//
you're reading...
Biarkan Emak Tersenyum, Cerita

BIARKAN EMAK TERSENYUM (2)

# 2

APAKAH MASIH ADA HARAPAN?

 

“Mak, tiap malam Bapak sudah tidak bisa tidur. Urat-urat terasa sakit dan tulang-tulang terasa remuk. Bapak merasa seperti inikah ‘pelayaran’ saat sakaratul maut,” ucap bapak seraya menatap mata Ibu. Bapak duduk di kursi yang reyot.

Sementara Emak duduk di lantai papan. Dia diam saja. Kepalanya menunduk, tidak membalas tatapan bapak. Sebetulnya hatinya begitu remuk. Dia membayangkan bagaimana seandainya bapak tidak ada. Dia akan hidup sendiri. Padahal selama puluhan tahun dia hidup bersama bapak. Dia masih berharap bapak masih bisa sembuh, bisa berjalan normal, pergi ke sawah seperti dahulu.

“Jika bapak meninggal lebih dulu, bapak titip anak-anak. Si bungsu dan si pangais bungsu[1] jangan sampai kuliah mereka terputus di tengah jalan. Bapak percaya pada emak karena selama ini bapak hanya bisa mencangkul. Urusan biaya kuliah mereka selalu emak yang pintar mengaturnya.”

“Sudah, sudah Pak jangan bicara seperti itu. Azal itu Rahasia Allah. Bisa saja Emak yang sehat yang lebih dulu dipanggil…” ungkap emak. “Suatu saat Bapak insya Allah akan sehat lagi. Nanti kalau ada rezeki, kita akan berobat ke rumah sakit di Bandung seperti yang disarankan rumah sakit di Sumedang.”

“Iya Bapak juga tahu itu. Jodo, pati, bagja, cilaka[2], jadi rahasia Gusti Allah. Kalau saja bisa memohon kepada Gusti Allah, Bapak lebih baik duluan daripada Emak. Kalau Emak duluan Bapak bingung tidak bisa mengurus anak-anak, tidak bisa mengurus mereka sampai tuntas kuliah.,” gumam Bapak. Emak diam saja.

“Emak, bapak masih tidak tenang jika mati melihat kondisi anak-anak yang  masih seperti ini. Tidak ada yang  bisa diandalkan satu pun.”

“Pak, sudahlah jangan cemaskan terus mereka. Mereka sudah dewasa. Sudah bisa menyelesaikan masalah sendiri dan memutuskan sesuatu yang menurut mereka paling baik.”

“Ah dewasa bagaimana, Mak? Lihat si Titi, rumah tangga tidak kunjung terlihat bahagia. Malah terus jadi guncingan orang. Bapak kira pernikahannya yang ketiga ini akan bahagia, tapi eh malah memperbanyak masalah baru yang rumit untuk dipecahkan.”

Pandangan mata Bapak menerawang ke langit-langit yang beratap bilik bambu. Tatapannya hampa.

“Si Yati kelihatan masih susah hidupnya. Baru anak tiga sudah kelihatan tua. Anaknya yang ke satu harusnya dipaksa untuk melanjutkan sekolah, tapi nyatanya tidak. Malah diam saja di rumah ngurus dua adiknya yang nakal-nakal. Bapak menyayangkan mengapa di saat yang seharusnya bapaknya usahanya maju malah memutuskan untuk tidak berangkat lagi ke Jakarta. Kalau dulu masih belum punya anak dan masih ke Jakarta rumah tangga mereka terlihat berkecukupan.”

Emak masih tetap diam menunduk. Dia sesekali meluruskan kerudung ciputnya untuk menutupi rambutnya yang beruban. Dalam hati dia memang mengakui kebenaran yang dikatakan suaminya.

“Ipul sudah dua kali kawin, Mak. Istri pertama tidak menghargai suami dan tidak menyayangi keluarga suami. Karena iri melihat kekayaan orang lain, dia nekat ke Malaysia. Ingin duit banyak tapi malah dapat musibah dan tersesat di Aprikot Selatan ketika dibawa majikannya.”

“Bukan Aprikot, Pak,” potong Emak, “Afrika, Pak, pake huruf ‘f’ atawa huruf ‘fa’kalau huruf Arab.”

“Iya, salah ngomong, Mak. Afrika Selatan. Dia Pulang ke Indonesia dalam kondisi sakit berat. Suka ketawa dan nangis sendiri. Dia menuding suami selingkuh padahal sesungguhnya mana ada suami yang telaten mengurus anak seperti dia. Sekarang nikah lagi, tapi istri sekarang kurang perhatian padanya. Kurang telaten. Masih kekanak-kanakan dan suka iri pada anak tiri. Usahanya dari dulu belum ada perubahan. Sampai kapan dia berdagang  siomay terus di Jakarta. Apakah dia tidak merencanakan masa depan untuk merubah nasib agar menjadi lebih baik?”

Bapak memilin tembakau dan kertas. Dia menyalakan korek api. Tidak lama kemudian ruangan penuh sesak dengan asap yang melambung ke langit-langit.

“Entah kapan bisa ketemu dengan Si Udin ya, Mak? Dia laki-laki yang berani. Waktu kecil dia sangat bandel. Kini dia  paling jauh dari kita. Dia di daerah seberang, Belitong. Dia mengikuti daerah asal istrinya. Semoga saja dia tidak kekurangan  apa-apa di sana, Mak. Tapi bapak tidak bisa membohongi diri sendiri, Mak. Bapak ingin merasakan uang hasil keringatnya, hasil kerjanya. Apakah hasil kerjanya hanya cukup untuk dirinya, anak dan istrinya, tidak bisa menyisakan sedikit untuk kita di sini? Bertahun-tahun dia di seberang, tapi tidak pernah ada kiriman sedikit pun untuk orangtua. Apa dia sudah lupa pada orangtua?”

“Pak, kita doakan saja kebaikan untuk dia. Barangkali dia belum mampu ngirim buat orangtua. Dapat kabar sehat saja sudah alhmadulillah. Eh, Pak, Si Sarah, Anak si Udin  katanya pintar seperti mamang-nya. Dia pintar seperti Iman. Rangking satu terus di kelasnya.”

“Semoga saja dia bisa mengubah nasib keluarga. Tidak bandel seperti bapaknya. Bapaknya dulu bandel. Disuruh ngaji  malah salah gaul. Malah nenggak arak.”

“Mana anak kita yang mau mengubah kondisi keluarga ini, Mak? Si Eti bapak liat masih prihatin, Mak. Bapak sangat sayang dan kasihan padanya. Dia sangat perhatian pada orangtua. Dia rela menghutang untuk sekadar menjajani orang tua. Tak hanya pada orangtua. Dia juga membantu biaya kuliah si Iman waktu dia jadi babu di Malaysia. Sayang, kenapa nasib baik belum berpihak padanya. Dia mendapatkan suami yang tidak benar, doyan judi dan tidak perhatian pada keluarga. Karena suaminya yang tidak ulet bekerja, dia harus berangka ke Malaysia selama dua tahun. Pulang dari sana masih tetap di Jakarta bekerja jadi tukang cuci dan setrika.  Kasihan, padahal anak-anaknya masih kecil.”

“Si Iman, Mak. Kasihan dia. Dia orangnya punya cita-cita tinggi. Tapi kita tidak bisa banyak berbuat. Bapak tahu selama dia kuliah di Bandung dia banyak kekurangan. Tiap malam bapak mendoakan dia semoga walaupun dikasih uang dari emak seadanya. Mudah-mudah segala cita-citanya tercapai. Dia tidak seperti orang lain yang tinggal kosan dengan biaya sewa yang mahal. Dia anak yang tahu diri sehingga dia rela tinggal di masjid dan tidak merasa gengsi. Dia harapan kita untuk keluarga lebih baik ke depan. Ya, Mak dia harapan kita.”

Bapak menghela nafas. Wajahnya sedikit sumbringah ketika menceritakan kedua anaknya yang terakhir. Emak menyambutnya dengan semburat senyuman yang tertahan.

“Dan satu lagi harapan kita si bungsu.  Asih sama dengan kakaknya. Untuk bisa kuliah mereka belajar mandiri. Dia rajin jualan segala macam untuk bisa mendapatkan uang tambahan.”

Emak akhirnya berbicara, “Emak sangat berharap kedua anak ini punya keberuntungan yang  lebih. Jangan seperti kakak-kakaknya. Semoga ilmu yang ditekuni keduanya bermanfaat dan jadi bekal untuk mereka di dunia-akhirat. Bisa mengangkat derajat orang tua dan saudara-saudaranya. Jangan pula seperti kakak-kakaknya rumah tangganya penuh masalah. Emak yakin mereka akan dapat jodoh yang baik segalanya, baik dunia dan akhiratnya.”

Bapak mengamininya. Sudut matanya tak kuat membendung air mata. Hidungnya mulai terasa sengau. Dia tak mampu berkata-kata lagi.

***

Ritual emak tiap pagi adalah membasuh kaki bapak dengan air hangat dicampur lebu[3], sering disebut air lebu. Cara sederhana ini dipercaya bisa membantu memulihkan segala penyakit, termasuk kaki bapak yang belum bisa jalan.

Bapak mengalam musibah ini sudah lebih dari sebulan. Waktu itu bapak sedang memanjat pohon enau di pinggir sungai. Dia hendak memasang lodong untuk menampung air lahang[4]. Ketika dia turun tiba-tiba kaki kanannya terpeleset karena pohon enau licin dan dipenuhi tumbuhan lumut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dia pun terjatuh ke sungai yang penuh dengan batu-batu runcing. Dia jatuh ke dari pohon enau itu sejauh kurang lebih dua meter. Parahnya ketika dia jatuh, posisi kepala berada di bawah dan mengenai batu runcing.

Ketika kepala sudah terbentur batu runcing itu dia menjadi begitu sangat pusing. Untuk bisa bangkit dari sungai, dia sudah kehilangan tenaga. Dia berteriak-teriak minta tolong, tetapi tak ada satu orang pun yang lewat sungai itu. Dia minta tolong sampai suaranya parau dan benar-benar habis. Lama sekali tubuhnya tenggelam di air, sehingga dia mulai menggigil. Kepalanya pun terus menerus mengucurkan darah.

Mulutnya tak mampu lagi berteriak. Tenaganya sudah habis. Pandangannya mulai kabur. Pemandangan terlihat mulai abu. Lama-lama menjadi gelap. Bapak pingsan tak sadarkan diri. Bapak ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri oleh Mak Atang, salah seorang tetangganya yang mau pulang dari sawah.

Mak Atang tidak kuat mengangkat bapak sendirian. Dia mencari bantuan tetangganya yang laki-laki. Dia pulang ke rumah untuk mencari bantuan. Beberapa lelaki tetangganyalah yang mengangkat bapak hingga sampai di rumah. Bapak dibopong masih dalam keadaaan pingsan.

Sampai di rumah, bapak langsung dibawa ke sebuah klinik di daerah Wado, Sumedang. Kepalanya yang bocok dijahit lima jahitan. Tubuhnya yang masih kaku dipijat ke tukang pijat yang biasa suka di suruh di kampung.

“Pak, kalau mau makan, nasi sudah matang Pak,”

“Nanti saja, tidak nafsu, Mak. Kalau makannya dengan Ikan Pindang bapak mau, Mak.”

“Ikan Pindangnya besok aja Pak, nanti emak metik cabai dulu buat dijual. Kalau belum nafsu juga harus dipaksakan, Pak. Biar cepat sehat. Sudah siang, Pak. Ibu mau ke sawah.”

“Bu seandainya bapak dalam jangka sebulan belum pulih juga, bapak tidak tega melihat Ibu bekerja sendirian. Lebih baik musim tanam bulan depan sawah diolah sama orang lain aja. Biar kita bayar mereka.”

“Tidak apa-apa, Pak. Selama ini Ibu masih bisa ngurus sendiri. Mencangkul juga jika sepetak dua petak kecil ibu masih bisa. Nanti saja petak-petak yang agak lebar biar ibu bayar orang buat mencangkul. Kalau buat tandur[5] tidak perlu bayar orang, biasanya Yeti suka membantu.”

“Iya bapak tahu. Tapi bapak pesen jangan terlalu cape, Mak. Nanti kalau semuanya sakit, bagaimana dengan sekolah Iman dan si Bungsu. Lihat, Emak makin kurus saja. Kalau dulu emak badannya sedeng, tapi sekarang makin tua dan makin kurus.”

“Haha… bapak ada-ada saja. Memang umur manusia makin  hari makin tua, tidak ada ceritanya yang makin muda. Itu Tandanya dunia ini memang fana dan sementara.”

“Kalau orang lain, biasanya makin tua, tambah gemuk.”

“Gemuk juga kalau banyak penyakit repot, Pak. Kalau meninggal berat nanti orang-orang yang memanggul kita.”

Ibu berangkat. Ekor mata bapak melihat sosok emak dari kaca rumah. Dia perhatikan punggung emak yang makin menjauhinya. Punggung itu ringkuh dengan gendongan perbekalan dan segala macam. Ada rasa prihatin yang tersisa di hati bapak.

Dia membayangkan betapa repot istrinya ketika dulu dia berjualan sekaligus membantu pekerjaannya di sawah. Dulu dia sering marah ketika istrinya mengabaikan pekerjaan di sawah karena terlalu disibukkan dengan urusan berjualan. Dia baru paham sekarang, pekerjaan seorang istri ternyata sama beratnya, bahkan jauh lebih berat dan rumit.

Ketika Emak berhenti berjualan karena modal habis dan hutang-hutang menumpuk di luar, bapak merasa beryukur karena istrinya kini tidak memiliki pekerjaan ganda. Namun di sisi lain, ini kerugian bagi kondisi ekonomi keluarga. Dengan tidak berjualan, penghasilan hanya mengandalkan dari hasil tani yang tidak seberapa. Apalagi untuk membiayai sekolah kedua anaknya, emak dan bapak telah menggadaikan beberapa petak sawah yang dimilikinya. Namun tidak sedikit tetangganya banyak yang memuji emak dan bapak. Punya sawah yang tidak luas, tapi mampu menguliahkan anak.


[1]  Anak yang urutannya paling dekat dengan anak bungsu

[2] Jodoh, mati, bahagia, dan celaka

[3] Serbuk-serbuk sisa pembakaran kayu pada tungku

[4] Cairan yang keluar dari pohon enau untuk bahan baku membuat gula merah

[5] Tanam benih padi di petak sawah yang sudah dicangkul.

About JAHAR

Reunited World Muslim

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MY FB

Arsip

MY TWEET

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: