//
you're reading...
Cerita

ZERO

Kamar lembab. Jika hujan turun dinding bagian kamar sebelah barat terlihat basah oleh air. Begitu pun lantainya. Jika dibiarkan beberapa hari tidak dibersihkan akan muncul jamur dan makhluk-makhluk hitam kecil menjijikan. Begitulah kamar yang dia huni saat ini. Kamar itu dia tempati secara gratis. Kamar itu terletak di sebelah selatan mihrab masjid.

Hafiz sering menyendiri akhir-akhir ini. Ada rasa cemas akan masa depannya. dia terkadang merasa menyesali nasib yang menimpa dirinya. Dia sadar bahwa itu keliru. Dia tahu bahwa hal itu menunjukkan dirinya berputus asa. Dia sering mendengar dari ceramah para ulama, trainer dan motivator bahwa putus asa bukanlah jalan terbaik. Dia tahu itu dan tidak pernah sedikitpun ingin berputus asa. Tapi begitulah yang namanya manusia. Ada kalanya manusia kuat, dan ada kalanya semangatnya menurun. Seperti halnya iman manusia. Ada saatnya iman bertambah, tetapi di kesempatan lain itu melemah dan berkurang.

Walaupun Hafiz putus asa, dia sadar bahwa dia tidak bisa larut dalam keputusasaanya. Dia mencai-cari moment di mana dia bisa bangkit dan bersemangat lagi. Tapi tidak sekarang, badannya sungguh terasa lemas dan jika dia berpikir saat ini, kepalanya akan bertambah sangat pusing.

Hafiz merebahkan badan di kasur. Dia tertidur dalam posisi terlentang. Dia sejenak membuang kesulitan-kesulitan hidup yang dialaminya. Dia berharap alam mimpi bertemu dengan para bidadari dan malaikat yang mengabarkan kabar membahagiakan untuknya.

***

Bulan ini Hafiz ingin daftar seminar proposal.  Pendaftaran terakhir satu hari lagi. Hari Jumat dia sudah menyerahkan draft proposal. Dia menunggu jawaban dari dosen pembimbing hari Senin.  Hafidz menyangka dosennya hanya bergurau. Dia berharap saat bertemu, dosennya akan mengatakan kalau draft proposal itu layak untuk di seminarkan.

“Setelah Bapak telaah, masih banyak yang harus diperbaiki. Kerangka pemikiran dan teorinya yang belum jelas. Di kerangka berpikir, belum ada keterkaitan antara dua variabel[1] yang diteliti. Itu harus dicari diperkuat oleh penelitian-penelitian sebelumnya dan  diperkuat dengan pendapat dari para ahli. Kalau ingin daftar besok, berarti malam ini semuanya direvisi dan besok silahkan bimbingan lagi dengan saya,” jelas Pak Agus.

Pikiran Hafiz demikian lelah. Untuk menyusun draft yang belum layak diseminarkan itu dia sudah berulang kali mengakses internet dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, bahkan telah melebihi anggaran makannya. Referensi itu kebanyakan berbahasa Inggris. Dia harus bekerja ekstra untuk bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Tiba-tiba saja dia menjadi agak kesal terhadap dosen pembimbingnya yang seperti menggampangkan masalah. Beliau padahal berjanji akan membantu mencarikan referensi. Beliau hanya memberi empat judul jurnal dan yang terpakai hanya satu jurnal. Revisi dalam satu malam, sepertinya tidak mungkin. Dia sudah terlalu lelah. Tenaganya tidak saja untuk urusan skripsi, dia juga harus mempersiapkan diri untuk ujian mata kuliah perbaikan. Dia tidak mau berulang-ulang mengalami kegagalan mata kuliah.

