//
you're reading...
Cerita

Sang Guru Muda Di Pondok Cinta

Kutulis semua ini dengan cinta. Kutulis semua ini, tatkala kuingat kenangan manis yang menginspirasi itu. Empat tahun yang lalu saya mengenalmu, oh Guruku. Saya mengenalmu di pondok kecil, sebuah pesantren yang tidak begitu terkenal yang didirikan oleh ayahandamu. Waktu itu, santri hanya berjumlah kurang lebih 12 orang. Pertama kali berkenalan denganmu, saya begitu terkesan dengan senyumanmu yang ramah dan jabat tanganmu yang lembut.
Guruku, maukah engkau membaca suratku ini? Saya merasa bahagia andai Engkau membacanya. Kerinduanku akan terobati andai kita ditakdirkan bertemu lagi, meskipun pertemuan itu hanya dalam bentuk deretan kata yang terkirim dan diterima untuk selanjutnya dibaca. Kutulis surat ini atas dasar ta’dzim saya sebagai salah satu orang yang pernah mendapatkan setitik ilmu darimu.
Saya datang ke pondokmu lebih dulu ketika para santri masih berlibur. Saya sendirian dan tidak punya teman. Saya pun mulai akrab dengan engkau, wahai guruku. Saya kagum pada penampilanmu yang selalu rapi dan harum. Itu makin memperlengkap penampilan fisik yang memang oleh Allah engkau dikaruniai penampilan yang terbilang tampan. Kalau dibandingkan dengan selebriti, dulu saya sering membandingkanmu dengan pemain sepak bola, Alessandro Del Piero, dan artis sinetron sekaligus salah satu personil grup Band Element, Didi Riyadi. Saya teringat pada sepupuku yang lulusan IAIN Bandung (sekarang UIN). Dalam pikiranku, seandainya kalian berdua bersanding, terasa cocok. Seorang muslimah aktivis dengan seorang ustadz yang tak kalah ganteng dengan artis.
Seminggu pertama tinggal di pondok, saya tidur di ruang tengah, tempat di mana engkau menyimpan buku-buku koleksimu. Ruang tersebut bersebelahan dengan kamarmu. Saya disuruh tidur di situ barangkali Ibu dan Bapak kiyai merasa kasihan melihat saya tidur sendirian di kamar asrama yang terletak di lantai dua. Sebelum tidur saya selalu meminta izin padamu untuk membaca buku-buku yang terpajang di lemari. Buku-buku tersebut tertata rapi, disampul dan di dalam lemarinya digantungi fogo. Sambil membaca buku, saya terenyuh mendengar tilawah yang engkau lantunkan, bahkan ketika mendengarnya saya menitikkan air mata. Engkau membaca sampai satu jam lebih. Dan itu dilakukan setiap malam. Saya berpikir, apa tidak lelah dan bosan?
Belakangan kemudian baru kuketahui bahwa Kau adalah seorang Hafidz yang menghafal Al-Quran secara otodidak. Subhanallah, hatiku berdecak penuh kekaguman. Saya pun termotivasi untuk menghafal Al-Quran seperti Engkau. Saya masih ingat saat-saat saya menyetorkan hafalanku dimulai dari Juz 30. waktu itu belum ada santri yang dapat menamatkan hafalan selain saya. Atas prestasi kecil itu, engkau menghadiahiku kaset murattal imam Al-Mathroud juz 30. “Untuk membantu dalam muraja’ah ,” kata Engkau sewaktu menyerahkan kaset itu. Betapa bahagianya saya waktu menerimanya. Sungguh bahagia, oh guruku. Saya pun semakin bersemangat melanjutkan hafalan. Saya mulai menghafal surat-surat pilihan sebelum berlanjut ke Juz I.
Kekaguman-kekaguman lain bermunculan seiring semakin akrabnya saya denganmu, oh guruku. Kau memiliki banyak kelebihan yang makin membuatku ingin meneladanimu. Meskipun hanya lulusan SD dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi pesantren, engkau memiliki minat baca yang tinggi. Engkau tidak seperti ulama yang masih berpikiran konservatif, yang memandang bahwa yang dibaca itu mesti kitab kuning alias kitab gundul saja. Engkau sangat lain. Engkau rajin membaca majalah Islami, buku-buku kontemporer fiksi maupun nonfiksi. Tentu juga tak ketinggalan menu wajibmu, kitab-kitab Islam karangan ulama-ulama terdahulu.
Tidak semua orang yang suka membaca suka menulis. Tetapi ternyata Engkau menyukai dua-duanya. Apa yang telah dibaca, Engkau tulis lagi dalam bentuk artikel atau tulisan biasa dalam buku catatan. Tulisanmu menurutku, sudah sama berkualitasnya dengan para penulis terkenal. Aku pernah bertanya-tanya, mengapa Engkau tidak mengirimkan tulisan-tulisanmu ke media?
Ada lagi kelebihanmu yang lain. Ternyata Kau pandai berbahasa Arab dan Inggris. Kapan belajarnya? Pikirku. Orang yang sudah kuliah pun belum tentu menguasai dua bahasa internasional itu. Sementara Engkau yang hanya merasakan bangku SD menguasai kedua bahasa itu dengan baik. Kalau bahasa Arab barangkali dipelajari selama di pesantren. Tetapi bahasa Inggris kok bisa?
Selama berinteraksi dengan engkau di pondok, saya sering memperhatikan model pakaianmu yang unik. Jujur saya belum menemukan mode-mode baju koko yang dikenakan olehmu di pakai oleh orang lain. Selidik punya selidik, ternyata Engkau juga mahir menjahit. Jadi, model-model koko yang unik itu dirancang sendiri olehmu.
Masih ada lagi kelebihanmu yang lain, yaitu Kaligrafi. Semua kaligrafi yang terpajang di dinding rumah, di asrama, di masjid, dan tempat lain yang berada di kompleks pesantren konon adalah hasil kreasimu. Dan yang lebih menakjubkan lagi, kaligrafi yang menghiasi masjid agung kecamatan Talaga juga adalah hasil kreasi Engkau bersama Ayahanda.
Saya sangat senang tatkala membicarakan kebaikan-kebaikanmu, kelebihan-kelebihanmu kepada teman-temanku, ibu dan Bapakku, saudara-saudarsaya dan ke seluruh dunia. Biarkan seluruh dunia ini mengetahui bahwa ada orang yang telah menginsirasi hidupku untuk lebih baik, yaitu Engkau wahai guruku.
Entah kapan kita berdua ditakdirkan bertemu lagi. Waktu lebaran tahun kemarin, saya bertandang ke rumah Bapak Kiyai. Namun sayang, engkau sedang ada di luar. Saya masih ingat segala kelebihanmu itu. Dan ketika mengenang itu semua sungguh betapa sangat indah dan menjadi daya dorong bagiku untuk tetap maju menaklukkan kerasnya kehidupan. Andai kelak kita dipertemukan, saya ingin mengecup tanganmu meskipun saya yakin Kau akan menolak dan menghempaskan tanganmu.
Barangkali itu saja yang bisa kutulis untuku, wahai guruku. Aku berharap Engkau melantunkan doa untukku semoga Ilmu yang telah kudapatkan darimu manfaat dunia akhirat. Aku pun dari kejauhan berdoa semoga Engkau senantiasa berada dalam lindungan Allah dan menjadi istiqomah sebagai Pejuang Allah yang sejati.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930