//
you're reading...
Berita

Kegalauan Nusantara dari Selatan di 2012

INILAH.COM, Jakarta – Indonesia memasuki 2012 dengan kesadaran akan menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini disebabkan Amerika Serikat menempatkan sedikitnya 2.500 marinir dengan peralatan perangnya di Darwin, Australia Utara, mulai tahun depan.

Presiden Barack Husein Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard sudah menegaskan kehadiran pasukan tempur itu bertujuan memberi pertolongan jika terjadi bencana alam. Sesuatu yang pernah dilakukan di Jepang dan Aceh.

AS mengirim satuan marinir dan helikopter ke Aceh setelah tsunami 25 Desember 2006. Satuan yang pernah menyerbu Irak itu, dipimpin Kolonel Tom Greenwood, membantu pembangunan infrastruktur, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Samudera India.

Publik menilai, penguatan kehadiran militer AS di Darwin mempunyai berbagai motif. Salah satu motif utama adalah penegasan bahwa Amerika Serikat tidak ingin China mendominasi Asia-Pasifik, terutama Asia Tenggara yang kaya sumber daya alam dan memiliki jalur laut yang strategis untuk perdagangan, pengangkutan Migas maupun lintas laut militer.

Bila dilihat dalam gambaran yang lebih luas, keberadaan di Darwin itu memperkokoh mata rantai kehadiran kekuatan militer AS yang membentang dari pulau Socotra di lepas pantai Yaman sampai Korea Selatan. Mata rantai ini hanya terputus di Myanmar, namun tampilnya Aung San Suu Kyi kelak akan membuka jalan bagi pengepungan langsung terhadap China.

Dapat dibayangkan betapa idealnya, jika AS diberi hak singgah atau mendirikan pangkalan di pulau Sabang, Kepulauan Natuna, Pulau Morotai atau Biak. Adapun kehadiran marinir dan pesawat tempur di kamp Robertson, Darwin juga memudahkan Washington mengamankan selat Ombai dan selat Wetar. Dua selat yang dipakai kapal-kapal permukaan maupun bawah air berlayar dari Samudera Pasifik ke Samudera India dan sebaliknya.

Indonesia galau

Indonesia sepantasnya galau dengan perkembangan di bagian selatan ini sebab memperlihatkan kecenderungan menajamnya pertarungan pengaruh China dengan AS dan sekutunya seperti Inggris, Australia dan Jepang. Indonesia bisa jadi merupakan ajang pertarungan itu, seperti yang berlangsung di masa lalu. Proxy war.

Sejarah menunjukkan, alasan AS berperang di Vietnam antara lain adalah menjaga supaya Indonesia tak jatuh ke tangan komunis. Untuk itu Amerika Serikat baru menarik diri dari Vietnam seiring dengan berdirinya Asean yang nyata-nyata anti komunis, serta menjatuhkan Presiden Soekarno.

Amerika Serikat dan Australia bukan musuh Indonesia, sebab Indonesia menganut politik luar negeri yang bebas dan aktif. Persoalannya, sejarah menunjukkan Washington tak segan memperdaya jika kepentingan nasionalnya menghendaki.

Kolonel Muammar Khadafi yang mengalami nasib buruk, sebelumnya menggulingkan Raja Idris yang pro Barat. Segera setelah berkuasa, Khadafi menyingkirkan militer AS dari bumi Libya. Barat pun dengan sabar dan tekun membuat Khadafi sebagai target.

Presiden Soekarno yang amat nasionalis juga dijatuhkan dengan cara yang logis dan sistematis. Para penggantinya menerapkan kebijaksanaan ekonomi yang sangat pro pasar tanpa memikirkan asas resiprokal. Tengoklah, apa yang terjadi di sektor perbankan .

Indonesia juga menjadi bermurah hati melepas dan mengeksploitasi aset nasional, serta terjebak dalam aspek pembiayaan pembangunan. Pembangunan tidak didasarkan kepada produktivitas tetapi utang luar negeri dan investasi asing yang diperoleh dengan syarat-syarat merugikan.

