//
you're reading...
Cerita

DI ANTARA BERBAGI SIMPATI

”Jangan lupa datang ya …”suara seorang perempuan di hape lelaki itu.

”Ya, Teh jangan kuatir. Saya insya Allah datang. Makasih ya udah mercayain saya meskipun saya tidak aktif di senat,” ucap Anwar.

”Iya, pokoknya kamu kudu nunjukin bahwa meskipun kamu nggak aktif di senat kamu bisa berkontribusi menyelenggarakan suatu acara untuk kepentingan senat fakultas.”

Pembicaraan pun akhirnya diakhiri. Anwar menjawab salam dari seberang. Anwar merasa memiliki kebanggaan tersendiri. Dia ternyata bisa juga bergabung dengan orang-orang di senat fakultasnya dalam penyelenggaraan acara nanti di bulan Ramadhan. Dia tidak membayangkan akan bisa bergabung dengan mereka. Sebetulnya anwar sudah bercita-cita sebelum masuk kuliah bahwa dia akan aktif di organisasi jurusannya. Tetapi pada waktu orientasi jurusan, dia tidak bisa ikut karena waktu itu dia tidak bisa membayar biaya orientasi yang biayanya lebih dari seratus ribu. Dia pada waktu memiliki uang tetapi prioritasnya bukan untuk acara itu.

Dia gunakan uang itu untuk keperluan hidup seharí-hari di awal perkuliahannya. Dia memang mesti banyak berhemat karena orang tuanya tidak memberinya bekal secara penuh. Malah dia harus mencari uang tambahan agar dia bisa bertahan hidup di Jakarta.

Anwar segera mematikan lampu kamar. Dia segera memejamkan mata karena besok akan mengikuti rapat pagi-pagi di kampus.

***

Anwar duduk sudah hampir setengah jam. Dia duduk di samping  Teh Gania. Dia berulang kali melihat jam dinding yang terpajang di dinding barat ruangan itu. Sebelumnya dia sudah membereskan ruangan itu, mengatur kursi-kursi agar rapat terasa nyaman. Dia melakukannya bersama Teh Gania, orang yang mengajaknya ikut dalam acara yang akan di selenggarakan nanti di bulan Ramadhan itu.

Menit-menit telah berlalu. Anwar sudah mulai merasa tidak sabar menunggu. Sementara yang hadir hanya baru dua orang, yaitu dirinya dan Teh Gania.

”Teh, jadi nggak sih rapatnya, kok pada nggak ada? ”

“Jadi … jadi tapi kayaknya ngaret. Saya sudah sms teman-teman. Mereka pada bilang masih di jalan. Sabar ya …”

Anwar mengganggukkan kepala. Dia berusaha mengikuti kata-kata Teh Gania, bersabar. Menunggu memang merupakan aktivitas yang paling membosankan. Menunggu satu detik seperti satu menit. Satu menit seperti  setengah jam. Satu jam seperti seminggu. Satu hari seperti bertahun-tahun, bahkan berabad-abad.

Barulah setelah satu jam kemudian, teman-teman sudah berkumpul dan rapat bisa dimulai. Rapat dibuka oleh Teh Gania. Dia mengawali rapat dengan alasan mengapa teman-teman dikumpulkan.

”Teman-teman, kita akan merencanakan suatu acara bakti sosial nanti di bulan Ramadhan. Program ini adalah program rutin yang di selenggarakan oleh SMF[1] psikologi, yaitu bidang Kerohanian yang menjadi tanggung jawab saya. Untuk itu saya mengumpulkan teman-teman. Saya kira sebelum kita membicarakan mengenai program tersebut seperti apa, alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu kita memilih siapa ketua pelaksananya.”

Semua peserta rapat akhirnya sepakat untuk menentukan beberapa orang yang layak menjadi ketua pelaksana. Ada dua orang yang terpilih, yaitu Anwar dan Alan. Kemudian mereka berunding lagi siapa yang lebih layak diantara keduanya. Terpilihlah Alan sebagai ketuanya. Namun Alan ternyata tidak bersedia, lantaran dia punya tugas lain yang jika dia menjadi ketua tidak bisa fokus.

