//
you're reading...
Biarkan Emak Tersenyum, Cerita

BIARKAN EMAK TERSENYUM

# 1

POTRET KELUARGA

 Tontonan yang paling ngetrend di kampung adalah sinetron. Dan saat ini sinetron yang sering di tonton yaitu ‘Putri Yang Ditukar’. Emak, Bapak, anak dan cucu-cucunya tiap malam tidak ketinggalan nonton sinetron ini.

Biasanya emak nonton di rumah Titi. Karena Televisi di rumah Titi sudah rusak dimakan usia, emak beralih nonton ke rumah Ipul. Kalo ditanya mana Amira, mana Prabu, mana Surti, pasti emak dan cucu-cucu akan berbicara abata menjelaskan sampai detil, konflik diiringi emosi membela Amira, dan berbicara penuh amarah menceritakan tokoh-tokoh antagonisnya. Kalau ditanya nama asli para pemainnya, belum tentu mereka tahu semuanya.

Kalau di sinetron itu ada adegan menegangkan, pasti mereka ikut-ikutan tegang. Mata mereka membelalak fokus ke televisi 21 inch. Kalau si tokoh antagonisnya berbuat jahat, mereka akan berteriak memberitahu si protagonis untuk berbuat sesuatu agar tidak di jahati, atau melaranya melakukan sesuatu biar tidak terkena jebakan si antagoni. Haha lucu ya? Emangnya Amira dengar kata mereka? Emangnya pak Prabu juga dengarin kata-kata mereka?

Eit tapi ada yang unik pas lagi nonton sinetron ini. Siapa ya? Pas adegan menegangkan dan yang lain fokus ke kotak televisi, Emak malah terkantuk-kantuk. Dia tadi menonton sambil telngkup. Kepalanya naik turun. Rambutnya yang sudah beruban dan acak-acakan menghalangi sebagian wajahnya. Bibirnya sedikit membuka. Nafasnya sangat berat, terasa seperti orang yang benar-benar lelah. Ya memang lelah karena seharian bekerja tidak ada habisnya.

Cucunya ribut karena adegan sinetron lagi tegang-tegangnya tapi di bagian bawah layar tertulis kata bersambung. Mereka bilang, “huuuh” seperti paduan suara nyaris tidak fals sama sekali.

Ilmi, salah satu cucunya mengompori  cucu lainnya. “Hei lihat-lihat, si Dema [1]nundutan[2]

Aghni tertawa. “Kita teriaki yuk!”

Kedua anak itu mendekati emak yang kepalanya lagi naik turun dan dengkurannya yang berat dan halus. Keduanya saling berbisik menyepakati kira-kira apa yang harus mereka teriakkan.

Setelah mereka sepakat. Aghni mulai menghitung sambil berbisik, satu … dua … tiga …”

“KEBAKARANNNNNN!”

Emak tiba-tiba tersadar… dia berbicara tidak jelas seperti orang mengigau. Kepalanya sedikit berdebum ke lantai papan.

Astaghfirullah … selamatkan kasur dan barang-barang”

Kumaha[3] Amira? Masih iklan atau bersambung”

Menyaksikan tingkah emak yang masih seratus persen kembali kesadarannya, mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

“Ah si Dema mah Nundutan[4] tuda nontonna. Hehe…,” kata Ilmi

“Iya… tiap malam kayak gini. Gimana mau bisa tahu nasib Amira dan Pak Prabu?”

“Hey jangan gitu dong sama orangtua. Dosa tau!” kata Ipul.

“Iya… dasar kalian cucu-cucu yang tidak berbakti. Dosa lho,” bela anak perempuan bungsunya.

Aghni dan Ilmi tidak memedulikan kata-kata bibinya. Mereka terus tertawa.

Emak tersenyum menanggapi kedua cucunya. Dia sangat menyayangi kedua cucunya itu.

“sinetron apa habis ini?”

“udah Ah Mak, gak usah nonton. Istirahat aja. Emak capek. Lain kali aja nontonnya,” kata si bungsu.

“Masih mau Nonton emak mah.

“Oh emak masih pengen nonton. Ya udah…”

Si bungsu bangkit menuju kamar. Dia mengambil bantal, lalu meletakkanya di samping emak. “Mak, kalo ngantuk nanti simpan aja bantalnya di atas kepala. Jangan dilantai. Nanti sakit.”

“Emak gak kayak kita enak-enak diem di rumah. Main dan jajan. Hei, lain kali kalau liat emak mengantuk bibi nggak mau liat lagi kalian menertawakannya. Kalian harus nyediain bantal ya… ngerti?!” lanjut si bungsu.

Mereka berdua mengangguk.