Malam harinya, Hafiz hanya menandai bagian-bagian yang harus direvisi di komputernya. Dia belum mencari referensi. Entahlah, malah tidur lebih awal. Keesokan harinya dia berangkat ke kampus untuk memenuhi janji dengan dosen pembimbing praktek ibadah dan tilawah[2] Al-Qur’an. Hafiz berpikir dia akan mengerjakan yang dianggapnya mudah dahulu dan bisa dia kerjakan hari itu. Setelah ketemu dengan dosen, dia diminta ke bagian TU (Tata Usaha) untuk mengambil blangko nilai.

“Okey … Anda dahulu sudah melaksanakan praktek ibadah. Saya lupa lagi, prakteknya sampai mana?” kata Ibu Kardinah

“Sampai shalat jenazah, Bu.”

‘”Hmm … berarti praktek ibadah sudah ya. Sekarang tinggal praktek tilawah. Nah, coba anda sekarang bacakan surat-surat pendek juzamma tanpa melihat mushaf[3]!”

Hafiz pun mulai membaca secara berurutan dengan tenang. Dosennya menyimak tanpa melihat Al-Quran.

Ketika Hafiz akan membaca surat Al-Zalzalah. Hafiz berhenti sejenak. Dia mengatur nafasnya.

“Maaf, Bu. Boleh tahu bacanya sampai surat apa?”

“Terus saja lanjutkan sampai nanti saya bilang ‘berhenti’.”

Hafiz menurut dan meneruskan bacaannya. Dia lewati surat demi surat tanpa hambatan. Setelah sampai di surat AsSyams, barulah dosennya mengatakan berhenti.

“Surat  yang anda baca terakhir tadi artinya apa?”

“Matahari.”

“Iya. Coba anda jelaskan maksud dari masing-masing ayat surat ini.”

Hafiz berpikir. Dia menyangka pertanyaannya tidak akan sejauh ini. Dia sama sekali tidak persiapan. Dia hanya menyangka akan disuruh membacanya saja, bukan menghafal dan menafsirkan. Walaupun dia tidak persiapan, tapi dia sudah punya gambaran umum mengenai maksud surat itu. Hafiz mencoba mengutarakan apa yang dia ketahui mengenai surat itu. Dia menerangkan dengan jelas dibantu dengan bahasa nonverbal berupa isyarat tangan dan ekspresi wajah yang cukup meyakinkan.

Dosennya tersenyum sambil mengulas kembali penafsiran surat As-Syams. Beliau menjelaskan betapa berharganya waktu sehingga Allah berulangkali bersumpah dengan menggunakan nama waktu dalam beberapa surat. Kemudian, dia juga menjelaskan bahwa manusia itu diberikan dua jalan, yakni jalan kesesatan dan jalan kebenaran.

Dosen itu menyodorkan buku bergaris. Buku itu diletakkan di atas meja.

“Sekarang, tuliskan surat tadi di kertas ini.”

Hafiz menulis dalam beberapa menit. Kemudian dosen itu menyuruhnya membuka Al-Quran untuk dikoreksi bagian yang keliru cara penulisannya.

“Berapa kalimat yang keliru penulisannya?”

“Tidak ada, Bu.”

“Alhamdulillah. Saya memberikan kesempatan pada Anda untuk menilai diri Anda sendiri. Apakah anda layak mendapatkan nilai apa?”

“Kalau saya sih inginnya …”

“Kalau ingin itu belum pasti. Saya Anda bisa menghargai diri Anda sendiri. Coba self esteem[4]-nya  dimunculkan.”

“Hmm. Nilai A, Bu”

“Iya. Anda memang layak mendapat nilai A. Anda memang berbeda dengan mahasiswa lain. Anda lulusan pesantren?”

“Saya dari Madrasah Aliyah, Bu.”

“Oya… Pantas ….”

Dosen itu menyerahkan blangko yang telah dibubuhi nilai dan tanda tangannya. Hafiz mengucapkan terima kasih sebelum menyerahkan nilai itu ke bagian TU. Wajahnya terlihat sumbringah. Di koridor dia bertemu dengan temannya yang akan mendaftar seminar, namun dia harus bimbingan terakhir kali dengan dosennya.

“Selamat ya,  Teh Fit. Doakan saya supaya bisa segera menyusul bulan depan.”

“Iya sama-sama, Fiz. Tetep semangat! Kita wisudaan secepatnya.”

***

Hari ini Hafiz menargetkan harus mendapatkan referensi lengkap. Dia seharian berada di perpustakaan kampus Unpad di Jatinangor. Sewaktu mau memfotokopi referensi, dia mendapatkan teguran karena tidak membawa identitas. Minggu yang lalu dia mendapatkan musibah dompetnya hilang. Uang, kartu ATM, KTP, kartu mahasiswa, dan kartu-kartu penting lainnya semuanya hilang. Dia belum sempat membuat KTP lagi lantaran uangnya yang pas-pasan.

“Wah maaf, Pak … saya tidak membawa identitas karena semuanya hilang di dalam dompet.”

“Fotokopinya mungkin bawa. Kalau saya jadi Anda saya tidak akan berani kemana-mana.”

“Tidak ada, Pak. Fotokopinya ada, tapi sayang ketinggalan di kamar.”

“Aduh … gimana Anda ini, berani-beraninya Anda bepergian. Gimana kalau terjadi apa-apa sama Anda.”

“Maaf … Maaf, Pak. Maaf. Tapi saya sangat memerlukan referensi ini. Boleh saya simpan hape saya di sini. Saya mau fotokopi ke depan.”

Lelaki itu berpikir sebentar. Perempuan di sampingnya melihat Hafiz dengan iba.

“Ya boleh… boleh … kasihan kalau Anda harus bolak-balik kemari lantaran tidak ada identitas.”

Referensi yang difotokopi belum lengkap. Dia masih harus mencari referensi yang menjelaskan korelasi dari dua variabel yang akan ditelitinya. Besok dia berencana akan ke Bapusda (Badan Perpustakaan Daerah) Jawa Barat, perpustakaan Unisba, atau perpustakaan UPI.

Dia pulang dari Jatinangor  menjelang maghrib karena dilanjutkan dengan mengikuti kumpulan komunitas menulis yang diikutinya. Sampai di masjid waktu isya. Sehabis isya dia langsung istirahat. Sampai ke alam mimpi dia masih membawa kesulitan untuk menemukan korelasi dari variabel yang ditelitinya.

***

Hafiz menghitung uang yang ia miliki sekarang. Sepertinya uangnya tidak akan cukup untuk melakukan rencana kemarin. Lagi pula di perpustakaan yang akan dia datang belum tentu buku yang dia cari itu ada. Dia berpikir kalau uang itu dipakai ongkos, mau dari mana dia makan. Dia sudah terlalu banyak hutang dan akan semampunya untuk tidak menghutang lagi. Sepertinya memang variabel penelitian yang dia cari cukup menyulitkan. Waktu mencari di internet, ada juga harus dipesan di luar negeri. Hafiz berpikir sepertinya dia harus mengubah variabel. Dia akan mencari variabel yang referensinya tidak memusingkan.

Hafiz mengirim pesan singkat ke dosen pembimbingnya. Dia mengatakan kesulitan-kesulitannya dalam mencari referensi.

“Jangan menyerah dulu. Besok Rabu kita ketemu pukul sebelas.”

***

“Variabel yang diteliti sebetulnya bukan materi baru. teman-teman saya yang S.2 di UI banyak yang mengajukan tesis dengan variabel yang Anda teliti. Kalau mau nanti saya carikan referensinya di sana.”

“Iya makasih, Pak. Terus masalah korelasi[5] yang saya maksud adalah bukan korelasi yang sudah jadi. Coba Anda telusuri faktor apa saja yang mempengaruhi masing-masing variabel. Nah, dari sanalah Anda bisa menghubung-hubungkan korelasinya. Ini tentu saja memakai logika berpikir Anda dan alangkah lebih bagus lagi jika diperkuat dengan pendapat dari para ahli.”