”Tapi meskipun saya tidak bersedia, saya bersedia membantu ketua yang nanti terpilih,” ucap Alan sambil tersenyum.

Akhirnya terpilihlah Anwar. Anwar sendiri merasa sangat berat. Selama di kampus, baru kali ini dia dipercaya menjadi ketua pelaksana. Setelah dia pikir-pikir, dia beranikan diri. Dia berpikir jika dulu dia pernah menjabat sebagi ketua MPK[2] dan DKM[3] sekolahnya dalam waktu yang bersamaan dia bisa menjalankan dengan cukup baik. Maka untuk urusan ini mengapa ia harus menolak sebelum mencoba.

Dengan dada yang berdebar-debar Anwar berkata, ”terima kasih banyak atas kepercayaan teman-teman. Konsekuensi teman-teman karena telah memilih saya, maka saya mengharapkan teman-teman turut serta menyukseskan acara nanti. Sungguh tanpa bantuan teman-teman saya tidak akan mampu berbuat apa-apa.”

Teh Gania selanjutnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Anwar. Anwar memimpin rapat. Dia membentuk kepengurusan. Sekretaris yang dia amanati adalah Dina. Sedangkan bendaharanya adalah Ida. Mereka adalah teman seangkatannya. Setelah seksi-seksi ditentukan, masing-masing dikelompokkan dan diberi waktu untuk membicarakan konsep masing-masing seksi dan mengajukan estimasi biaya yang diperlukan.

Dari hasil rapat itu, disepakati bahwa acara yang akan mereka laksanakan diberi nama ’Psikologi Berbagi Simpati’ Simpati di sini merupakan singkatan dari silaturrahim, persaudaraan, amal, dan empati. Masing-masing seksi menyerahkan anggaran biaya kepada sekretaris. Target proposal selesai minggu ini. Anwar meminta Dina untuk menyerahkan draft proposal kepadanya untuk diedit empat hari lagi.

***

Lima hari kemudian Anwar dan Dina bertemu di depan fakultas. Dina datang terlambat lebih dari setengah jam. Anwar kesal, tetapi mau tidak mau dia harus mulai belajar untuk bersabar karena seperti itu memang budaya mahasiswa Indonesia, termasuk budaya para dosennya yang dijadikan model oleh para mahasiswa.

Dina menyerahkan flasdisk kepada Anwar. Ada perasaan aneh yang menjalar pada diri Anwar. Dia  terlihat kaku dan grogi. Dia berharap Dina tidak mengetahuinya. Kalau mengetahuinya bisa berabe. Anwar memang kagum saat pertama kali bertemu dengan Dina. Anwar sama seperti lelaki normal lainnya yang tertarik pada kecantikan. Anwar menilai bahwa Dina itu adalah perempuan yang berbeda dengan teman-temannya. Dia bisa mengurus diri. Pakaian yang dikenakan Dina terlihat selalu menarik dan modelnya selalu berbeda dari kebanyakan. Dina berkulit hitam manis, berkacamata, berkerudung dan penampilannya modis.

”Anwar, aku sudah selesaikan proposalnya. Kalau ada yang kurang kamu tambahin aja ya,” ucap Dina ketika dia duduk di bangku depan fakultas.

Diam-diam Anwar menaruh hati padanya sejak semester pertama. Dan kini menginjak semester enam, rasa itu tidak berubah sedikit pun. Dia pernah berpikir ingin mengungkapkan perasaannya itu, tetapi selalu saja keberanian itu menguap. Dia sadar diri bahwa dia hanyalah mahasiswa sederhana yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Dia tidak berani mengungkapkan cinta lantaran berpikir mana ada yang mau perempuan sama mahasiswa yang miskin macam dia. Selain itu, meskipun Anwar belum mampu menghilangkan perasaan itu, dia menyadari bahwa penampilan Dina bertentangan dengan nuraninya. Dia menginginkan  perempuan yang benar-benar menutup aurat, bukan berkerudung tetapi masih kelihatan lekak-lekuk tubuhnya karena berpakaian ketat atau memakai celana jeans ketat seperti Dina.

”Anwar … Hei … Hei!” teriak Dina sambil menepuk pundak lelaki itu.

Anwar terperanjat. Matanya tertuju kepada Dina yang berada di sampingnya.

”Ya ada apa, Din?”

”Walah … dari tadi kamu kemana aja. Aku ngomong kamu nggak dengar ya, kamu ngalamun ya? Ngelamunin apa sih?”

”Maaf, Din? Iya kamu barusan bilang apa?”

”Ini flashdiknya. Kamu tinggal edit aja. Nama file-nya ‘proposal berbagi simpati’ ”

”Siip … makasih ya, Din.”

”Okey. Kalau gitu aku pergi dulu. Ada janji sama teman.”

”Ya aku juga ada tugas dari organisasi untuk jaga stand menyambut mahasiswa baru. Oya nanti kalau ada perlu aku hubungi kamu. Aku harap kalau nanti ketemu lagi jangan ngaret lagi.”

”Iya sorry ya kamu tadi lama nunggu. Habis tadi dari Ujungberung macetnya panjang banget. Aku jadi malu nih. Mudah-mudahan nanti nggak terulang lagi.”

Keduanya beranjak dari tempat itu dengan berlawanan arah. Dina ke jalan arah Selatan dan Anwar ke Utara. Beberapa menit kemudian, Dina melihat ke belakang menyaksikan punggung lelaki itu dari kejauhan. Dia menyunggingkan senyum. Sementara Anwar terus melangkah. Dia merasa sedang di perhatikan, tapi entah siapa. Dia berusaha mengusir perasaan itu dengan terus berjalan lurus tanpa menengok ke kiri atau kanan, atau bahkan ke belakang.

***

Anwar mondar-mandir di kamar. Dia mencari-cari Flasdisk milik Dina sebelum dia berangkat ke rental komputer. Dia mencari sudah hampir satu jam. Dia periksa barangkali disimpan di dekat tumpukan buku. Dia juga sudah memeriksanya di semua bagian tasnya. Tetapi Flasdisk itu tak kunjung diketemukan. Padahal dia menargetkan proposal itu besok akan dia serahkan kepada Alan untuk dilayout sebaik mungkin. Dia sedikit tenang ketika dia sudah menerima email dari Iyan, seksi dokumentasi yang bermurah hati untuk membuatkan logo. Tidak ada yang perlu dikoreksi. Logo sudah dianggap bagus dari segi pemilihan warna maupun lambang-lambangya.

Flasdisk itu tak jua diketemukan. Dia menyangka benda itu hilang. Dia ingat-ingat ketika pertama kali menerima flasdisk dari Dina. Dia memasukkan ke saku celana. Kemudian dia pergi menjaga stand selama tiga jam. Bisa jadi ketika menjaga stand dia mengeluarkan benda itu dan disimpan di meja. Karena sibuk melayani pengunjung stand yang berjubel, dia lupa memasukkan benda itu. Itulah yang dia ingat. Dia menelpon Dina dan mengatakan dengan sejujurnya.

Keesokan dia datang ke rumah Dina untuk mengambil data diantar oleh Iyan. Dina merasa kecewa atas kehilangan benda itu.

”Itu bagiku sangat bersejarah. Bukan sebatas benda,” kata Dina saat Anwar tiba di halaman rumah Dina. Dia membiarkan rambutnya tergerai. Tubuhnya dibalut kaos pendek ketat berwarna kuning gading dan celana pendek di atas lutut. Kulitnya bak pualam. Anwar dan Iyan terkesiap menyaksikannya.

Namun Anwar segera sadar bahwa pemandangan di hadapannya tidaklah berhak untuk dia nikmati. Dia segera menundukkan pandangan. Dia lihat Iyan masih melotot. Dia segera menyikut temannya. Iyan terkejut dan langsung menunduk.

”Iya … maaf. Sungguh saya tidak sengaja. Itu memang kelalaian saya,” ujar Anwar sambil mengiba.

”Sudahlah … maaf saya jadi sedikit emosi nih. Kamu tahu nggak benda sangat spesial bagiku karena itu adalah pemberian dari orang yang begitu spesial bagiku. Oya ayo masuk … masuk.”

Anwar dan Iyan masuk dan duduk di ruang tamu. Anwar berpikir orang spesial. Apa mungkin orang spesial itu adalah pacarnya, pikir Anwar. Anwar berpikir lagi, mengapa aku memikirkan itu, apa urusannya denganku. Memangnya aku ini, siapanya Dina? Anwar menyerahkan flasdisk yang dipinjam dari Alan kepada Dina. Dina masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian dia menyerahkan flasdisk itu kembali kepada Anwar.

”Tunggu sebentar ya … saya lupa belum menyuguhkan air pada kalian,” ucap Dina sambil sedikit berlari ke dapur.

”Din … Din … nggak usah repot-repot. Saya dan Iyan mau langsung pulang saja,” kata Anwar.

”Lho kok gitu sih. Nggak ah … kalian pokoknya jangan pulang dulu. Aku bakalan marah kalau kalian pulang.”

Iyan dan Anwar akhirnya duduk menunggu. Dina datang dari dapur membawa Teh manis dan kue kering dalam toples. Kedua lelaki itu mencicipinya. Dina  memandangi keduanya dengan tersenyum. Anwar berusaha sekuat tenaga menjaga perasaannya. Hatinya memang tidak bisa memungkiri bahwa dia tertarik pada perempuan yang ada di hadapannya, namun nuraninya berkata untuk tidak memperturutkannya, jangan kotori niat suci dengan perbuatan-perbuatan nista dan dapat mengundang murka Tuhan! Kamu harus belajar profesional. Bedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan.

Sementara Dina merasa bahwa dirinya memang perempuan yang suka disanjung. Jika ada lelaki yang menyanjungnya dia akan merasa menjadi perempuan yang beruntung. Tapi mengapa Anwar sama sekali tidak pernah memuji kecantikannya. Dia juga merasa aneh pada dirinya mengapa berharap pujian dari lelaki yang tidak pernah kedengaran gosip dia punya pacar. Dia tahu bahwa lelakinya itu berprinsip ’say no to dating

***

Menjelang rapat panitia yang kedua belum ada kemajuan yang berarti mengenai proposal. Semuanya molor dari target yang telah di tetapkan. Hal ini terjadi karena Alan tidak menepati janjinya. Anwar sangat kecewa mengapa untuk urusan yang prioritas temannya yang satu ini malah berleha-leha.

Saat Anwar ke kontrakan Alan, dia malah menunggu berjam-jam untuk mengetahui perkembangan mengenai proposal. Alan memang orangnya moody. Jika dia sedang malas, tidak ada satupun pekerjaannya yang beres. Tetapi Anwar tidak menerima alasan itu. Bagaimana pun ini menyangkut target bersama dan kepentingan bersama demi kemajuan senat di fakultasnya.

”Beginilah umat Islam mengapa dia aksinya selalu kalah cepat dengan umat lain. Mereka tidak bisa menghargai waktu meskipun Allah sudah banyak bersumpah atas nama waktu di dalam Al-Quran..”

”Kita bisa lihat secara nyata pada diri kita sendiri yang selalu mengulur-ngulur waktu. Andai saja kita mau menghargai waktu, aku yakin cover proposal akan selesai dalam satu atau dua jam, tidak akan menghabiskan waktu lebih dari seminggu. Tapi sekali lagi kita umat Islam tidak pernah menghargai waktu sehingga kita selalu ketinggalan dan dikalahkan oleh agama dan bangsa lain.”

Anwar keluar mengucap salam dengan muka cemberut dan menutup pintu sambil dibanting dengan keras. Sementara Alan menjawab salam hanya dalam hati. Dia tidak  menduga sahabatnya akan marah dan menyindir kelalainya dalam menjalankan tugas.

***

Rapat ke dua dan rapat-rapat selanjutnya berjalan seperti rapat pertama meski pun Anwar dalam setiap rapat berkali-kali mengingatkan teman-temannya untuk tepat waktu dan semangat. Dia menyemangati teman-temannya bahwa acara ini bukan saja sekadar untuk merampungkan program kerja senat, akan tetapi lebih dari itu acara itu adalah ibadah yang akan mereka petik pahalanya di akhirat jika mereka melakukannya dengan ikhlas.

Proposal yang sudah dicetak beberapa kali direvisi karena ada kekurangan. Revisi ini memakan waktu berhari-hari. Ketika sudah dicetak lagi proposal tersebut diserahkan ke fakultas untuk ditandatangani oleh dekan fakultas psikologi. Di sana proposal bermalam selama berhari-hari karena pihak fakultas meminta waktu untuk mengkaji terlebih dahulu proposal itu. Hal ini berimbas pada telatnya pengajuan proposal ke berbagai instansi dan periusahaan yang akan menjadi sponsor. Biasanya proposal sampai ke lembaga atau perusahaan akan diproses selama sebulan, sementara acara yang akan diselenggarakan tinggal tiga minggu lagi. Anwar mulai kuatir apakah acaranya akan berjalan sesuai target. Apa pun yang akan terjadi dia sudah pasrahkan semuanya. Dia sudah berusaha untuk memantau juga menjaga semangat teman-temannya.

***

Satu hari sebelum acara semua panitia berkumpul di sekretariat senat. Masing-masing melaporkan tugas-tugas dan tanggung jawab yang mereka emban. Dana acara  yang terkumpul boleh dikatakan cukup. Beberapa lembaga memberikan sumbangan yang tidak mengikat. Pihak fakultas dan dosen-dosen juga ikut menyumbang untuk acara tersebut. Dari dosen dan teman-teman jurusan ada yang menyumbangkan pakaian bekas yang masih layak pakai.

Sore itu seluruh panitia berkumpul menyelesaikan tugas masing-masing yang belum beres.  Sebagian panitia yang tidak ada pekerjaan ikut membantu membungkus hadiah dan bingkisan dengan kertas kado. Anwar juga ikut dalam kerumunan dan kesibukan teman-temannya. Dia merasa lega dan bahagia menyaksikan itu semua.

***

Pukul dua siang. Suara alunan nasyid menggema dari aula universitas. Di aula itu kursi yang tersusun rapi dipenuhi oleh puluhan anak yatim dari beberapa asrama anak yatim di kota Bandung. Selain anak yatim, di aula itu dipenuhi oleh mahasiswa psikologi.

Grup nasyid yang vokalisnya merupakan salah satu mahasiswa psikologi semester dua itu menampilkan beberapa buah lagu. Lagu yang mereka nyanyikan yaitu Para PencariMu, Neo Shalawat, Semesta Bertasbih, dan lagu-lagu terkenal lainnya. Audiens cukup terhibur dengan penampilan mereka.  Setelah itu acara dilanjutkan dengan games-games yang dipandu oleh pembawa acara. Beberapa menit menjelang shalat asar, audiens dipersilahkan istirahat dan melaksanakan shalat Asar. Para mahasiswa berbaur dengan anak-anak ketika mereka berangkat ke  masjid. Mereka berangkat ke masjid dengan bergandengan tangan.

Setengah jam kemudian, aula kembali ramai. Nasyid kembali mengalun. Anak-anak dan mahasiswa ikut menyanyi pada bagian reffrain. Dengan semangat mereka menyanyikan:

Akan kuatkah kaki yang melangkah

Bila disapa duri yang menanti

Akan kaburkah mata yang meratap

Pada debu yang pasti kan hinggap[4]

Pembawa acara menyampaikan acara berikutnya. Dia memanggil seorang penceramah muda yang lagi naik daun di Kota Bandung. Lelaki muda itu bernama ustadz Luthfi. Penceramah muda itu naik ke pentas dan menyapa audiens dengan ramah.