“Awas ya kalau terulang lagi. Bibi nggak mau emak disakiti.”

“Oke, Boss!!!” kedua anak itu koor.

Ya begitulah jika Emak nonton TV. Selalu terkantuk-kantuk karena siangnya tiada hentinya bekerja di sawah dan di rumah. Sosok emak selalu dirindukan oleh anak-anak dan cucu-cucunya. Anak-anak kalau ada apa-apa pasti mengaduk kepadanya. Cucu-cucunya selalu betah main di rumah gubuk meskipun tidak ada makanan yang lezat. Mereka asyik bermain meskipun rumah berlantai papan, dan makanan yang terhidang hanya makanan tradisional berupa singkong, ubi, pisang dan pisang roid.

Gigi atas emak jarang di tengahnya. Hal ini menjadi bahan guyonan di rumahnya. Gen emak memang kuat. Emak dikaruniai tujuh orang anak. Itu yang ada. Sementara tiga orang anaknya meninggal saat masih bayi. Beberapa anaknya mewarisi gen gigi jarang emak seperti Titi, Ipul, dan Eti. Anak yang lain bergigi rapat seperti bapak. Namun ada anak dari mereka yang bergigi rapat ternyata mewarisi gigi jarang emak. Tapi sebaliknya, anak dari mereka yang bergigi jarang ternyata memiliki gigi yang rapat. Ya begitulah, Allah mengatur semuanya. Ternyata Dia memang sungguh Maha Adil.

***

Pagi mulai merangkak. Matahari dhuha menampakkan diri. Cahayanya menerobos jendela rumah panggung. Rumah panggung bercat hijau tua itu di huni oleh Emak dan seorang suaminya. Anak-anaknya sudah berumah tangga. Ada dua anaknya lagi yang belum berumah tangga. Kedua anaknya itu masih menuntut ilmu.

Di rumah itu hanya ada emak dan  bapak. Biasanya rumah itu akan ramai jika semua cucu emak main. Tapi pagi ini belum ada satu cucunya pun yang kelihatan  batang hidungnya. Emak berpikir, mungkin mereka sudah mulai masuk sekolah setelah liburan kenaik kelas minggu kemarin. Cucunya yang masih kecil pun kini sudah mulai masuk TK.

Emak sudah beraktivitas sejak pukul tiga. Diawali dengan aktivitas shalat tahajud, kemudian mengambil air untuk dimasak, terus menanak nasi, dan membeli bahan-bahan lauk pauk di pasar.

Sementara bapak, kalau sudah shalat shubuh, biasanya dia langsung berangkat ke sawah. Tapi untuk tiga bulan terakhir ini, dia tidak bisa melakukan hal itu karena dia baru saja tertimpa musibah. Dia terjatuh di sungai. Jadi beberapa bulan ini yang bisa dia lakukan hanya berbaring di kamar. Dan kalau bosan dia sesekali berjalan dengan tubuh yang rikuh melihat-lihat pemandangan di sekeliling rumah.

Ibu membawa baskom biru berisi air hangat. Dia membawanya ke kamar. Tapi bapak tidak ada.

Ibu meletakan baskom itu dilantai talupuh[5] di kamar.

“Pak, bapak!” ucap perempuan paruh baya yang rambutnya sudah beruban itu sambil mencari-cari bapak di luar.

Emak menemukan bapak di belakang rumah tengah memandangi sapi milik tetangga. Dia membimbing bapak dengan hati-hati.

“Mak, bapak juga pengen miara sapi lagi.”

“Ya nanti, Pak kalau bapak sudah sehat lagi. Sekarang jangan dulu, Bapak belum bisa  ke sawah. ”

Sampai di di rumah, bapak duduk di ruang tengah yang berlantai kayu. Emak  mengambil baskom tadi di kamar. Dengan telaten emak, mengurut kaki bapak dan menyiraminya dengan air hangat.

“Pak, Ibu mu ke sawah  dulu. Nanti kalo ada keperluan apa, jangan sendiri. Minta ke Titi. Dia tidak kemana-mana. Ibu sudah titip pesan ke dia”

***

Matahari menampakkan diri dengan garang. Kesombongannya membuat awan-awan menjadi segan. Panas sinarnya terasa membuat setiap makhluk terpanggang di bawah bara api. Peluh bercucuran ditubuh perempuan yang terbungkus baju dinasnya sehari-hari yang selalu penuh lumpur.