“Ya … mungkin waktu bimbingkan kemarin saya keliru menangkap penjelasan dari Bapak. Kalau  itu yang bapak maksud saya sudah mendapatkan sedikit gambaran meskipun belum terlalu jelas.”

“Ya seperti itu. Proposal anda saya kira sudah cukup jika konsep teori dan kerangka berpikirnya diperbaiki. ”

Hafiz tersenyum. Dia pamit setelah menyalami dosen pembimbingnya.

***

Hafiz berusaha bangun setengah jam sebelum shubuh agar bisa menunaikan tahajjud.  Usai shalat dia memanjatkan doa agar diberikan kemudahan dalam segala urusannya.

“Rabbi … ampunilah segala kekhilafan hamba

Tutupilah apa yang menjadi aib dan kedhaifan hamba

Rabbi … mudahkanlah urusan hamba

Engkaulah tempatku bergantung

Engkaulah yang mengangkat setiap beban

Tak peduli seberapa besar beban itu”

Dia bekerja ekstra. Minggu ini dia membereskan proposal, melakukan kewajibannya mengajar anak-anak di pengajian, dan mengajar privat anak SMA, adik dari temannya. Usai shubuh dia bekerja di depan komputer. Membaca file-file lama untuk melengkapi proposalnya. Hari demi hari dia menilai proposalnya terlihat ada kemajuan. Ternyata file-file lama yang di-donwnload-nya dari  internet begitu berguna. Dia menerjemahkan file-file itu paragraph demi paragraph.

Ketika waktu menunjukkan pukul delapan. Perutnya terasa sangat perih. Lapar tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dia pun menanak nasi di rice cooker. Sambil menunggu nasi matang, dia akan membeli lauk pauk. Dia meraba-raba semua saku celana, tetapi uang tak kunjung diketemukan. Dia membuka tasnya, barangkali ada uang yang terselip. Ternyata tidak ada. Dia tidak punya uang sepeser pun.

Dia berpikir sejenak. tenang, masih ada kecap yang tergantung di dinding, pikir Hafiz. Dia tersenyum saat menemukan kecap yang disimpannya diatas plastik yang tergantung.

Dia sarapan dengan lahap meskipun hanya dengan kecap. Setelah itu dia melaksanakan shalat dhuha empat rakaat dan kembali khusyu di depan komputer hingga menjelang dzuhur.

Hafiz segera menemui temannya untuk mengeprint draft proposal itu. Dia sudah menyiapkan kertasnya yang dia beli jauh-jauh hari. Beruntung dia sudah sudah memberikan uang untuk membeli tinta. Jadi dia tidak malu untuk mengeprint.

***

Hafiz mengirim pesan singkat untuk bimbingan, tetapi tidak dibalas. Sebetulnya dia menyimpan draft itu di meja dosennya dua hari sebelumnya sesuai dengan kesepakatan, namun belum ada perjanjian kapan waktu bimbingannya.

Hafiz masuk ke ruangan dosen. Draft yang disimpan dibalik map warna hijau diambilnya. Hafiz melihat-lihatnya. Sepertinya memang belum dibaca, mungkin karena kesibukan dosennya. Lalu dia menyimpan kembali map hijau itu ke meja dosennya. Dia meninggalkan ruangan itu. Dia menunggu di luar sambil mengobrol dengan teman-temannya.  

“Fiz, itu dosen pembimbingmu baru turun dari mobil,” ucap Fitri.

Hafiz melirik ke arah timur, tempat parkir mobil. Dia melihat dosennya naik ke lantai dua. Beberapa menit kemudian, dia mengikutinya. Setelah terlihat dosennya duduk, dia menghampirinya dan mengatakan akan bimbingan. Hafiz dipersilahkan duduk. Dosennya membaca draft proposal itu. Ada beberapa halaman yang ditandai.

“Saya kira, proposal anda sudah layak untuk diseminarkan. Masukan dari saya hanya di metode penelitian. Saya lihat di kerangka berpikir kedua variabel sudah mengarah pada hubungan sebab-akibat. Jadi, rancangannya tidak lagi bivariate correlation[6]. Menurut saya lebih cocok memakai anareg[7]

Hafiz menganggukkan kepala. Hatinya merasa begitu lega. Lebih-lebih ketika dosennya menandatangani cover proposal yang dibubuhi acc.

“Terima kasih banyak, Pak.”

“Sama-sama. Sukses buat Anda.”

Hafiz menyalami dan mencium tangan dosennya. Dia keluar dengan menyenandungkan nyanyian kebahagiaan dalam hati. Dia merasa waktu bergerak lambat, seperti gerakan slow motion dalam film. Jika dalam film Bollywood, mungkin dia menyanyi dan menari di temani rombongan para penari yang sekonyong-konyong datang entah dari mana. Dia melangkah di koridor, turun ke halaman fakultas. Jika saja tidak malu, dia ingin berteriak, “Hei aku akan lulus sebentar lagi.” Dia tidak berani berkata itu karena ini baru seminar proposal. Jika dibandingkan dengan mahasiswa lain, misalnya temannya si Sukma jurusan Sastra Arab, dia jauh ketinggalan karena si Sukma tinggal menunggu moment wisuda beberapa bulan lagi.

Dalam perjalanan pulang, Hafiz bertemu dengan teman lama di depan gedung perpustakaan universitas.

“Assalamu alaiku. Ahlan wasahlan ya akhi[8]

Ahlan bik[9]

Kaifa haluk[10]? Sudah lama tidak ketemu dengan Kang Hafiz.”

Bikhair[11] alhamdulillah. Sawangsulna Akang kumaha damang[12]?

“Alhamdulillah. Kang Hafiz sekarang semester berapa?”

“Delapan.”

“Wah … tidak terasa ya. Berarti sebentar lagi lulus.”

“Mohon doanya, Kang. Akang sekarang lagi sibuk apa aja?”

“Ya begitulah. Sekarang sedang meniti karir jadi guru sambil melanjutkan kuliah master di kampus ini. Doakan saya ya. Saya ingin jadi guru PNS[13].”

Subhanallah. Saya ikut bahagia. Semoga Allah memberikan kemudahan. Ya sama-sama saling mendoakan, Kang.”

“Kalau semester delapan, perjuangan tinggal sedikit lagi, Kang. Saya benar-benar merasa sangat bahagia melihat Akang. Saya tahu perjuangan Akang dari awal, semenjak datang ke Bandung. Akang Keluar dari pesantren untuk bisa mandiri, jadi tukang cuci, penjual donat, dan akhirnya pindah ke masjid. Perjuangan akang sangat keras. Akang telah membuktikan bahwa akang bisa bertahan dalam perjuangan. Oya sekarang akang tinggal dimana?”

“Ha .. ha … saya itu makhluk nomaden, Kang. Pindah-pindah terus.”

“Jadi sekarang tinggal dimana?”

“Di Atas, Kang. Di dekat kaki gunung Manglayang.”

“Masih di masjid?”

Hafiz tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ya … dimana pun akang tinggal, semoga akang selalu dimudahkan.”

Keduanya akhirnya berpisah. Hafiz terus melangkah menyusuru gang-gang, menyusuri jalan kompleks perumahan yang menanjak. Dalam pikirannya terngiang-ngiang perkataan sahabat lamanya barusan.

Saya benar-benar merasa sangat bahagia melihat Akang. Saya tahu perjuangan Akang dari awal, semenjak datang ke Bandung. Akang keluar dari pesantren untuk bisa mandiri, jadi tukang cuci, penjual donat, dan akhirnya pindah ke masjid. Perjuangan akang sangat keras. Akang telah membuktikan bahwa akang bisa bertahan dalam perjuangan.

Perkataan itu terus saja berulang-ulang bermain di pikirannya seperti rekaman kaset yang diputar ulang, hingga akhiranya dia sadar bahwa kedua sudut matanya telah  berair.

***

Hafiz pulang kampung sebelum seminar proposal dilaksanakan. Dia dapat ongkos buat pulang dari orang tua anak SMA yang belajar privat. Dia masih mempunyai banyak waktu luang untuk merevisi proposal. Di kampung dia akan membantu merawat bapaknya yang sakit. Waktu mendengar bapaknya sakit, dia pulang kampung dan hanya bisa tinggal dua hari karena ada ujian kuliah susulan. Mumpung kesempatan ini ada, dia ingin baktikan diri pada keluarga dan masyarakat di kampungnya. Biasanya jika temannya yang di Jakarta sama-sama pulang kampung, mereka suka mengadakan acara-acara untuk remaja dan masyarakat kampung, seperti pengajian umum sedesa, pesantren liburan, training motivasi remaja, dan sebagainya.

Hafiz duduk di kursi dekat toko di Bundaran Cibiru. Dia menunggu bus Bandung-Bantarujeg. Sambil menunggu bus datang, dia membuka pesan singkat yang masuk ke hapenya.

Ass. Liburan yang cukup panjang ini kita manfaatkan untuk dakwah Islam. Kita adakan Pesantren Liburan di kampung untuk menguatkan akidah, kepribadian, dan akhlak remaja di desa kita. Saya hari ini pulang kampung. Semoga antum[14] juga pulang kampung seperti yang sudah kita sepakati jauh-jauh hari.

Hafiz tidak membalas pesan itu. Dia akan memberikan kejutan kepada temannya. Dia akan sedikit menggoda temannya, membuatnya menjadi harap-harap cemas.

Bus yang ditunggu-tungunya akhirnya datang juga. Hafiz segera bangkit dan mendekati bisa itu. Saat dia masuk dari pintu bagian belakang, dia melihat tempat duduk sudah penuh. Dia teringat kejadian yang pernah dialaminya. Dia berdiri selama dalam bus dari Bandung sampai di desanya yang berada di Majalengka. Dia berdiri selama tiga jam hingga kakinya bengkak, kesemutan, dan malamnya dia mengaduh karena merasakan pegal yang sangat. Dia tidak ingin mengalami hal itu lagi. Dia akhirnya turun lagi, ketika kaki kiri sudah turun ke jalan, kondektur berteriak.

Jang[15], jangan turun. Di bagian depan dekat sopir masih ada satu kursi yang kosong.”

“O … gitu, Mang.”

Hafiz naik lagi. Dia melangkah ke depan bus. Dan duduk di dekat sopir. Dia berusaha menyamankan diri sendiri meskipun tempat duduknya berdesak-desak. Dia nikmati perjalanan itu dengan hati yang lapang meskipun suasana di bus menyesakkan.  Pikirannya bercakap-cakap sendiri menyusuri perjalanan hidupnya sekitar empat tahun yang lalu.

Aku mengadu nasib ke Jakarta. Di sana aku kuliah jurusan ekonomi Islam sambil mencari kerja. Sayang, selama di sana aku sakit-sakitan. Tubuhku punya penyakit gatal-gatal. Cuaca ibu kota yang sangat panas malah memperparah penyakitku. Perjuanganku gagal. Aku pulang kampung, kuliah tidak dilanjutkan dan pekerjaan tidak pernah didapatkan.

Aku mengadu nasib di kota Bandung. Ada teman di desaku yang kuliah dan tinggal di pesantren di Bandung. Aku  meminta bantuannya. Aku tinggal di pesantren selama enam bulan. Semua santri kuliah, hanya aku saja yang tidak kuliah. Akhirnya aku nekad daftar kuliah. Aku memohon-mohon kepada orang tua agar dibantu diawal-awal perkuliahan, ke sananya aku berjanji akan mencari kerja dan mencari beasiswa.

Untuk bisa bertahan hidup, selama di pesantren dia menjadi  penjaga warung pesantren, tukang cuci pakaian santri yang malas, jualan donat ke asrama mahasiswa. Namun, kegiatan ini sangat menyita waktu. Aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Aku merasa malu karena tidak mampu membayar iuran pesantren, akhirnya aku memutuskan keluar pesantren.

Selanjutnya aku tinggal di masjid kompleks perumahan. Di masjid kompleks aku mendapatkan tunjangan hidup, tetapi sayang, kuliahnya menjadi terganggu karena aku harus full mengurus masjid. Akhirnya aku keluar dari masjid itu dan pindah ke masjid yang tidak diberikan tunjangan. Di masjid ini aku merasa lebih bebas. Di masjid ini sering menjadi khatib jumat dan setiap mengajar anak-anak mengaji. Selain itu, aku juga bisa aktif dalam organisasi pergerakan Islam di kampus dan sekretariatnya adalah di masjid yang kutempati.

Suatu ketika terjadi permasalahan antara aku dengan teman di organisasi. Dia adalah temanku yang paling dekat, bahkan satu jurusan denganku. Dia memfitnahku dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual. Aku ingin bukti atas tuduhannya. Aku minta rekan-rekan untuk mendamaikan aku dengannya. Sayang perdamaian itu tidak pernah terjadi. Aku tidak tahan jika bertemu dengannya. Dia seolah merasa benar sendiri dan tidak pernah mau mengklarifikasi tuduhannya. Akhirnya aku mengundurkan diri dari organisasi dan mencari masjid lain. Aku pindah  masjid. Setelah pindah, aku tidak pernah aktif lagi dalam organisasi dakwah kampus. Aku memokuskan diri untuk membereskan kuliah. Aku melatih diri untuk mengobati hati yang terluka akibat tuduhan yang tidak pernah ada buktinya.

Kesulitan hidup telah mengajarinya semangat dalam berjuang. Kehidupanlah yang telah mengajarinya nilai dari sebuah perjuangan. Setiap perjalanan tidak akan selamanya menemu jalan datar dan licin. Ada jalan terjal, berkelok-kelok, dan berduri dan berbatu tajam. Tapi inilah keindahan dari sebuah perjalanan, pikir Hafiz.

Aku tidak akan surut dalam melangkah. Perjalananku adalah langkah awal dari sebuah perubahan. Perjalananku tidak akan pernah selesai. Perjalananku adalah ujian. Perjalananku adalah mencari makna kehidupan.

“Kiriii!” Hafiz berteriak.

Sopir bus menghentikan kendaraan. Hafiz turun dari bus tepat di depan terminal kecil. Dia sudah sampai di kampung halamannya. Orang-orang yang mengenalnya di sekitar terminal menatap dan tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyuman itu.

***

Sadawangi, 7 Juli 2010


[1] Aspek/konsep teori yang diteliti

[2] Membaca secara tartil (sesuai menurut kaidah ilmu tajwid)

[3] Kitab suci Al-Qur’an

[4] Harga diri/penghargaan pada diri

[5] Hubungan antara dua/lebih variabel yang diteliti

[6] Hubungan antara dua variabel yang tidak berkaitan dengan hubungan sebab akibat, hanya sebatas hubugan

[7] Analisis regresi: korelasi yang sudah mengarah pada hubungan sebab-akibat

[8] Selamat datang, saudaraku.

[9] Selamat datang juga

[10] Bagaimana kabarmu

[11] Baik

[12] Sebaliknya, bagaimana akang sehat.

[13] Pegawai Negeri Sipil

[14] Kamu, jama dari kata anta. Kata jamak digunakan biasanya untuk penghormatan

[15] Panggilan khas orang Sunda

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930