Dampaknya, Indonesia harus membayar utang pokok, cicilan plus bunga setiap tahun hingga mengecilkan porsi pembangunan yang sesungguhnya. Bandingkan dengan Korea Selatan periode Presiden Park Chung-Hee.

Amerika Serikat sekali lagi bukan musuh Indonesia, bahkan kedua negara merupakan sekutu dekat. Persoalannya, sekalipun sekutu dekat tetapi tidak senasib sepenanggungan atau sehidup semati. Washington yang menyetujui Indonesia menyerbu Timor Leste, tetapi lalu mengembargo peralatan militer termasuk suku cadang Hercules dengan dalih pelanggaran HAM. Akibatnya TNI-AU kewalahan membawa bantuan untuk korban tsunami.

Amerika Serikat juga tidak menggubris keprihatinan Indonesia atas nasib Palestina dan situasi Timur Tengah yang carut marut. Padahal ketidak pedulian itu mengundang reaksi negatif di dalam negeri hingga merepotkan pemerintah Indonesia.

Kehadiran tentara Amerika Serikat itu, 820 km dari perbatasan Indonesia, dapat pula dimaknai secara keliru oleh mereka yang ingin lepas dari NKRI. Mereka dapat menimbulkan ketidakstabilan memanfaatkan isu HAM dengan harapan bakal mendapat dukungan ‘kampiun’ HAM.

Memperkuat ketahanan nasional

Sudah wajib hukumnya jika Indonesia memperkokoh ketahanan nasional guna mempertahankan keutuhan NKRI dan jati diri bangsa. Bidang pendidikan dapat memberi kontribusi besar sebab mencegah upaya pengendalian pikiran oleh pihak asing.

Sayangnya, baru belakangan ini saja pendidikan mendapat tambahan perhatian. Sebelumnya pendidikan lebih direpotkan heboh pelajaran matematika modern, penggunaan jilbab, fasilitas yang tidak memadai, masalah ujian nasional dan masalah perbukuan.

Di balik semua itu, mata pelajaran sejarah nasional terabaikan. Peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya ataupun pemberontakan PRRI/Permesta hanya dibahas sepanjang satu atau dua paragrap saja. Akibatnya generasi muda tidak peka dengan campur tangan asing dalam masalah-masalah domestik. Padahal generasi muda mesti waspada dengan niat buruk negara lain dan kritis terhadap jargon globalisasi.

Seperti yang dikatakan Nelson Mandela “…kelakuan kaum penjajah kita maafkan tetapi tidak dilupakan. Ada kecenderungan kita memaafkan sekaligus juga melupakannya”. Padahal kepentingan nasional mereka bersifat abadi.

Sikap nasionalisme harus dipupuk dengan mengingat bahwa di dunia ini hanya ada tiga negara yang merebut kemerdekaan dengan darah dan airmata yakni Aljajair, Vietnam dan Indonesia. Dan hal itu tidak ada salahnya! Jangan samakan dengan Myanmar.

Negara lain tidak ingin Indonesia kuat sebab itu berarti mampu mengolah aset nasional menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing. Banyak cara yang dilakukan supaya Indonesia lemah. Misalnya, memberi beasiswa tetapi bukan untuk ilmu yang dapat memberi nilai tambah melainkan pada bidang politik atau ekonomi makro.

Maka tidak mengherankan jika daya saing lemah dan dari tahun ke tahun hanya mengekspor sumber daya alam. Anehnya lagi, ekspor Indonesia itu dibanggakan dan dijadikan bukti kuatnya perekonomian nasional menghadapi krisis.

Kebijaksanaan Presiden BJ Habibie dengan mengirim para pemuda untuk belajar ilmu yang aplikatif sudah tepat, persis seperti yang dilakukan Presiden Soekarno pada 1950-an. Namun sayang kebijaksanaan itu memudar seiring dengan turunnya BJ Habibie dari panggung politik.

Pada akhirnya jangan heran bila Indonesia lemah di berbagai aspek. Padahal kondisi obyektif memerlukan Indonesia yang kuat. Dalam kondisi seperti inilah, Indonesia memasuki 2012. [mdr]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1800753/kegalauan-nusantara-dari-selatan-di-2012
 

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

November 2011
S S R K J S M
    Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d blogger menyukai ini: