//
you're reading...
Artiikel

PSIKOLOGI YANG NGGAK ’NYIKOLOGIS’

Kami juga mahasiswa, kami juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya liburan kuliah. Kuliah yang supersibuk. Namun sayang, keinginan itu tinggal angan-angan. Ketika mahasiswa lain sudah berlibur, maka kami masih disibukkan dengan UAS dan tugas akhir yang menumpuk. Apakah memang karena jurusan psikologi itu berbeda dalam hal bobot mata kuliahnya dengan jurusan yang lain? Meskipun demikian keadaannya, kami tetap berharap bahwa setelah lulus kuliah, kerja keras kami bisa sepadan dengan hasil yang didapatkan nanti ketika kami mulai terjun dan berinteraksi dengan masyarakat.

Dalam dunia akademik, masalah terjadi ketika ada ketimpangan antara das sein dengan das solen, istilah sederhananya terjadi ketidaksesuaian antara konsep ideal dengan realita yang terjadi. Inilah yang mendorong para saintis untuk melakukan penelitian dan dari sinilah berkembanglah ilmu pengetahuan.

Terkait dengan dunia akademik psikologi, sering ditemukan dalam perkuliahan sehari-hari yang boleh jadi layak untuk diteliti. Di antaranya adalah bahwa dosen dan mahasiswa yang setiap hari berinteraksi dengan konsep-konsep dan keilmuwan psikologi, namun konsep-konsep tersebut seakan hanya istilah-istilah yang mengisi penuh di tempurung kepala. Mahasiswa ditekankan untuk mengetahui konsep-konsep psikologi, aliran-aliran dan perbedaan masing-masing dalam memandang manusia, cara-cara mendiagnostik, interview orang dan menginterpetasikan hasil tes. Semua itu dilalui hanya seakan sebagai sebuah rutinitas tanpa makna, tanpa penghayatan, hanya demi mengejar sebuah nilai dari dosen yang bersangkutan. Interaksi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa pun seakan mengabaikan penerapan konsep-konsep psikologis. Ada tipe mahasiswa yang suka jual tampang, memasang ’topeng tebal’ di hadapan dosen supaya diakui atau dianggap sebagai mahasiswa psikologi yang cerdas dan luas wawasan kepsikologiannya. Ada pula dosen yang terlalu emosional dan egosentris. Ada pula di antara dosen yang—secara sadar tau tidak—telah memberikan modeling (contoh) yang negatif. Secara lisan, dia mengatakan mahasiswa harus mengumpulkan tugas tepat waktu, datang ke kampus mengikuti perkuliahannya pun harus tepat waktu. Hal itu diberlakukan  kepada mahasiswa dengan ketat, dan bila melanggar tentu mahasiswa akan menanggung akibatnya. Namun jika dilihat pada sisi lain, dia malah datang ngaret lebih dari satu jam, mengeluarkan nilai-nilai tidak tepat waktu. Dan hal itu berlaku tanpa protes dan tanpa pelurusan dari pihak manapun yang menyadari kekeliruan itu. Barangkali ada beberapa mahasiswa yang ingin mengingatkan, namun mahasisawa tersebut lebih memilih berada pada zona nyaman, kuatir akibat-akibat yang tidak diharapkan jika dia meluruskan. Nah, pertanyaan saya, apakah itu seperti itu yang disebut dengan sebuah pembelajaran yang inspiratif?

Idealnya (das sein) adalah mahasiswa dan dosen psikologi seharusnya orang yang pertama mempraktekkan bagaimana menghargai orang. Mereka adalah orang yang harus pertama kali bahwa mereka bisa menangani permasalahan-permasalahan dalam hidupnya, tentunya dengan konsep-konsep dan teori-teori yang telah dipelajarinya. Mereka pula  dapat menunjukkan pada orang bagaimana menemukan makna dalam hidup ini.

Tetapi kenyataannya (das solen) tidaklah demikian. Realitasnya memang seperti yang telah penulis kemukakan di atas, walaupun mungkin tidak semua fakultas seperti itu. Barangkali bila hal tersebut diungkapkan secara langsung di hadapan mereka, baik dosen maupun mahasiswa akan melakukan depend mekanism dengan berkata, ”Dosen juga manusia”, ”mahasiswa juga manusia”, ”jadi wajar jika berbuat salah.” Sudah saatnya ada sebuah perubahan peraturan dan sistem pembelajaran yang revolusioner dan inspiratif. Mahasiswa psikologi dicetak untuk menjadi orang-orang yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang yang membutuhkan. Untuk bisa demikian, penulis kira tidak perlu mereka dibuat stess terlebih dahulu dengan kebijakan-kebijakan dosen yang tidak adil, tugas-tugas yang seabreg, dan permasalah-permasalahan lain yang sama dengan masalah mahasiswa pada umumnya.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930