//
you're reading...
Cerita

CINTA YANG MENGAJARIKU

Oh Cinta, yang tangan lembutnya

mengekang keinginanku

Meluapkan rasa lapar dan dahaga

akan harga diri dan kebanggaan,

Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku

Memakan roti dan meminum anggur

Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,

Biarkan rasa haus membakarku,

Biarkan aku mati dan binasa,

Sebelum kuangkat tanganku

Untuk cangkir yang tidak kau isi,

Dan mangkuk yang tidak kau berkati

(Kahlil Gibran )

Empat tahun yang lalu, aku mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolahku, sebuah MAN (Madrasah Aliyah Negeri) yang terletak di Kecamatan Talaga. Aku mengikuti acara Orientasi itu dengan tidak begitu antusias karena sekolah itu bukan pilihanku yang sebenarnya. Aku mendaftar ke sekolah yang kuinginkan saat itu, sebuah SMUN (Sekolah Menengah Umum Negeri) yang masih berada di wilayah yang sama dengan MAN. Sayang, aku gagal masuk ke SMUN karena terlambat satu hari mendaftar. Dan akhirnya terpaksa aku masuk MAN daripada studiku tidak berlanjut.

Dari sekian banyak teman-teman baruku. Ada satu orang yang amat kontras dalam pandanganku. Pandanganku terhadapnya sangat berbeda dibandingkan dengan yang lain. Teman-temanku seluruhnya seperti background dalam sebuah lukisan, sedangkan ia hanya satu-satunya objek yang ada dan jelas terlihat dalam lukisan itu.

Dari kejauhan aku sering memperhatikannya. Ketika waktu istirahat di sela-sela acara MOS, aku memilih duduk dengan teman-teman laki-laki di bangku yang berjajar di koridor. Perempuan itu sering lewat bersama teman-teman yang sepertinya sudah akrab dengannya. Aku mengira-ngira, mungkin teman-teman perempuannya itu adalah teman sewaktu dia di SMP. Aku penasaran ingin mengetahui nama perempuan itu. Aku belum mengetahui namanya saat itu. Di mataku, dia terlihat berbeda dari perempuan yang lain, baik dari cara berpakaian maupun cara berjalan. Dia berpakaian longgar dan mengenakan kerudung. Cara berjalannya seperti orang yang supersibuk dan superpenting. Ada pula yang menggelarinya dengan sebutan ‘Miss Riweuh’. Riweuh adalah kata yang berasal dari bahasa Sunda, yang artinya Sibuk.

Namun ada sesuatu yang membuatku merasa tidak enak dengannya. Dari cara dia menatap orang, kurasa dia itu cewek judes dan cenderung merendahkan orang lain. Walaupun demikian, hal itu tidak mengurangi rasa kagumku kepadanya. Aku semakin penasaran, siapa nama perempuan yang sok sibuk yang berpakaian superlonggar itu.

Setelah belajar efektif beberapa minggu, akhirnya aku tahu juga namanya. Nina Marlina. Nama yang bagus. Nina. Menurutku, namanya itu sangat yang kekanak-kanakan. Barangkali orang yang memiliki nama itu adalah yang childis. Kami berbeda kelas. Aku di kelas A, sementara ia di kelas C. Dia sering melewati koridor kelas A, dan diam-diam aku selalu memperhatikannya sampai dia masuk ke kelasnya. Dia sering jalan dengan seorang temannya yang bertubuh gendut.

Entah kenapa aku selalu ingin tahu segala sesuatu tentangnya. Dia aktif di OSIS. Entah sebagai pengurus bidang apa, aku tak pernah tahu. Sedangkan aku aktif di MPK (Majelis Permusyawatan Kelas). Bagiku posisi aku saat itu berada di bawahnya, karena pada kenyataannya MPK tidak punya kegiatan apa-apa. Sedangkan OSIS banyak kegiatannya. Orang yang aktif di OSIS adalah orang-orang pilihan.