Ustadz Luthfi menyampaikan dengan lugas. Terkadang diiringi dengan banyolan dan kisah-kisah yang penuh insiprasi dari kalangan para nabi dan tabi’in. Dia menyebutkan sosok Abu Bakar, Ustman Bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan banyak lagi untuk mencontohkan orang-orang yang berjuang untuk kemuliaan agama dengan jiwa, raga, harta dan nyawanya.  Dia mengutip ayat yang berhubungan dengan sedekah.

”Adik-adik yang manis dan para mahasiswa yang keren, di balik sedekah itu banyak terdapat keajaiban. Allah telah mengungkapkannya dalam Kalam-Nya yang Agung.”

Mubaligh itu membacakan Surat Al-Baqarah ayat 261 sampai 265 dengan suara yang merdu, indah, kadang rendah, tinggi, atau melengking, membuat orang yang mendengarnya seperti tersihir. Suara itu membuat kagum dan mampu mengobati kegalauan hati dan jiwa. Usai menyenandungkan ayat-ayat itu, dia langsung menyebutkan terjemahan dan menjelaskan maksudnya.

“Perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seumpama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis pun memadai. dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.”

Anak-anak dan mahasiswa mendengarkan dengan antusias. Sebagian dari mereka mengangguk-anggukkan kepala. Sebagian lagi memerhatikan mubaligh tanpa berkedip. Teh Gania termasuk orang yang memerhatikan tanpa berkedip. Dia mendengarkan sambil senyam-senyum. Anwar melirik ke arah Teh Gania. Teh Gania melambaikan tangan kepadanya dari arah yang jauh. Kemudian perempuan itu mengirimkan sms kepada Anwar.

”Tidak kecewa aku jadikan aku memilih kamu menjadi ketuplak[5]. By the way, ustadz yang satu ini lumayan juga. Mau dong! Kalau belum menikah, aku rela jadi istrinya. Kalau pun sudah menikah, aku rela jadi istri keduanya. Serius lho!”

Anwar tersenyum membaca sms itu. Dia tidak membalasnya. Dia fokus mendengarkan penjelasan dari penceramah muda itu. Dari kejauhan dia melihat Teh Gania tersenyum memandangi wajah lelaki yang sedang menerangkan keajaiban sedekah itu.

Kebahagian dan keceriaan itu semakin lengkap ketika adzan berkumandang dari masjid universitas terdengar. Semua orang yang berada di aula berbuka dengan sop buah. Sop buah itu membuat kerongkongan mereka begitu segar dan tenaga mereka kembali pulih. Mereka kemudian shalat di masjid universitas dan kembali lagi ke aula untuk makan bersama. Mereka makan sambil berfoto-foto.

***

Anwar pergi Istana Plaza dengan naik angkutan damri. Dia berangkat setelah shalat asar. Perjalanan dari Cibiru memerlukan waktu sekitar setengah jam. Sore itu jalan ramai. Banyak anak muda yang sedang ngabuburit sehingga jalan sedikit macet. Karenaya Anwar menghabiskan waktu di damri selama satu jam. Dia sebetulnya ingin memanfaatkan waktu dengan membaca buku yang dibawanya dalam kantong. Tetapi kondisinya tidak memungkinkan. Dia pernah mencoba membaca di angkutan damri non-ac, ternyata tidak bisa fokus karena jalanan yang tidak rata. Dia malah akhirnya pusing setelah baru membaca satu atau dua halaman. Dia berpikir mungkin beda lagi ketika dia naik damri yang ber-ac. Ceritanya mungkin akan berbeda.

Di tempat itu Anwar tidak berlama-lama. Dia menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit. Dia membeli dua buah flasdisk. Satu untuk mengganti  flasdisk milik Dina. Satu lagi untuk dirinya. Flasdisk miliknya sudah tidak bisa digunakan lagi sehingga harus membeli lagi. Flasdisk itu berwarna putih dengan tutup masing-masing berwarna biru dan pink. Yang berwarna biru untuk dirinya dan yang pink untuk Dina. Dia sengaja memilih warna itu supaya Dina merasa terhibur. Dia berharap warna yang dipilihnya itu akan disukainya. Flasdisk yang dia hilangkan juga warnanya putih dengan tali seperti resleting berwarna pink. Dia membayangkan wajah Dina yang sumbringah ketika menerima benda elektronik itu.

Keesokan harinya dia menemui Dina di tempat biasa, di depan fakultas psikologi. Anwar sudah janjian melalui sms.

Dina dan Anwar duduk dibangku yang terbuat dari tembok. Dina memandangi Anwar, sementara Anwar menundukkan pandangan. Mereka duduk berjarak. Anwar tidak berani duduk berduaan seperti itu. Dia merasa mata setiap orang tertuju kepadanya. Dia merasa diperhatikan. Ada mata yang tidak kelihatan yang lebih tajam dari mata orang-orang. Itulah penglihatan yang Maha Kuasa yang melihat segalanya tanpa batas. Dia melihat segala yang lahir maupun yang batin. Begitupun dirinya saat ini tengah disaksikan oleh-Nya.

Anwar bangkit dari duduknya. Dia bermaksud berada di tempat itu dengan tidak  berlama-lama. Dia takut pahala puasanya akan berkurang. Sementara Dina merasa ada yang aneh dengan Anwar. Dia merasa Anwar menyukainya meskipun lelaki kurus itu tidak  pernah mengungkapkannya. Dia tahu dari cara dia bersikap padanya. Tiba-tiba perempuan itu merasa tersanjung. Dia tiba-tiba merasa seperti berasa di angkasa, di atas arakan awan-awan yang putih dan sebuah jalan warna-warni yang begitu indah seumpama pelangi. Dia pun merasa sedang duduk dia atas bulan sabit dengan memakai gaun putih dan memiliki dua sayap indah berwarna putih.

”Mmm … Din, maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini. Ini flasdisknya. Maaf ya terlalu lama soalnya kemarin sibuk ngurusin acara,” ucap Anwar sambil menyerahkan benda yang masih dikemas itu tanpa melihat ke arah perempuan itu.

Dina menerima flasdisk itu agak lambat, seperti gerakan slow motion di film. Tangan dina yang halus menerima benda itu dan hampir menyentuh tangan Anwar. Anwar buru-buru menariknya supaya tidak bersentuhan. Tetapi usaha sia-sia. Tangan jemari Dina yang halus dan kuku-kukuknya yang memakai cutek dan terawat dengan bersih menyentuh telapak tangannya dan menimbulkan perasaan yang tidak biasa. Jantungnya berdebar-debar. Mukanya memerah. Sementara Dina tersenyum dan dalam hati dia berteriak segirang-girangnya.

Anwar beristighfar berkali-kali dalam hati.

”Maaf, Din. Saya duluan meninggalkan tempat ini.”

”O gitu ya. Ya sayang, padahal saya masih ingin di sini. Nggak ada teman ngobrol.”

”Wah, maaf saya tidak bisa menemani.”

”Makasih, flasdisknya bagus. Aku suka warnanya.”

”Oya … saya hanya berusaha mengganti dengan barang yang semirip mungkin dengan barang sebelumnya.”

Sejatinya bukan itu jawaban yang diharapkan Dina. Dia mengharapkan jawaban, bahwa warna itu adalah simbol dari perasaan diantara mereka berdua.

Anwar meninggalkan tempat itu. Dina memandangi lelaki itu tanpa berkedip. Tiba-tibanya jantungnya berdebar-debar. Perempuan itu ingin sekali berteriak mengatakan kepada lelaki yang makin menjauh dari hadapannya, hei … tunggu jangan dulu pulang. Aku ingin berbicara lebih lama denganmu dan menghabiskan hari ini bersamamu.

 


[1] Senat Mahasiswa Fakultas

[2] Majlis Permusyawaratan Kelas

[3] Dewan Kemakmuran Masjid

[4] Suci Sekeping Hati, kelompok nasyid Saujana

[5] Ketua pelaksana

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930