Perempuan tua  itu  duduk  pada sebuah dipan di gubuk  sederhana. Keringat panas membuat keningnya mengilat. Azan zuhur baru saja berkumandang susul  menyusul dari arah barat, timur, dan selatan. Ketika takbir azan terakhir kali dikumandangkan, perempuan ini baru saja menuntaskan sabitan rumput terakhir

Perempuan yang akrab disapa Emak oleh anak-anaknya itu sebetulnya ingin segera menunaikan shalat. Namun rasa lapar dan juga lelah menggodanya. Dalam hatinya ada semacam dialog untuk memilih apakah shalat dulu atau makan dulu. Tiap hari itu terjadi. Tapi akhirnya dia lebih memilih untuk makan dulu. Sebab dia sering teringat dari perkataan para kiai di kampungnya, bahwa dahulukan saja makan daripada ketika shalat selalu ingat membayangkan makanan karena lapar yang tertahan.

Emak mengambil  dua centong nasi yang diletakkan di atas daun pisang yang masih hijau. Siang itu dengan lahap dia menikmati makanan seadanya. Dia hanya makan dengan goreng ikan asin, sambal goang, dan daun singkong  kukus yang dibawanya dari rumah.

Pikiran memang sering melakukan aktivitas jauh lebih dahulu dibandingkan dengan anggota tubuhnya. Sama halnya dengan pikiran emak saat ini. Meskipun mulutnya membuka suapan demi suapan, gigi-giginya mengunyah perlahan, tanggannya mengummpulkan makanan untuk siap di suap. Tapi pikirannya sudah benar-benar jauh merencanakan aktivitas yang selanjutnya.

Karena cepatnya berpikir, sampai tidak terasa pikirannya pun sudah berlanjut pada berbagai persoalan yang dihadapinya di rumah.  Dia teringat pada kondisi bapak dan seluruh anaknya. Dia akhirnya sadar bahwa lamunannya bisa menghambat pekerjaannya yang belum selesai. Waktu begitu terasa singkat. Dia mengenyahkan semua pikiran yang mengganggunya dan secepatnya membereskan makan. Usai makan dia segera menunaikan kebutuhan jiwanya. Dia mengadu kepada Ilahi dalam empat rakaat shalat yang dia tunaikan di atas batu besar di pinggir pancuran. Terasa lega, sejuk dan tenang ketika dia tumpahkan semua perasaannya kepada Sang Pemilik dirinya beserta segala ujian hidup yang diberikan kepadanya.

***

Emak sudah  hampir seminggu  tidak menengok kebun cabai rawitnya. Emak mengira buahnya sudah merah. Dia berjalan menuju kebun cabainya. Kebun itu terletak di petak sawah sebelah selatan saung. Dia berjalan sambil membawa boboko[6]. Ternyata benar. Buah cabainya sudah masak. Dengan segera emak memetiknya. Dia berencana menjualnya nanti ke pasar. Uangnya nanti bisa dipakai untuk membeli lauk untuk nasi.  

Setengah jam kemudian, hasil petikannya sudah menumpuk di boboko. Diperkirakan ada dua kilo. Matahari berada di sebelah barat. Hampir mendekati waktu asar. Ada satu lagi yang belum dia lakukan. Sebelum terdengat azan asar berkumandang, dia hendak menyelesaikannya. Aktivitas itu ngarambet[7]. Dia mencoba melakukannya dengan memilih petak yang kecil supaya ketika azan berkumandang, pekerjaannya sudah selesai. Dia berpikir kalau tidak dicicil dari hari ini, mau kapan lagi, malah makin menumpuk tugasnya, dan tidak ada satu orang pun yang membantunya. Dia tidak bisa selalu mengandalkan anaknya meskipun ada salah satu anaknya yang suka membantunya. Anaknya sudah memiliki tanggung jawab dan keluarga yang sama berat seperti dirinya. Anaknya sama dengan dirinya memiliki sawah yang harus diurus.

Perkiraan emak selalu tepat. Dia memang sudah pengalaman dalam urusan ini. Azan telah berkumandang. Dan pekerjaannya kini sudah usai. Dia merasa lega karena pekerjaan-pekerjaannya hari sudah usai. Dia segera pergi ke pancuran dan menunaikan shalat di tempat yang sama saat menunaikan Dzuhur. Batu besar itu memang biasa digunakan ketika orang-orang menunaikan shalat di sawah. Ketika zikir matanya sudah mulai terasa berat. Rasa kantuk itu dia lawan karena tidak mungkin dia tidur di situ.


[1] Panggilan Emak

[2] mengantuk

[3] Bagaimana

[4] mengantuk

[5] Alas rumah panggung yang terbuat dari bambu

[6] Wadah nasi / makanan yang terbuat dari bambu

[7] Menyiangi petak sawah, membersihkan rumput-rumput yang mengganggu.

PENGGALAN DARI SEBUAH KISAH PANJANG

BERSAMBUNG….

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d blogger menyukai ini: