//
you're reading...
Cerita, Renungan

EMPAH

 Pergi haji artinya menuju Allah Yang Esa

Membawa hati dan diri yang hina

Memberi hadiah kepada Allah

Berhati-hatilah menghadap-Nya …[1]

Penggalan nasyid di atas mengingatkanku pada fase kehidupan yang pernah kualami enam tahun yang lalu. Lagu itu adalah salah satu lagu yang pernah kunyanyikan dengan teman-teman di pesantren dalam berbagai event. Atas nama pesantren, biasanya kami diundang dalam acara khitanan, pernikahan, dan yang terakhir kali kuingat dalam acara tasyakur dan tabligh akbar menjelang keberangkatan menantu guru ngajiku menuju tanah suci.

Guru mengajiku adalah seorang yang layak digelari pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Jika guru PNS digaji oleh pemerintah dan guru honorer digaji oleh sekolah tiap bulan, maka guruku yang satu ini digaji seratus persen dengan mendapatkan keridhaan Allah. Beliau sama sekali tidak mendapatkan apa pun dalam bentuk materi dari para santrinya. Beliau tidak pernah mengharapkan, apalagi menuntuk agar orangtua santri memperhatikan kesejahteraannya.

Anak-anak dan istrinya biasa memanggilnya Empah. Tetangga dan masyarakat di sekitarnya pun memanggil dengan sebutan yang sama. Sedangkan aku memanggilnya dengan dua sebutan, yaitu Empah dan Kang Endang. Aku memanggilnya Akang karena beliau adalah kakakku. Beliau menikah dengan  Teh Iin, Putra Uwak Perempuan alias kakak Ibuku. Di lingkungan sekitarnya Empah sangat familiar. Dan tentu saja Teh Iin jadi ikut terkenal. Istrinya pun kemudian dipanggil dengan sebutan Emah.

Empah dikaruniai lima orang anak. Semuanya laki-laki. Mereka berlima kini sudah tumbuh dewasa. Aku ingat ketika mereka masih kecil. Saban hari mereka sering ribut. Rumah selalu berantakan meski sudah dibereskan. Empah dan Emah sering stress dibuatnya. Saa, anak pertama seumur denganku. Dia kuliah sambil bekerja. Anak ke-2, Ende. Dia lulus SMA. Saat ini, ia belum bisa meneruskan kuliahnya. Lalu anak ke-3, Tete yang sekolah di SMA. Anak ke-4, Ayi yang tengah sekolah di MTs.

Sedangkan Faiz adalah putra bungsu. Si Bungsu ini sekarang menginjak kelas 3 SD. Aku mengikuti pertumbuhan dan perkembangan Faiz karena sering menginap di rumah Empah. Saat masih bayi, di belajar berkata-kata dan  menyebut namanya sendiri. Faiz mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasanya. Dia memanggil namanya sendiri dengan sebutan Ait. Dan akhirnya ia jadi terbiasa dipanggil Ait.

Empah adalah seorang yang berdedikasi tinggi. Beliau memimpin sebuah Pesantren Mabda’ul Uluum. Empah sering menjelaskan tentang filosofi Mabda’ul Uluum dalam pengajian-pengajiannya untuk menyemangati para santrinya.

”Mabda’ul Ulum adalah tempat persemaian benih-benih ilmu. Dari sinilah nanti akan lahir para ulama pewaris para nabi yang menegakkan Kalimah Allah di muka bumi, ” kata beliau di sela-sela menjelaskan Tafsir Al-Quran dan kitab kuning.

Pesantren Mabda’aul Uluum adalah sebuah pesantren kecil yang santrinya tidak ada yang menetap di asrama karena tidak mempunyai santri dari daerah yang jauh juga sekaligus tidak memiliki fasilitas asrama yang memadai. Semua santrinya ngalong (pulang ke rumah) karena rumah mereka ada di sekitar pesantren itu. Pesantren ini hanya memiliki fasilitas berupa ruangan yang selain dipakai untuk mengaji anak-anak, juga dipakai untuk shalat berjama’ah dan pengajian jum’atan para ibu.

Aku mulai belajar mengaji bersama Empah sejak kelas enam SD. Sebelumnya aku mengaji di pesantren Nurul Falah, sebuah pesantren yang diasuh masih oleh salah seorang kerabatku. Aku mendapatkan banyak manfaat setelah mengaji dengan Empah. Jika sebelumnya hanya mengaji Al-Quran dan tajwidnya, maka setelah aku belajar kepada beliau banyak wawasan yang sebelumnya tidak kuketahui seperti bahasa Arab, hadis-hadis dalam kitab Bulughul Marram, dan ilmu Nahwu-Sharaf (Gramatika Bahasa Arab).

Keseharian Empah tidak pernah luput dari dua macam aktivitas, yaitu pergi ke sawah dan mengajar di pesantren. Namun dua macam aktivitas yang beliau lakukan memiliki motif  dan orientasi yang berbeda meskipun goal dari keduanya adalah sama, yaitu masih dalam frame ibadah demi mengharap keridhaan Allah. Jika Empah pergi ke sawah, sudah pasti beliau mencari qimah maadiyah (nilai materi). Beliau bertanggung jawab atas nafkah keluarganya karena beliau meyakini bahwa menafkahi keluarga ibadah yang begitu mulia. Sedangkan jika mengajar para santri, beliau menanggalkan  qimah maadiyah. Apakah yang beliau cari? Hanya satu yang beliau harapkan, yaitu qimah ruhiyah (nilai spiritual). Jelas aku melihat keikhlasannya dalam mendidik generasi mulsim.

Sebelum pesantren memiliki bangunan, kegiatan mengaji dilaksanakan di rumah beliau. Aku pernah melihat perbedaanya dengan guru ngaji lain yang kukenal. guru ngaji lain yang melaksanakan pengajian di rumah, biasanya meminta uang iuran untuk membayar rekening listrik. Sementara beliau sama sekali tidak pernah kudengar beliau memberi instruksi kepada santrinya untuk mengumpulkan uang untuk membayar rekening listrik.

Pelajaran yang selalu kuingat dari beliau adalah materi Nahwu-Sharaf dari Kitab Mukhtashar Jiddan dan Kailani. Ini adalah pelajaran yang benar-benar baru bagiku. Saat itu aku menginjak kelas 6 SD. Pada saat masuk MTs, mendapatkan penjelasan mengenai materi itu dari guru Bahasa Arab sudah tidak terlalu pusing karena sudah ada gambaran sebelumnya. Empahlah orang yang paling pertama memberikan pondasi pemahamanku terhadap teori-teori gramatika bahasa Arab yang merupakan kunci untuk memahami tsaqafah Islam. Dari beliau pulalah aku mendapatkan kepercayaan sehingga mampu berinteraksi dengan masyarakat. Aku mulai dipercaya untuk menjadi Qari dalam acara-acara tabligh di hajatan pernikahan atau khitanan, menjadi salah seorang penyanyi dalam Tim Kesenian Pesantren, dan membacakan bait-bait syair Barzanji setiap malam Jum’at atau dalam acara Maulid Nabi.

Pada suatu hari, aku dan dua orang sahabatku di pesantren membantu beliau ngalolodok, menyiangi lahan yang sudah ditanam dengan menggunakan alat yang bernama lolodok. Kami berempat bekerja sampai bedug Dzuhur. Usai bekerja, aku merasakan kelelahan yang sangat. Aku mulai menyadari bahwa hari-hari yang dijalani oleh Empah sungguh berat.  Hal itu dapat kulihat dari gurat-gurat kelelahan di dahinya. Sering kuamati aktivitas Empah yang menurutku tidak kalah padatnya dengan aktivitas kaum profesional. Bahkan aktivitas yang Empah lakukan merupakan aktivitas lapangan yang membutuhkan vitalitas dan energi ekstra.

Empah bangun sekitar setengah jam menjelang shubuh. Usai shalat Shubuh denganku di Pesantren, beliau lanjutkan dengan mengisi ’kuliah’ Nahwu-Sharaf . ’mahasiswa’-nya hanya aku seorang. Beliau terlihat sangat bahagia dan antusias karena melihat semangatku dalam mengkaji ilmu. Waktu itu, jika ada yang tidak dipahami aku sering bertanya.

Suatu hari beliau pernah berkata, ”Biarlah yang mengaji hanya satu orang. Itu lebih baik daripada banyak tapi tidak bersemangat dan terpaksa melakukannya. semoga Mang Jang akan lebih baik masa depannya dibanding santri lain yang tidak punya semangat.”  Aku tersenyum dan mengamininya dalam hati. Dulu ’kuliah bakda Shubuh’ pernah dijadikan program pesantren liburan. Empah menginginkan program itu dilanjutkan rutin seperti pengajian malam. Pada awalnya, banyak yang datang. Namun tidak bertahan lama. Dan yang tertinggal hanya aku seorang.

Usai mengajar, beliau berangkat ke sawah. Jika musim mencangkul, beliau akan lebih repot karena harus mengerjakan lebih banyak pekerjaan dari biasanya, misalnya mencangkul, ngaboyor, menyabit rumput untuk domba peliharaannya. Pulang dari sawah sore hari bahkan menjelang maghrib, persis seperti bapakku. Jika bapak sehabis maghrib bisa beristirahat dengan tenang, tapi beliau tidak. Beliau tidak bisa istirahat karena harus mengajar. Hal itu beliau lakukan tiap malam. Aku sangat prihatin menyaksikannya. Jika terlalu lelah, beliau terkadang terkantuk-kantuk pada waktu mengajar. Menyaksikan hal itu, ada beberapa orang santri yang tertawa merendahkan. Aku tidak suka. Sungguh andai saja mereka tahu betapa beratnya hari-hari yang dijalani oleh empah, mereka tidak akan berani kurang ajar seperti itu.

Usai mengajar, beliau belum bisa istirahat karena masih ada aktivitas lain yang harus beliau lakukan, yaitu membuat es. Es ini pagi-pagi dititipkan ke warung-warung oleh Saa, putra pertama yang waktu itu bisa diandalkan. Aku sering membantu Empah membungkus es. Aku menuangkan air yang sudah dibubuhi pasta pandan, jeruk, dan santan ke dalam plastik. Biasanya empah yang menalikan plastik itu dengan alat khusus. Jadi plastik itu ditalikan tanpa menggunakan karet.

Pada saat aku menyerahkan plastik, sering Empah kewalahan karena beliau tak kuat melawan kantuknya. Bahkan, pernah pula plastik itu malah jatuh dan tumpah ke lantai karena beliau kehilangan kesadarannya. Ingin sekali aku berkata: ”Pah, sudah istirahat saja. Biar aku saja yang menalikan plastik es-es ini.” Tapi sayang itu sayang tidak terlisankan karena aku tidak bisa mengerjakannya sendirian. Aku tidak bisa menalikan plastik itu dengan kencang. Aku mencoba belajar tapi selalu saja pekerjaanku tidak terpakai. Aku belum bisa bersahabat dengan alat penali yang telah dibuat oleh empah.

Empah juga adalah sosok suami yang tidak gengsian. Walaupun beliau sibuk dengan aktivitasnya, beliau masih sempat membantu meringkankan pekerjaan istrinya. Aku sering melihat beliau mencuci, memasak, dan pekerjaan lain yang lazimnya dikerjakan oleh seorang istri. Empah sangat berbeda dari suami kebanyakan. Jarang kutemukan tipikal suami seperti beliau.

Suatu waktu aku menerima telpon dari Saa. Dia bercerita dan aku menjadi pendengar yang baik.

Mang kalau dipikir-pikir aku kok belum pernah bisa bersyukur ya. Sudah dikasih rezeki yang cukup tapi masih saja kufur akan nikmat-nikmat dari Allah,” ungkap Saa suatu malam di telpon.

Subhanallah, aku berdecak kagum dalam hati. Baru kali ini aku mendengar ungkapan seperti itu dari dia yang bagiku itu merupakan ungkapan yang mendalam setelah sekian lama kami bersahabat. Ini berarti telah terjadi suatu proses perubahan dan pembelajaran dalam dirinya sehingga dia bisa mengucapkan perkataan yang dalam itu. Aku makin meyakini bahwa semua orang berpotensi untuk berubah dan masing-masing mempunyai proses yang khas.

Aku pikir semua kebaikan yang dialami oleh Saa tidak terlepas dari didikan Empah. Dari kecil ia dididik untuk bekerja keras. Dulu dia tiap pagi mengantarkan sejumlah termos es sebelum berangkat sekolah, dan sore harinya harus mengambilnya kembali. Pengalaman inilah yang telah menempanya menjadi orang yang mandiri. Boleh jadi nasibnya yang mujur adalah berkat doa-doa sang empah yang mustajab.

***

Siapa pun pasti merindukan keagungan tanah suci. Hanya saja tidak semua bisa pergi ke sana karena ada sekat-sekat yang membatasi untuk bisa sampai ke sana. Aku juga bisa melihat kerinduan itu pada jiwa Empah. Walaupun sama sekali aku belum pernah mendengar ungkapan kerinduan itu dari bibirnya. Kerinduan itu tak terlisankan karena kerinduan itu sungguh teramat agung. Dan barangkali, empah adalah orang yang tahu diri. Dengan segala keterbatasannya, ia cukup memendam kerinduan itu di dadanya. Barangkali itu hanya menjadi rahasia antara dirinya dengan Tuhannya. Boleh jadi istri dan anak-anaknya pun tak pernah tahu akan kerinduan yang suci dan agung itu.

Empah merindukan tanah suci, tempat dan ritual bersejarah yang tercakup dalam rangkaian ibadah haji yang merupakan puncak dari pilar keislaman seorang muslim. Beliau  berangan-angan untuk dapat mencium hajar aswad, berlari-lari antara Shafa dan Marwah sebagaimana hal itu dilakukan oleh Ibunda Hajar, mengitari Ka’bah suci seperti kaum muslimin lain yang berbondong-bondong dari segenap pelosok negeri. Beliau ingin menjadi tamu-Nya yang ketika sampai di baitul haram bisa mengadu di hadapan-Nya tanpa sedikit pun tirai yang menghalangi kecintaanya pada Allah Ta’ala.

Empah adalah orang yang layak untuk bisa berangkat ke tanah suci. Dengan dedikasinya yang begitu tinggi untuk memajukan generasi muda muslim. Kerinduannya akan tanah suci takkan terobati andai beliau mengharapkan gaji. Kerinduannya pada Ka’bah takkan terobati jika mengandalkan penghasilannya dari bertani.


[1] Haji Menuju Allah, Nasyid Raihan

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930