Setelah aku mengetahui segala sesuatu tentangnya cukup banyak, akhirnya aku menyimpulkan bahwa Nina memang orang sibuk. Sibuknya tidak dibuat-buat, cari perhatian, atau cari sensasi. Dia memang aktivis karena dari info yang kudapatkan, waktu di MTs pun, dia aktif di OSIS. Selain aktivis supersibuk, dia pun seorang kutubuku. Kemana-mana dia selalu membawa buku novel atau buku motivasi. Aku semakin kagum padanya.

***

Waktu tak terasa merangkak ke depan. Awan berarak dengan cepat. Sungguh cepat sekali pergantian malam dan siang. Selimut hitam menutup senja. Sesaat kemudian, selimut hitam itu lebur oleh pancaran sinar dari ufuk timur. Aku sudah menginjak kelas dua. Yaa Tuhan … benarkah aku telah mencintainya?

Sehari tidak melihatnya seakan dunia ini sepi dan sunyi. Beberapa Hari Nina tidak masuk sekolah karena sakit, aku merasa diriku sendiri yang sakit. Ingin sekali aku menjenguknya, tapi sungguh aku malu karena aku bukanlah teman dekatnya. Aku juga merasa aneh, mengapa aku tak bisa melebur dan akrab dengan teman-temannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Aku tidak mau berada dekat-dekat dengan mereka karena kupikir mereka itu adalah manusia-manusia pilihan yang dikaruniai bakat kecerdasan sekaligus dianugerahi kekayaan, meskipun kekayaan itu adalah milik orangtua mereka.

Aku tidak bisa memendam terus perasaanku itu. Aku ingin curhat, namun bingung curhat pada siapa. Aku tidak punya teman akrab. Aku memang banyak teman dan kenalan, tetapi pertemananku dengan mereka tidak pernah mendalam.

Suatu ketika aku sedang melamun di kelas, yang lain sedang istirahat, ada yang pergi ke kantin. Ada juga yang bermain bola voli dan basket. Sejak aku menyadari bahwa aku punya perasaan yang ‘aneh’ pada Nina aku jadi sering melamun.

“Hei, ngelamun aja!” suara cukup keras membuyarkan lamunanku. Sebuah tepukan cukup keras menimpa pundakku.

“Auww, Sakit!” Sontak saja aku kaget. Aku tersadar dari dunia lamunanku.

“Kamu ganggu aja. Aku lagi asyik-asyiknya melamun eh merenung!”

“Merenung apa merenung? Lagi ngelamunin siapa sih?”

“Ah enggak … aku sedang merenung. Cari inspirasi bikin puisi.”

“Jangan bohong, kawan! Minggu-minggu ini aku perhatikan kamu beda dari biasanya.”

Aku pun bercerita dengan jujur kepadanya. Usai bercerita, barulah Agus memberikan komentar.

“Aku juga dulu pernah mengalami hal yang sama denganmu”

“Maksudmu?”

“Yaa … mencintai orang yang sama. Orang yang sekarang kamu cintai.”

“Kamu mencintai Nina? Ah masa sih!”

“Kenapa aku mesti bohong.”

Gimana ceritanya? kok bisa?”

“Aku kan dulu sekelas sama dia dan sama-sama aktif di OSIS. Cuma sayang, nasib baik tidak berpihak kepadaku. Nina lebih memilih Ali, teman dekatku. Aku tidak menyalahkan Nina, karena soal perasaan itu tidak bisa dibuat-buat.”

“Terus sikap kamu ke Ali gimana? Apa persahabatan kalian retak?”

“Sama sekali tidak. Itu hak Nina dan Ali. Aku sama sekali tidak punya hak atas mereka. Yang penting aku tetap bisa memenej perasaanku agar tidak membenci Ali. Aku tidak bisa membenci Ali karena dia adalah sahabat terbaikku.”

“Wah … jarang kutemukan orang sepertimu. Kamu begitu berbesar hati. Kamu begitu dewasa, Gus.”

“Apa sekarang Ali dan Nina masih berhubungan?”

“Aku kira mereka masih. Meskipun jarak mereka jauh, aku yakin mereka bisa menjaga komitmen.”

“Terus kamu sendiri apa masih memiliki perasaan terhadap Nina?”

“Ha … ha… kok kamu nanya seperti itu. Emang kenapa gitu?”

“Enggak … pengen tahu aja!”

“Jangan kuatir, Har. Itu kisah masa lalu. Kamu tidak perlu kuatir aku jadi saingan kamu. Aku udah pindah ke lain hati kok,” jawabnya seolah-olah sudah mengetahui kegelisahan hatiku.

Dalam hati aku merasa bersyukur karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya seandainya kami mencintai orang yang sama. Kisah Agus sama Ali bisa terulang lagi. Sementara aku tidak merasa yakin dapat berbesar hati dan bersikap dewasa seperti Agus.

“Siapa lain hatinya itu, kawan?”

Agus tersenyum.

“Aaada dech!”

Aku menggelitik pinggang kawanku itu. Berusaha menghindar.

“Ayo jangan dipendam, nanti jerawatmu tambah parah.”

Akhirnya ia curhat juga. Dia mencintai Lina, teman dekatnya Nina. Lina satu daerah denganku. Satu kecamatan tapi beda desa. Agus merasa yakin bahwa Lina pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Alangkah bahagianya. Sementara aku sendiri tidak yakin, apakah Nina mengenaliku atau tidak. Bagaimana bisa mencintai, sementara kenal saja tidak.

Aku mencintai Nina, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Lagi pula aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan berpacaran. Pacaran akan menghambat studiku. Jika studiku hancur karena aku pacaran, orangtuaku akan kecewa. Lagi pula, aku pikir Nina mana mau menerima cintaku. Aku merasa pesimis. Tubuhku pendek, dan prestasiku juga biasa-biasa saja. Aku hanya bisa berharap, namun tidak mungkin harapan itu bisa tercapai. Antara aku dengannya seperti timur dan barat. Kami berdua adalah siang dan malam yang tak mungkin bisa berjalan dalam waktu yang bersamaan. Malam hilang dengan hadirnya cahaya siang dan siang sirna ketika selimut hitam kelihatan pertanda malam telah datang.

***

Senyuman mentari telah mengawal pagi. Mentari telah memberikan energi positif yang memancar ke setiap makhluk bernyawa di seluruh permukaan bumi ini untuk bergerak. Mentari telah memberikan energi positifnya agar setiap makhluk tersenyum dan menyapa kepada sesamanya dengan ucapan,

”Selamat pagi, kawan. Ledakkan semangatmu seperti pagi yang cerah ini. Jaga semangatmu agar ketika siang berlalu, senja menghilang, dan malam menjelang, semangatmu masih pagi yang penuh ceria dan tenaga.”

Aku berangkat ke sekolah berjalan kaki mulai dari Alun-alun kecamatan Talaga. Jarak sekolah dari Alun-Alun kurang lebih dua ratus meter. Aku berjalan sendirian. Banyak siswa yang berjalan kaki juga, namun tak ada satu orang pun yang kukenal. Aku melangkah dengan cepat karena khawatir kesiangan. Di depan ada seorang perempuan. Dari cara berjalannya sepertinya aku kenal. Aku berusaha mempercepat langkah agar dapat mendahului perempuan itu. Sekilas aku melirik ke arahnya. Ternyata benar. Perempuan itu adalah Nina. Aku mendahuluinya. Aku berjalan tepat di depannya.

“Maaf, saya duluan ya.”

Nina tersenyum.

“Oya … silakan … silakan.”

Senyumannya seperti cerahnya mentari pagi ini. Sangat jauh dari kesan pertamaku terhadapnya. Dia bukan perempuan judes. Kalau sudah dekat dengannya, dia sangat ramah. Itulah kesan yang kutangkap saat ini. Jadi penilaianku dulu salah total.

Jarak aku dengannya cukup berjauhan. Aku berjalan lebih cepat. Ya Tuhan, sebetulnya aku ingin bicara lebih lama dengannya, tapi apa yang harus kubicarakan dengan dia. Sambil berusaha menyembunyikan perasaan bahagiaku, aku terus berjalan dan tidak mendongakkan kepala sedikit pun.

“Tumben sendirian, Har. Mana teman-temannya?” suara itu terdengar dari belakang.

Apa benar dia mengajak biacara padaku. aku mendongakkan pandangan ke arahnya.

“Iya … lagi pengen sendirian aja. Teman-temanku tadi pada ninggalin aku,” jawabku dengan jujur.

“Kalau Nina, kenapa sendirian juga, tidak seperti biasanya?”

“He … he … sama.”

Sekali lagi jawabannya itu membuktikan bahwa dia bukan perempuan judes. Bukan pula perempuan yang suka merendahkan orang lain. Cara menatapnya memang demikian. Tapi aku salah menafsirkan. Kalau sudah dekat dengannya, barangkali orang akan merasa sangat dihargai. Sayang, mengapa aku belum bisa menjadi sahabat dekatnya yang setiap hari sering kumpul dan bersenda gurau dengannya. Tidak masalah, kawan. Besok mungkin masih ada waktu. Waktu akan memberi kesempatan sekaligus jawaban.

Aku terus melangkah. Hatiku sebenarnya ingin sekali berjalan sejajar dengannya. Namun itu tak mungkin kulakukan karena berbagai pertimbangan. Pertama, aku malu. Aku malu bukan pada Tuhan, tapi kepada perempuan itu. Berjalan sejajar dengannya yang terbayang dibenakku takkan ada keserasian. Dia begitu rapi. Sedangkan aku berantakan. Mukaku lusuh sama dengan pakaianku. Aku sungguh malu. Aku sungguh tidak berani. Kedua, aku ingin meniru Nabi Musa saat berjalan dengan putri Ya’qub. Aku ingin seperti itu setelah aku membaca kisahnya. Sungguh sangat menakjubkan. Perbuatan Musa yang berjalan di wanita bukan berarti tidak melindungi dan memuliakan perempuan. Justeru itu dilakukan untuk memuliakan dan melindungi kaum perempuan dari fitnah yang bisa menghancurkan harga diri mereka.

“Emang kostnya di mana?”

“Di desa Cicanir”

“Oh lumayan jauh ya.”

“Nina kost juga?”

“Enggak. Aku dari rumah. Di desa Hegarmanah.”

Akhirnya sampailah kami di sekolah. Kami berpisah di gerbang sekolah dan masing-masing menuju kelas yang berbeda. Sebuah pertemuan berkesan yang baru saja kualami itu rasanya takkan pernah terlupakan. Aku hanya bisa berharap kapan peristiwa seperi itu bisa terjadi lagi.

***

Aku tidak menyangka akan bisa mengenal Ali Fakhrurazi. Aku berkenalan dengan Ali melalui Opik, adik kelas yang akrab denganku. Aku penasaran ingin mengenalinya karena ketertarikan oleh informasi yang kudapatkan dari Agus. Selain smart, dia memang orang yang rendah hati dan ramah. Pantas saja, Nina masih suka sampai sekarang, pikirku. Dia adalah perpaduan yang sempurna antara kecerdasan dan kekayaan. Perpaduan dua hal itu telah melekat pada dirinya sehingga output yang dihasilkan sungguh luar biasa. Dan yang paling penting dia jauh berbeda denganku. Posturnya tinggi. Aku dan dia seperti warna hitam dan putih. Benar-benar kontras. Aku dan dia adalah panas dan dingin, sebuah perbedaan yang sangat ekstrem.

Kalimat yang keluar dari mulutnya bukan kalimat biasa. Dia bukan orang kebanyakan yang ketika berbicara hanya obrolan biasa yang tidak berbobot. Kalimat yang dilafazkan lidahnya menunjukkan bahwa dia seorang pelajar yang berkualitas tinggi. Obrolannya akan berubah menjadi ajang diskusi yang mengasyikan.

