunasi tunggakan uang bangunan minimal setengahnya. Jika tidak dilunasi, maka dia tidak akan bisa mengikuti UTS. Adik perempuanku itu menceritakannya padaku. uang tunggakannya sebesar dua juta lebih. Berarti yang dibutuhkan sejuta lebih. Nominal uang yang begitu besar untuk ukuran keluarga kami. Untuk mendapatkan uang sebesar itu perlu perjuangan keras dan membutuhkan waktu yang begitu lama. Dia menceritakannya pada ibu dan kakakku yang ke-5 sehari sebelum berrangkat. Namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Kondisi keluargaku memang tengah berada dalam kesulitan. Setelah itu, dia tidak berani menceritakannnya lagi pada ibu, apalagi pada bapak. Untuk urusan semacam ini, Bapak tidak pernah tahu. Kalau pun tahu beliau hanya bisa mengeluh. Aku berpikir mencari-cari cara bagaimana agar permasalahan ini bisa dipecahkan. setelah beberapa lama aku belum juga menemukan jawabannya.

Aku ingat sisa tabungaku di simpan di BMT (Baitul Maal Wal Tamwil) Srimukti Sadawangi. Ternyata Cuma ada dua ratus ribu. Masih sangat jauh untuk menutupi kekurangannya. Aku ingin meminta kepada kakak-kakakku yang berjumlah empat orang. Mungkin jika uang sebesar itu ditanggung oleh beberapa orang itu tidak akan terasa berat. Namun rencana itu tidak kesampaian. Kakak-kakakku tidak ada satu pun yang kondisi finansialnya berkecukupan. Hampir semuanya mengalami kesusahan.  Aku berpikir lagi kemana bagaimana menutupi kekurang yang masih besar itu.

Aku berencana meminjam kepada  salah seorang kerabatku yang terbilang berkecukupan. Walaupun masih bujangan, penghasilannya sudah lumayan. Dia mampu membantu menyekolahkan adik-adiknya. Aku sudah berbicara padanya. Dia mengiyakan. Hanya ketika adikku mau berangkat, kerabatku sedang dalam acara resepsi pernikahan saudaranya. Aku pun ikut membantu dalam acara resepsi itu dan dia memang kelihatan sibuk. Aku merasa tidak enak hati untuk meminjam uang pada waktu itu. Tidak etis rasanya dikala orang sedang sibuk, kita memohon-mohon bantuannya.

Sampai beres acara aku belum berani juga meminta uang itu. Akupun pulang. Adikku masih ada di rumah.

“Dek, maaf Dek saya belum bisa menambah sisa uang yang masih besar itu?”

“Enggak apa-apa, Kak. Alhamdulillah uangnya udah cukup.”

Aku terhenyak, “Dari mana?”

“Emak tadi udah ngasih, bahkan jika digabungkan dengan uang dari Kakak, ada sisanya. Lumayan bisa dipakai untuk makan beberapa minggu.”

Aku ikut senang. Wajah adikku terlihat cerah. Aku piker tadinya Emak tidak berusaha. Tadinya aku sudah berpikiran negatif pada beliau. Jika untuk biaya kuliahku, beliau pontang-panting kesana kemari agar aku bisa bertahan kuliah, mengapa untuk kuliah adikku beliau tidak seperti membiayai kuliahku? Apa karena aku laki-laki dan adikku perempuan? Sungguh tidak adil rasanya. Aku merasa sangat berdosa karena telah meragukan cinta beliau yang tulus pada anak-anaknya.

Kakak ke-empatku datang sambil menggendong bayinya yang berusia satu tahun lebih. Dia menanyakan emak.

“Emak mana?” katanya.

“Sudah berangkat ke sawah,” jawab adikku.

“Tadi beliau titip pesan kalau mau berangkat. Cek dulu barang-barangnya yang tertib. Emak sudah membungkus nasi, masukkan ke kantong supaya nanti kalau Mamang sudah sampai di Bandung dan Bibi sudah sampai di Majalengka tidak usah masak.”

Kakak sengaja menyebut kami mamang dan bibi untuk membiasakan anak-anaknya memanggil kami seperti itu.

“Teh, Emak dapat uang dari mana?”

Kakakku berusaha menjelaskan dengan gamblang.

“Tadi beliau ke rumah. Beliau menceritakan semuanya ke Teteh. Teteh malah bingung soalnya uang Teteh pun masih banyak di luar. Banyak yang belum bayar. Emak sudah coba pinjam ke beberapa orang tapi hasilnya nihil. Emak sampai menangis karena takut Bibi tidak bisa berangkat ke Majalengka dan tidak bisa ikut ujian.Teteh pun bingung harus bagaimana.

Tiba-tiba Teteh ingat uang Ceucep[2] Fahmi[3] yang lumayan gede. Barangkali uang itu masih ada. Kemudian teteh menyarankan Emak supaya menemui Bapaknya dan meminjamnya. Akhirnya Emak menuruti saran teteh. Alhamdulillah ternyata masih ada. Kalian tahu kan bagaimana keluarga mereka yang acuh terhadap masalah keluarga. Mereka tidak mau peduli pada kesulitan yang dihadapi Emak untuk menguliahkan Bibi dan Mamang. Mereka belum pernah untuk sekadar membantu memberi ongkos ketika Bibi dan Mamang mau berangkat. Teteh sempat kepikiran jika saja mereka tidak memberikan pinjaman uang, teteh benar-benat akan marah. Alhamdulillah ternyata mereka masih menyimpan kepedulian terhadap kita.”

Aku merasa lega. Pada akhirnya, selalu Emak yang menjadi penyelesai semua masalah yang menimpa kami semua.

 

Jika  belum pernah

Kau dengar ucapan terima kasihku

Ketahuilah doaku ini

Moga Tuhan menyayangimu

Seperti mana kau mengasihiku

Dari dulu hingga kini untuk selama-lamanya[4]


[1] Ibu, Iwan Fals

[2] Uang pemberian orang-orang terhadap anak lelaki yang dikhitan

[3] Cucu Emak dari anak yang ke-2

[4] Ibu, Brothers

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930