Satu kali aku bertandang ke rumahnya dengan Opik. Waktu itu Ali sedang liburan. Dia sekolah di luar daerah Majalengka di sebuah sekolah fullday. Saat memasuki rumahnya aku sedikit demam. Ini rumah atau istanakah? Sebuah rumah yang sangat lux untuk ukuran daerah Talaga, sebuah kota kecil yang belum begitu ramai.

Di rumah Ali aku disuguhi banyak buku bacaan yang banyak menambah wawasan. Buku-buku yang disodorkannya tebal-tebal. Pasti mahal-mahal. Dan untuk ukuran aku, tentu takkan mampu membelinya. Aku masih ingat saat Ali mengulas sebuah buku yang membahas tentang teknik-teknik membaca cepat. Aku baru tahu bahwa ketika membaca buku tidak perlu membaca kata perkata, kita boleh meloncat-loncat. Yang penting bisa didapatkan inti bacaannya.

Sebetulnya aku ingin menanyakan tentang hubungannya dengan Nina. Tapi entah kenapa nyaliku ciut ketika berhadapan dengannya. Aku merasa tidak berhak bertanya seperti itu padanya. Aku merasa sangat lancang kalau itu kulakukan, padahal aku dan dia baru saja kenal. Aku pun urung. Tidak pernah menanyakan hal itu sampai aku kami berpamitan.

***

Kostanku dekat dengan rumah salah seorang guruku. Dia adalah guru sejarah. Aku pernah beberapa kali main ke rumahnya. Beliau sangat baik. Beliau pernah beberapa kali mengantar makanan ke kostanku. Namanya Bu Aat. Dia pernah mengirim nasi kuning dan goreng Ulen ke kostanku. Ulen adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang dikukus. Setelah dikukus ditumbuk dan dihamparkan dalam sebuah wadah sampai melebar. Lalu dipotong-potong dengan bentuk jajaran genjang. Aku pernah membantu beliau menumbuk ketan yang sudah dikukus.

Sore hari, aku mengantarkan piring bekas wadah nasi kuning dan ulen itu. Aku malu khawatir beliau menyindir tentang nilai-nilai UTS-ku yang drastis menurun, termasuk mata pelajaran sejarah. Untuk mata pelajaran ini kau mendapat nilai empat. Sangat menyedihkan. Sangat memalukan. Aku sangat malu bertemu dengan beliau.

Setelah menyerahkan piring, aku bermaksud pulang, tetapi beliau mencegahku dan mengajakku masuk dulu. Aku tidak kuasa menolak.

“Har, kenapa nilai ujianmu jadi dratis menurun?”

Aku diam. Menunduk karena sangat malu.

“Ibu dengar dari guru-guru yang lain pun sama. Nilai-nilai kamu jadi rusak. Ada apa sebetulnya, Har? Bisa cerita barang kali ibu bisa membantu.”

Akhirnya aku berceritam mengenai keadaanku yang sejujurnya. Nilai-nilaiku drastis menurun karena virus yang bernama cinta.

***

Semenjak aku jatuh cinta, aku jadi senang baca-baca cerpen, novel dan karya-karya yang bertemakan cinta. Aku pernah membaca kata-kata mutiara. Aku lupa lagi, entah itu tulisan siapa.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,

Tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang

Dan kamu tidak pernah memiliki keberanian

untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Aku dilanda kegelisahan luar biasa. Aku merasa tidak tenang sebelum apa yang kuarasakan bisa diketahui oleh Nina. Aku juga berharap Nina merasakan hal yang sama denganku.

Malam saat pelantikan PMR, aku memaksakan diri menyerahkan sepucuk surat kepada Nina. Itu kulakukan dengan sembunyi-sembunyi. Aku lihat di menyelipkan surat itu ke dalam bukunya. Beberapa hari lamanya aku menunggu jawaban. Akhirnya dia menyerahkan surat balasanya yang dibungkus amplop.

Aku baca isi amplop itu. Awal tulisannya sangat indah karena isinya berupa pujian terhadapku. Aku merasa berada di atas pelangi. Melayang-layang. Sungguh indah. Ketika aku baca beberapa paragraf terakhir, aku yang sedang melayang-layang di atas pelangi langsung terjatuh ke bumi dengan luka-luka yang perih. Pelangi telah hilang. Keindahan telah sirna.

Aku tidak percaya. Aku membacanya lagi berulang-ulang. Tapi semakin kuulang, malah semakin perih rasanya. Beberapa hari lamanya aku melamun. Ternyata tidak seindah dan semudah yang ada dalam angan-anganku.

Bercinta memang mudah

Untuk dicintai juga memang mudah

Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh

Kata-kata itu mewakili keadaanku. Benar, tidak mudah untuk dicintai oleh orang yang kita cintai. Apakah yang harus kulakukan sekarang, kawan?

Ketika cinta memanggilku,

maka aku akan melewatinya

walau jalannya terjal berliku,

jika cinta memelukku akan kudekap engkau

walau pedang di sela-sela sayapnya melukaiku.

Aku hanya ingin menyentuh tangan keabadian

karena Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia

karena cinta itu membangkitkan semangat hidupku

dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

Aku merasa kata-kata pujangga dari Lebanon itu tidak memiliki arti apa-apa lagi bagiku. Kata-katanya hanya mengawang-awang. Kata-katanya tidak membumi. Kata-katanya bohong.

***

Malam yang pekat dan dingin. Tenda yang gelap. Tanah yang dingin. Di luar langit kelam. Malam kedua pelantikan aku merasa sangat kelelahan. Karena tidak ada lagi kegiatan akhirnya aku memilih tidur di tenda. Tulang-tulang terasa hancur. Ingin sekali waktu itu aku tidur di kostan, namun tiada yang bisa kuperbuat selain berbaring di tikar yang tipis. Dinginnya tanah sangat terasa ke punggungku. Aku tertidur beberapa saat. Namun, aku segera terbangun lagi oleh suara gaduh teman-temanku.

Mereka sedang membicarakan Nina. Mereka memuji-muji Nina. Salah seorang dari mereka ada yang sakit. Kata mereka, Nina sangat perhatian. Nina membelikan Obat. Mereka terus memuji-muji Nina. Entah kenapa hatiku merasa teriris-iris. Untung saja waktu itu mereka tidak menyadari kalau menguping pembicaraan mereka.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak

Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka

Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu

Aku iri melihat Nina dan yang lain bisa akrab. Bahkan hatiku terbakar ketika Nina jalan bersama dengan Aan. Aku tahu Aan menyukai Nina. Dia selalu mengejar-ngejar dan mendapatkan cinta Nina. Dia begitu agresif. Teman-teman yang lain pun banyak yang menyukai Nina, namun yang aku tahu tak ada satu orang pun yang berhasil, karena hati Nina masih disimpan untuk Ali. Aku sering melihat mereka berdua duduk mengobrol di bangku koridor. Ketika waktu belajar habis mereka berdua tidak langsung pulang, tapi sering kulihat mengobrol lama-lama di bangku koridor. Kadang-kadang aku juga melihat mereka berdua pulang bersama-sama.

***

Cinta bukan mengajarkan kita lemah,

tetapi membangkitkan kekuatan.

Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri,

tetapi menghembuskan kegagahan

Cinta bukan melemahkan semangat,

tetapi membangkitkan semangat

Aku termotivasi dengan kata-kata Hamka tersebut. Aku banyak merenung akhir-akhir ini. Aku masuk kelas IPA dan teman-temanku di kelas itu tergolong aktif dan pintar. Aku pikir-pikir setelah melihat kemampuan mereka, ternyata mereka tidak jauh berbeda denganku. Nilai-nilaiku pun tidak terlalu mengecewakan. Jadi aku sebenarnya hanya terkungkung oleh pikiran dan perasaanku saja yang keliru. Aku dan teman-temanku di kelas IPA memiliki kemampuan yang hampir sama. Jadi kenapa aku mesti minder di hadapan mereka.

Ke depan aku bertekad akan menumbuhkan rasa percaya diriku. Bahkan boleh dibilang sebetulnya posisi dan peranku di sekolah saat kelas dua sama dengan para pengurus OSIS. Aku sejajar dengan Aan dan Agus yang mempunyai dua jabatan. Aan menjabat sebagai pengurus OSIS sekaligus ketua Ambalan Tunas Da’i (Pramuka). Waktu di kelas satu aku selalu bersaing dengannya. Semester pertama, aku mendapat rangking satu, dan dia rangking dua. Semester berikutnya, dia berhasil mengalahkanku. Aku berada di rangking dua dan dia rangking satu. Agus menjabat ketua OSIS sekaligus ketua PMR. Sementara aku menjabat Ketua MPK dan ketua DKM Izzatul Ummat. Aku senasib dengan Agus. Dia harus menggantikan posisi ketua OSIS karena ketua OSIS yang lama terpaksa DO. Sedangkan aku harus mengambil alih posisi ketua DKM—tentunya dengan resmi, tidak dengan kudeta—yang dijabat Ketua bidang I di OSIS. Aku harus menggantikan posisi itu karena dipimpin oleh ketua yang lama nyaris tidak mampu melaksanakan satu pun dari sekian banyak program kerjanya.

Aku berusaha melupakannya dan hidup normal walau pun tanpa cinta. Aku ingin prestasi-prestasiku melejit lagi, bahkan aku ingin melebih mereka yang berada di jajaran pengurus OSIS.

***

Aku sedang duduk dan membaca sendirian di perpustakaan. Yang masuk perpustakaan waktu itu hanya bisa dihitung oleh jari. Seperti biasa, kalau aku ke perpustakaan, aku suka membaca koran Republika. Pihak sekolah waktu itu memang berlangganan koran tersebut. Ketika aku sedang asyik membaca rubrik sastra, sebuah suara membuyarkan konsentrasiku.

”Har, maaf mengganggu. Boleh minta waktunya sebentar. Ada hal yang penting yang ingin saya sampaikan.”

Dadaku bergemuruh, apa yang telah terjadi padaku. Ternyata perasaanku padanya belum hilang. Apa yang mau dia bicarakan. Apakah aku punya salah? Atau dia ingin meralat suratnya dulu? Ah, barangkali aku hanya berkhayal karena terlalu berharap padanya.

Aku memandanginya sebentar. Lalu menunduk lagi.

Di perpustakaan itu kami duduk berhadapan. Jarak kami dihalangi oleh tiga meja yang disusun berjajar. Kami tidak saling memandang. Aku pura-pura sibuk dengan koran yang ada di hadapanku.

”Har, beberapa hari ini aku sering memimpikanmu,” kata Nina memulai pembicaraan.

Mimpi? Mimpi apa? Benarkah aku telah hadir dalam mimpi-mimpinya? Ingin sekali aku menanyakan apa yang terjadi dalam mimpi itu, tetapi lidahku kelu. Lidahku sangat berat untuk bertanya.

”Selama ini aku merasa berdosa padamu. Jadi aku ingin minta maaf.”

Aku bingung harus bicara apa.

”Gimana, mau memberi maaf padaku?”

”Untuk apa? Aku kira selama ini kamu tidak punya salah apa-apa. Justeru akulah yang harus minta maaf telah mengganggumu dengan memberi surat dan puisi-puisi gombal itu. Maafkan aku.”

”Ya… tapi aku selalu mimpi buruk tentang kamu. Aku harap kamu mau memberi maaf padaku. Aku juga memohon padaku jika tingkah lakuku selama ini banyak yang salah tolong sampaikan padaku agar aku bisa koreksi diri.”

Aku menunduk dan berpikir cukup lama. Nina terus memohon, bahkan kali ini dia seperti memelas. Dia menangkupkan tangan sambil menunggu kalimat yang keluar dari mulutku. Aku tidak ingin menanyakan lebih detil tentang mimpinya itu karena kupikir apa urusannya denganku.

”Baiklah kita sekarang harus berjanji saling koreksi jika masing-masing melakukan kesalahan.”

”Makasih, Har. Semoga hal ini bisa membuatku tenang dan tidak dihantui lagi oleh mimpi-mimpi yang menyeramkan.”

Sekarang tak ada lagi cinta

Yang ada adalah persahabatan

Kami berjanji saling kritisi

Saling menasehati

***

Hatiku berbunga-bunga menerima kabar itu. Di depan mading namaku terpampang. Yang mendapat BMU (Beasiswa Masuk Universitas) di sekolahku hanya tiga orang, yaitu aku, Nina, dan Lina. Kami semua sangat bahagia sekaligus bangga. Kami bertiga berkumpul untuk membicarakan rencana kami di Bandung saat SPMB nanti.

Aku berangkat ke Bandung sendiri. Aku minta bantuan kepada salah seorang kakak kelasku yang sudah kuliah di Bandung. Aku berencana numpang dua malam di kostannya. Sedangkan Nina dan Lina berangkat bersama-sama. Mereka berdua akan tinggal di rumah gurunya Nina waktu MTs yang tinggal dan asli orang Bandung. Mereka memang sangat dekat. Sayang, satu orang teman mereka yang bernama Yuyu tidak ikut. Padahal kalau ikut mereka sangat kompak. Di sekolah mereka terkenal dengan sebutan Trio Barbie.

Aku tidak menduga. Di Bandung, ternyata kami bertemu. Tempat ujian kami sama, yaitu di sebuah sekolah yang berada di jalan selontongan, Buahbatu. Kami berbeda ruangan.

Seusai ujian, aku bertanya pada Nina, ”Sayang ya, Lina tidak satu tempat dengan kita, kalau ada dia mungkin akan lebih asyik lagi.”

”Iya… aku benar-benar tidak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini.”

”Nin, kamu yakin nggak bisa lulus ujian SPMB ini?”

”Entahlah. Tadi waktu mengerjakan soal bagiku cukup sulit. Kamu sendiri gimana?”

”Apalagi aku. Tadi waktu mengerjakan tidak konsen soalnya terganggu dengan flu. Kalau nunduk sedikit, ingus ngalir terus.”

”Kalau dari ujian ini tidak bisa diharapkan, apa rencanamu berikutnya?”

Nina diam. Dia menunduk. Dalam hatinya seolah-olah ada beban yang tak kuasa ditanggungnya.

”Kok malah diam. Maaf kalau pertanyaannya menyinggung atau tidak sopan.”

”Ehh … nggak apa-apa kok. Kalau ujian SPMB ini gagal, aku … aku … akan …. menikah.”

”Menikah?!”

”Ya!”

”Boleh tahu naman calon suamimu?”

Dia tidak menjawab. Apakah Ali?

”Maaf ya Nin, boleh saya nebak? Apakah calon suamimu itu bernama Ali Fakhrurrazi?”

Nina menggelengkan kepala. Aku makin bingung. Kalau bukan dia, terus siapa lagi.

”Aku akan menikah dengan orang yang satu daerah denganku.”

Aku tersenyum meskipun hatiku perih teriris-iris.

”Aku hanya bisa berdoa semoga kamu lulus SPMB agar bisa menunda rencana pernikahanmu. Namun jika ternyata tidak lulus, aku ikut berbahagia. Jangan lupa surat undangannya untukku.”

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain,

dan kamu masih mampu tersenyum

sambil berkata: aku turut bahagia untukmu

***

Terhitung sudah empat tahun aku tidak bertemu dengannya. Bertemu terakhir kali dengannya adalah ketika tes SPMB. Setelah itu sama sekali kami belum pernah ketemu lagi. Di antara kami bertiga, tidak ada satupun yang lulus SPMB. Berarti Nina menghadapi rencana keduanya, menikah. Namun dia tidak mengundangku di acara pernikahannya. Bagaimanakah kabar dia sekarang? Apakah dia hidup bahagia dengan suaminya? Aku dengar dua tahun yang lalu dia sudah memiliki momongan. Apakah dia sudah punya momongan lagi? Entahlah sulit kubayangkan bagaimana jadinya kalau aku dipertemukan lagi dengannya.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930